Inibaru.id - Ribuan orang memadati area di depan panggung utama Lapangan Sepak Bola Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara pada Minggu (1/2/2026). Meski gerimis dan udara dingin menyelimuti lokasi, semangat mereka tampak nggak padam.
Meski harus menunggu untuk waktu yang cukup lama, sembari mengenakan jas hujan atau berlindung di balik payung, mereka setia menantikan dimulainya sendratari Ratu Kalinyamat, pergelaran seni yang menjadi bagian penting dalam Pesta Baratan.
Untuk yang belum tahu, Ratu Kalinyamat adalah sosok penguasa yang memiliki peran penting dalam kejayaan Jepara pada pertengahan abad ke-16. Sendratari dimulai dengan kirab budaya yang bertolak dari Masjid Baitul Izzah Bandungrejo.
Begitu hujan reda, pemeran Ratu Kalinyamat segera keluar masjid, lalu menaiki punggung kuda dan memacunya pelan, memimpin barisan pasukan kirab yang mengikuti dari belakang menuju lapangan, tempat panggung didirikan dan ribuan penonton telah setia menanti.
Meski kondisi lapangan becek dan gerimis belum benar-benar reda, mereka seolah nggak peduli, tetap berdiri menantikan sang pahlawan nasional naik panggung. Ribuan pasang mata itu pun berbinar begitu sang Ratu tiba. Sebagian dari mereka lalu mencoba mengabadikan momen tahunan tersebut.
Tradisi Penolak Bala
Pertunjukan diawali dengan dua sosok laki-laki yang tampil menenteng sapu panjang dari daun kelapa, lalu menyapu lantai panggung. Ritual yang dikenal sebagai "sapu jagat" itu merupakan bentuk pembersihan diri dari bala dan marabahaya.
Pesta Baratan memang dibuat sebagai rangkaian ritual penolak bala tahunan yang digelar pada bulan Syakban. Selain penyapu panggung, turut naik ke atas panggung tiga tokoh agama berjubah putih yang melantunkan doa sapu jagat.
Pertunjukan kemudian dilanjutkan dengan berbagai tarian, mulai dari Tari Tampah, Tari Impes, Tari Lampu Celupak, Tari Oncor, hingga Tari Tabur Bunga. Ketua Panitia Penyelenggara Asy'ari Muhammad mengatakan, masing-masing tarian itu memiliki filosofinya sendiri-sendiri.
"Tari Oncor, misalnya, melambangkan semangat perjuangan Ratu Kalinyamat serta harapan yang tak pernah padam, sedangkan Tari Tabur Bunga menggambarkan kesedihan atas kematian suaminya, yakni Sultan Hadirin," sebutnya di tengah acara.
Sultan Hadirin meninggal setelah dibunuh Bupati Jipang, Arya Penangsang, dalam konflik perebutan tahta Kesultanan Demak pasca-kematian Sultan Trenggana. Peristiwa ini menjadi titik balik yang mendorong Ratu Kalinyamat topo wudho, sumpah yang akan dilakukan hingga pembunuh suaminya juga mati.
“Topo wudho berarti Ratu Kalinyamat melepaskan seluruh atribut kerajaan dan bertapa di Donorojo,” kata Asy’ari sembari menunjuk sosok pemeran Ratu Kalinyamat yang mengenakan busana dominan putih tanpa mahkota dan atribut kebesaran.
Ratu Kalinyamat Naik Tahta
Kematian Arya Penangsang, Asy’ari memaparkan, kemudian membuat Ratu Kalinyamat kembali ke kerajaan untuk memimpin rakyatnya. Lalu, datanglah utusan Kerajaan Johor yang meminta bantuannya untuk melawan Portugis. Ratu Kalinyamat mengiyakan, kemudian segera mengirimkan armada lautnya menghadapi Portugis.
"Ini adalah simbol perlawanan kita, yang tidak mau tunduk kepada penjajah. Beliau membentuk pasukan militer di Pelabuhan Jepara, lalu membantu Kerajaan Johor,” ungkap Asy’ari.
Pada momen itulah para penonton mulai terlihat tegang. Berbekal keris kecil, Ratu Kalinyamat tanpa gentar menghadapi musuh yang bersenjata api. Meski pasukannya sempat terkepung, sang Ratu nggak menyerah, bahkan berhasil membunuh jenderal Portugis dengan tangannya sendiri.
Pertunjukan sendratari yang tampak berhasil menyampaikan nilai-nilai keteladanan Ratu Kalinyamat itu pun segera dihujani tepuk tangan penonton. Bagi masyarakat Jepara, cucu dari pendiri Kesultanan Demak tersebut memang menjadi sosok inspiratif yang melekat kuat di hati mereka.
Selain RA Kartini, Ratu Kalinyamat adalah simbol kekuatan perempuan Jepara yang pantang menyerah, yang keberaniannya bahkan diakui bangsa Portugis sebagai Rainha de Japara, Senhora Poderosa e Rica, yang berarti "Ratu Jepara, perempuan yang kaya dan berkuasa".
"Melalui sendratari ini, kami ingin semangat dan kegigihan Ratu Kalinyamat diwariskan kepada generasi muda, khususnya perempuan. Karena itulah para penampil yang dipilih didominasi siswa perempuan dari SMA-SMA se-Kecamatan Kalinyamat,” ujar Asy’ari.
Kegigihan Ratu Kalinyamat
Asy’ari mengungkapkan, sebetulnya Ratu Kalinyamat pernah membantu dua kerajaan, yakni Johor dan Aceh. Panitia hanya menampilkan pertempuran di Johor yang berujung kekalahan untuk menggarisbawahi kegigihan dan semangat pantang menyerah sang Ratu menghadapi pelbagai tantangan.
Pemeran Ratu Kalinyamat, Efel Aprilia Maharani mengatakan begitu terinspirasi setelah memerankan sosok idolanya tersebut. Meski sempat gugup, dia mengaku senang akhirnya bisa menuntaskan peran itu dengan mulus, mengingat untuk mendapatkan peran ini dia harus mengikuti proses seleksi yang ketat.
"Kami melalui seleksi ketat dan melakoni latihan rutin," tutur perempuan asal Desa Tempur tersebut. “Menurut saya, ini tradisi yang sakral sehingga harus dijalani dengan niat baik. Saya sangat bersyukur bisa memerankan sosok Ratu Kalinyamat.”
Bagi masyarakat Jepara, Pesta Baratan dan sendratari Ratu Kalinyamat merupakan kekuatan sosial dan budaya yang bernilai tinggi. Beragam tradisi yang dimiliki Jepara menjadi kekayaan budaya yang terus dijaga dan dilestarikan hingga kini.
“Jepara memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, seperti Baratan Ratu Kalinyamat, Jembul Tulakan, dan Perang Obor Tegalsambi Memeden Gadu. Semua ini merupakan warisan yang tidak boleh lepas dari masyarakat Jepara,” tutupnya.
Menginspirasi sekali ya, Gez! Melibatkan generasi muda dalam perhelatan budaya adalah langkah menarik yang perlu diupayakan agar tradisi tetap terjaga dan relevan untuk waktu yang lebih lama. (Alfia Ainun Nikmah/E10)
