BerandaAdventurial
Selasa, 1 Sep 2025 15:00

Memberi 'Nyawa' pada Bangunan Tua yang Terserak di Sudut Kota bersama Mlaku Magelang

Candra Gustava Wardana, atau akrab disapa Gus Wista pendiri komunitas Mlaku Magelang dan juga sebagai storyteller (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Bangunan tua hanyalah benda tanpa narasi yang melatari dan orang-orang yang menceritakannya. Karena alasan inilah Mlaku Magelang muncul, menawarkan kisah sejarah yang diceritakan sembari menelusuri bukti-buktinya yang terserak di sudut kota.

Inibaru.id — Pagi itu, udara Magelang terasa sejuk. Saya bergabung dengan puluhan orang lain di titik kumpul yang telah ditentukan. Dari wajah-wajah mereka, tampak jelas antusiasme untuk menapaki lorong-lorong sejarah salah satu kota tertua di Indonesia tersebut.

Inilah pengalaman saya mengikuti walking tour bersama Mlaku Magelang, sebuah komunitas yang mengajak masyarakat lebih dekat dengan sejarah dan budaya lokal melalui berjalan kaki. Komunitas ini didirikan pada 2022 oleh Candra Gustava Wardana, yang akrab disapa Gus Wista.

Dengan latar belakang kecintaannya pada sejarah dan dunia pariwisata, Gus Wista ingin menawarkan cara sederhana namun bermakna untuk mengenalkan Magelang: berjalan kaki sambil mendengar cerita; karena menurutnya, tiap hal yang kita temui selalu punya cerita sendiri-sendiri.

“Saya mendirikan Mlaku Magelang untuk menemani teman-teman yang ingin mengenal sejarah kota ini lewat berjalan kaki,” ujarnya di sela-sela tur, "karena bangunan tua, jalan, atau ruang publik di Magelang ini bukan sekadar benda mati, melainkan 'ruang cerita' yang menyimpan lapisan peristiwa dan makna."

Gus Wista sedang menjelaskan kepada peserta tentang sosok berpengaruh di Magalang waktu itu. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Sejak berdiri, Mlaku Magelang rutin menggelar walking tour dengan tema beragam. Mulai dari kisah kolonial, perdagangan cerutu, arsitektur, hingga pluralitas kehidupan kota. Bahkan, tur juga disediakan dalam bahasa Inggris untuk menjangkau wisatawan mancanegara.

Salah satu kegiatan terbaru berlangsung pada awal Agustus lalu bertajuk Cerita Kudus Tuwa Melanglang Magelang; menjadi kolaborasi napak tilas antara pegiat sejarah Kudus dengan Magelang, yang diwakili Mlaku Magelang.

Rangkaian tur dimulai pukul 08.00 WIB di Museum BPK RI. Peserta disambut hangat dengan welcome drink sebelum diajak menyusuri kisah lahirnya lembaga keuangan negara. Dari museum tersebut, perjalanan berlanjut ke bangunan penting di kompleks bekas Karesidenan Kedu.

Untuk yang belum tahu, Karesidenan Kedu merupakan satuan administrasi pada masa pemerintahan kolonialisme Hindia-Belanda yang wilayahnya kira-kira meliputi Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Temanggung, Purworejo, Wonosobo, dan Kebumen.

Foto sebagai alat peraga yang digunakan Gus Wista untuk menjelaskan sejarah Magelang. (inibaru.id/Imam Khanafi)

Selain jejak bangunan kompleks karesidenan yang mulai dibubarkan sekitar dekade 1950-an itu, kami juga menyusuri bekas gedung UGM cabang Magelang, kemudian dilanjutkan ke bangunan yang dulu berdiri lembaga sosial peninggalan Belanda, Panti Asuhan Johannes van der Steur, sekitar pukul 10.15 WIB.

Setelah 30 menit mendengarkan cerita kemanusiaan yang melatari bangunan tersebut, rombongan kembali bergerak menelusuri simbol pluralitas kota ini seperti eks Bioscoop Alhambra, Gedung Gemeenteraad, Kantor Dukcapil, Gereja Santo Ignatius, Gereja GPIB Beth-El, Taman Aloon-Aloon & Watertoren, Lokabudaya Soekimin Adiwiratmoko, hingga Masjid Agung Magelang.

Tepat pada jam makan siang, kami singgah di warung legendaris di Magelang yakni Sop Senerek Bu Atmo. Selepas itu, perjalanan dilanjutkan ke Makam Johannes van der Steur, lalu ke toko oleh-oleh khas Magelang. Kurang lebih pukul 14.00, rombongan kembali ke Kudus, menutup perjalanan penuh cerita hari itu.

Yang membuat Mlaku Magelang istimewa bukan hanya daftar destinasi yang dikunjungi, melainkan cara Gus Wista merangkai kisah. Ia piawai menghidupkan kembali fragmen masa lalu—tentang perdagangan cerutu yang pernah jaya, tentang arsitektur kolonial yang anggun, hingga tentang pluralitas yang tercermin dari rumah ibadah berbagai agama.

Gus Wista melangkah di lokasi yang dulu adalag UGM cabang Magelan. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Nggak hanya dari Magelang dan Kudus, tur ini juga diminati para peserta dari Yogyakarta, Surabaya, hingga Jakarta. Bahkan, beberapa kali mahasiswa asing ikut serta, menjadikan tur ini sebagai ruang perjumpaan lintas budaya.

Meski tantangan seperti mendung atau hujan deras kadang menghentikan langkah, semangat Mlaku Magelang nggak ikut meredup. “Magelang punya terlalu banyak cerita untuk dibiarkan hilang begitu saja,” kata Gus Wista seusai tur, lalu tertawa.

Bagi saya, berjalan kaki mengikuti tur Mlaku Magelang seperti perjalanan merajut kembali hubungan dengan kota; menyingkap lapis-lapis sejarah di sudut sempit atau bongkahan bangunan yang sering luput dari perhatian. Kisah-kisah di balik kepingan sejarah itu menjadikan Magelang bukan hanya kota, tapi kehidupan.

Mlaku Magelang berhasil membuktikan bahwa kota bukan hanya ruang untuk ditinggali, melainkan juga ruang yang menyimpan estetika, sejarah, dan identitas bersama. Namun, tentu saja butuh kejelian seperti komunitas ini untuk menarasikan ceritanya. (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: