BerandaHits
Sabtu, 30 Jan 2026 17:49

Lawan Arah Bukan Sekadar Melanggar Aturan, Tapi Soal Pola Pikir

Masih banyak pengendara yang melanggar lalu lintas. (Antara)

Masih sering lihat orang lawan arah? Pakar safety riding sebut kebiasaan ini adalah cerminan pola pikir yang nggak peduli nyawa. Yuk, ubah kebiasaan buruk ini demi keselamatan bersama!

Inibaru.id - Jarak dekat atau terburu-buru kerap jadi alasan klasik para pelanggar lawan arah. Padahal, kebiasaan ini mencerminkan kalau keselamatan masih jadi prioritas kesekian bagi sebagian pengendara di Indonesia.

Head of Safety Riding PT Wahana Makmur Sejati, Agus Sani, menyebut fenomena ini sebagai bukti masih rendahnya kesadaran berkendara. Menurutnya, melawan arah itu bukan cuma soal melanggar marka atau rambu, tapi menunjukkan kalau pola pikir si pengendara memang belum menempatkan nyawa sebagai prioritas utama.

Saat Pelanggaran Dianggap "Normal"

Pelanggaran kerap dianggap wajar. (MI)

Agus menjelaskan kalau budaya berkendara yang salah ini terbentuk karena kita sering melihat orang lain melakukan pelanggaran tanpa rasa bersalah. Begitu satu orang lawan arah dan nggak kena sanksi, yang lain biasanya langsung ikutan ngekor.

"Ini yang bahaya. Pelanggaran jadi dianggap normal, padahal risikonya tinggi banget, terutama potensi tabrakan frontal yang bisa berakibat fatal," ujar Agus kepada Kompas.com.

Tegasnya hukum memang penting, tapi menurut Agus, tilang saja nggak akan cukup kalau nggak dibarengi edukasi. Jalan raya itu ruang bersama, jadi butuh tanggung jawab bareng-bareng buat menjaganya tetap aman.

Agus juga menyoroti peran perusahaan. Edukasi safety riding buat karyawan yang tiap hari berangkat kerja pakai motor atau mobil bisa jadi langkah strategis buat menekan angka pelanggaran. Intinya, alasan "buru-buru" nggak boleh jadi pembenaran buat mempertaruhkan nyawa orang lain.

Ingat Gez, lebih baik telat beberapa menit karena tertib, daripada 'cepat' sampai tapi tujuannya ke rumah sakit.

Yuk, mulai sekarang ubah pola pikir kita. Tertib lalu lintas itu bukan karena takut polisi, tapi karena kita peduli sama nyawa sendiri dan orang lain. Setuju nggak? (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: