BerandaAdventurial
Kamis, 20 Agu 2025 15:01

Menikmati Langit Senja Berhias Layang-Layang di Area Persawahan Desa Tigajuru Jepara

Beragam layang-layang diterbangkan di area persawahan yang mengering di Desa Tigajuru ini. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Puncak musim kemarau berangin kencang menjadi waktu terbaik untuk menerbangkan layang-layang di Desa Tigajuru. Sawah yang mengering menjadi area yang ideal untuk memainkan permainan tradisional yang menghadirkan suasana penuh nostalgia ini.

Inibaru.id - Angin yang berembus kencang pada cuaca terik bulan Agustus nggak hanya menandai datangnya puncak musim kemarau, tapi juga musim layang-layang. Di tanah-tanah lapang atau area yang cukup luas, nggak sulit menemukan orang-orang yang menarik-ulur kenur untuk menerbangkan layang-layang.

Di Desa Tigajuru, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, bermain layang-layang nggak hanya dilakukan di tanah lapang, tapi juga area persawahan pascapanen yang mengering. Di desa ini, musim panen biasanya memang telah selesai paling lambat pada awal Agustus.

Jarum pendek baru menunjuk angka lima ketika saya tiba di tempat tersebut pada pertengahan Agustus lalu. Sore itu, saya sengaja nggak langsung pulang selepas kerja untuk jalan sore sembari menikmati sisa senja di tengah sawah dan menyaksikan keseruan orang-orang bermain layang-layang di sana.

Beberapa titik di sekitar area persawahan sudah ramai ketika saya tiba. Orang-orang terlihat berkerumun dari kejauhan. Saya pun segera menyusuri jalan setapak yang hanya bisa dilalui sepeda motor untuk bergabung dengan kerumunan tersebut.

Mirip Pasar Tiban

Karena menjadi area bermain layang-layang, area persawahan di Tigajuru pada sore hari menjadi ramai penjual yang membuka lapak dadakan. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Saya agak kaget begitu berhasil mendekat, karena area ini sudah mirip pasar tiban saat car free day (CFD) lengkap dengan para penjual mainan dan street food-nya yang berderet. Mereka membuka lapak di sela-sela kendaraan yang terparkir di sisi jalan, sepelemparan batu dari area persawahan.

Sebagian pengunjung, biasanya keluarga kecil, memilih duduk di atas jok motor saja di parkiran dadakan tersebut untuk melihat layang-layang yang terbang dari kejauhan. Namun, banyak juga yang berusaha mendekat. Nah, saya termasuk kelompok yang terakhir ini.

Pada puncak musim kemarau yang umumnya jatuh pada Agustus, area persawahan ini memang acap nggak mendapatkan suplai air. Tanahnya mengeras, sehingga petani nggak bisa bertani musim penghujan tiba. Sementara bagi anak-anak, inilah waktu yang tepat untuk bermain di ladang, termasuk main layang-layang.

Bermain layang-layang di tempat ini telah menjadi kebiasaan masyarakat pada musim kemarau. Tego Listiono, salah seorang warga setempat mengungkapkan, aktivitas itu sudah dilakukan sejak dirinya masih kanak-kanak. Saat sudah berkeluarga, dia juga memperkenalkan kebiasaan itu kepada buah hatinya.

Lebih Ramah Anak

Seorang ayah dan anaknya sedang membeli layang-layang. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Tego yang saat saya temui tengah mengajari anaknya, Al Fath, menerbangkan layang-layang di area tersebut mengatakan, bermain di area persawahan lebih aman ketimbang buah hatinya bermain di sekitar rumah. Hal tersebut langsung dibenarkan Al Fath.

"Rumah saya masuk gang, jadi lebih enak di sini," tutur bocah 10 tahun tersebut. "Kalau (main layang-layang) di dekat rumah bahaya karena benangnya bisa nyangkut dahan pohon atau tiang listrik."

Area terbuka seperti persawahan, menurut Al Fath, membuatnya lebih leluasa membuat manuver saat menerbangkan layang-layang. Dia nggak perlu khawatir tersangkut kabel listrik atau pepohonan. Ini pulalah yang diajarkan oleh ayahnya.

"Banyak yang datang ke sini juga. Seru dan lebih enak menerbangkan layang-layang di sini," tuturnya yang mengaku sangat menikmati permainan yang mengandalkan kekuatan angin tersebut.

Ditemani Keluarga

Para penerbang layang-layang acap didampingi keluarganya di area persawahan ini. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Seperti Al Fath, sebagian anak yang datang untuk bermain layang-layang di area persawahan ini biasanya nggak sendirian, tapi bersama ayah, ibu, atau anggota keluarga lain. Selain layang-layang, mereka juga sekaligus ingin menikmati suasana sore di tempat itu.

Berdasarkan pengamatan saya, nggak semua penerbang di persawahan ini sudah lihai memainkan layang-layang. Ada yang baru kali pertama memainkannya atau seperti Al Fath yang sedang diajari oleh orang tuanya yang semasa kecil pernah memainkannya.

“Saya ajari (Al Fath) karena anak-anak kan belum bisa. Mereka cuma tahu pas layang-layang sudah di langit," tutur Tego sembari meminta anaknya membentangkan layang-layang melawan arah embusan angin sementara dirinya bersiap menarik kenur (benang) dari kejauhan begitu angin kencang datang.

Dia mengaku senang melihat buah hatinya kegirangan saat berhasil menerbangkan layang-layang dengan sempurna di tempat tersebut. Dengan bermain layang-layang, dia mengungkapkan, selain bernostalgia, menurutnya cara ini bagus untuk sejenak menjauhkan anak dari gawai yang mulai sulit dijauhkan.

Menjadi Sarana Bernostalgia

Menerbangkan layang-layang di area persawahan ini menjadi nostalgia bagi sebagian warga. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Nggak hanya menjadi hiburan untuk anaknya, Tego juga merasa tempat ini menghiburnya. Berada di antara para penerbang layang-layang membuatnya teringat pada masa kecil saat dia dan kawan-kawannya seru-seruan bermain hingga petang.

"Kalau ada layang-layang pasti ada pedotan (adu sangkut benang layang-layang saat diterbangkan hingga putus)," kenangnya, lalu tersenyum, sebelum mengakhiri obrolan kami.

Sebagai warga setempat, area persawahan di Desa Tigajuru ini juga menjadi tempat saya bernostalgia karena waktu kecil saya kerap jalan santai pada pagi hari di sini. Saya ingat pohon beringin raksasa yang dianggap mistis di sini atau hamparan hijau persawahan yang dulu jauh lebih luas dari sekarang.

Oya, dulu tempat ini nggak ramai. Namun, sejak jalan setapak di sini dibeton, banyak pengendara menjadikannya sebagai jalur alternatif. Orang-orang pun mulai mengenalnya, lalu datang untuk menikmati sunrise berlatar Gunung Muria atau berolahraga pada akhir pekan di sini.

Jika kamu mencari alternatif untuk sejenak menjeda hari yang padat di Jepara dengan senja yang santai berpayung langit yang dipenuhi layang-layang, nggak ada salahnya menyambangi area persawahan di Desa Tigajuru ini, Gez! (Alfia Ainun Nikmah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Lezatnya Mi Ayam Ceker Pak Kawit yang Melegenda di Pusat Kota Semarang

16 Jan 2026

Rupiah Masuk Daftar 5 Besar Mata Uang Terlemah di Dunia

16 Jan 2026

Kembali Didera Banjir, Warga Desa Wonorejo Memilih Bertahan di Rumah

16 Jan 2026

Bertahan dalam Banjir; dari Alasan Merawat Ternak hingga Menjaga Anggota Keluarga

16 Jan 2026

Yuk, Intip Tradisi Leluhur 'Nabung' Air Hujan yang Mulai Terlupakan

16 Jan 2026

Jateng Nol Desa Sangat Tertinggal, Kini Ribuan Berstatus Mandiri dan Maju!

16 Jan 2026

Viral Buku 'Broken Strings, Begini Tanggapan Orang Tua yang Memiliki Anak Remaja

17 Jan 2026

Lebih dari Merajut Kerukunan, Tradisi Nyadran Perdamaian di Temanggung Digelar Demi Menjaga Alam

17 Jan 2026

Perselingkuhan dan Judol, Pemicu Ribuan Istri Gugat Cerai Suami di Semarang

17 Jan 2026

Perbarui Eksonim, Indonesia Revisi Penulisan Nama Sejumlah Negara Asing

17 Jan 2026

Begini Pola Pelaku Child Grooming di DIY Menguasai Korbannya

17 Jan 2026

Menyisir Jejak Pangeran Samudra, Bangsawan Majapahit yang Abadi di Puncak Kemukus

17 Jan 2026

Trik Menyimpan Pisang Biar Nggak Cepat Membusuk

18 Jan 2026

Enak dan Mengenyangkan, Begini Cerita Warung Pecel dan Brongkos Mbok Teguh Pakis, Magelang

18 Jan 2026

Ratusan Ribu Keluarga Belum Punya Rumah, Apa Rencana Pemkot Semarang?

18 Jan 2026

Ketika Wayang Klithik Menolak jadi 'Artefak' Budaya

18 Jan 2026

Gawat! Dijajah Spesies Asing, Jumlah Serangga Lokal Anjlok

18 Jan 2026

Parenting Tipe C, Gaya Asuh Fleksibel yang Bikin Anak dan Orang Tua Lebih Bahagia

18 Jan 2026

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: