BerandaHits
Sabtu, 8 Apr 2022 15:28

Babak Baru RUU TPKS; Siap Disahkan Tanpa Persetujuan PKS

RUU TPKS bakal dibawa ke paripurna DPR RI. (mommiesdaily.com)

RUU TPKS disetujui pemerintah dan DPR untuk masuk dalam paripurna untuk kemudian disahkan. Namun, satu fraksi, yakni Fraksi PKS menolaknya. Apa alasannya ya?

Inibaru.id – Badan Legislatif Dewan Pewakilan Rakyat (Baleg DPR RI) dan pemerintah menyetujui Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) bakal dibawa ke paripurna DPR RI untuk disahkan. Hal ini diungkap saat rapat pleno yang diadakan di Gedung DPR-MPR pada Rabu (6/4/2022).

Dari seluruh fraksi yang ada di DPR, delapan fraksi atau mayoritas menyetujui keputusan ini. Hanya satu fraksi yang nggak menyetujuinya, yakni Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

“Kami Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Menolak RUU tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual untuk disahkan menjadi undang-undang dan dilanjutkan ke tahap berikutnya sesuai peraturan perundang-undangan sebelum didahului adanya pengesahan RKUHP,” ujar Ketua DPP PKS Al Muzzammil Yusuf di hari yang sama.

Sementara itu, bagi sejumlah fraksi yang mendukung seperti Fraksi PDIP, RUU TPKS nantinya bisa jadi payung hukum yang melindungi sekaligus memberikan keadilan bagi para korban kekerasan seksual.

“Diharapkan dapat memenuhi pemenuhan hukum serta perkembangan masyarakat saat ini,” ujar Anggota Baleg dari Fraksi PDIP My Esti Wijayanti.

Dikritik Sejumlah Pihak

Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah Tardi menjelaskan tentang sejumlah elemen kunci dalam RUU TPKS, yakni pengaturan tindak pidana kekerasan seksual, sanksi serta tindakan yang diberikan kepada pelaku kekerasan seksual, hingga hukum acara pidana khusus. Nah, elemen yang terakhir ini mengatur restitusi, penyidikan, penuntutan, pemeriksaan pengadilan hingga seperti apa nantinya putusan dilaksanakan.

Hal lain yang diatur adalah sistem yang nantinya bisa memenuhi hak korban, bagaimana mencegah kekerasan seksual, serta peran serta masyarakat dalam mencegah atau mengatasi hal ini. Selain itu, RUU TPKS juga mengatur tentang kekerasan seksual berbasis elektronik, lo.

Pembahasan RUU TPKS oleh DPR. (Kompas/Kristian Erdianto)

Sayangnya, Siti Aminah masih menganggap ada hal yang belum terakomodir.

“Elemen kunci yang belum sepenuhnya terakomodir adalah pada tindak pidana kekerasan seksual yaitu tidak diaturnya pemaksaan hubungan seksual dan pemaksaan aborsi. Yang dijanjikan oleh pemerintah akan diatur dalam RKUHP,” terangnya, Kamis (7/4).

Soal ini, DPR dan pemerintah beralasan kalau pengaturan perkosaan nggak dimasukkan dulu dalam RUU TPKS karena bakal diatur dalam RKUHP dan akan dibahas pada Juni 2022. Hal ini pun mendapatkan sorotan dari Direktur Eksekutif LBH Apik Jakarta Siti Mazuma.

“Kami harapkan di KUHP tidak mempersempit unsur, alasan, bukti, sampai dengan hukum acara, sehingga korbannya tidak lagi sengsara. Pembuktian sendiri, kemudian harus membuktikan dirinya korban perkosaan dan berbagai macam lagi alasan-alasan lainnya yang harus dibuktikan bahwa dia adalah korban,” kata Mazuma.

Dia juga menyoroti soal pengaturan aborsi. Soalnya, banyak korban perkosaan yang hamil nggak menginginkan kandungannya dan akhirnya harus menjalani aborsi ilegal. Nah, hal ini bisa menggiring mereka jadi pelaku kriminal karena membunuh bayinya. Baginya, aborsi seharusnya jadi hak perempuan.

“Kami berharap sih itu tidak dijadikan sebuah tawaran politik, karena ini menyangkut nasib korban. Pemerintah dan DPR harus benar-benar memperhatikan hak-hak korban kekerasan seksual yang selama ini diabaikan negara,” pungkas Mazuma.

Meskipun masih jauh dari sempurna, kemajuan pembahasan RUU TPKS ini adalah kabar baik, ya Millens. Semoga bisa memberikan perlindungan di masa depan. (Asumsi,Det,Rep/IB09/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: