BerandaHits
Selasa, 26 Jan 2026 15:05

Wacana Pilkada lewat Parlemen, DPRD Kota Semarang Belum Satu Suara

Suasana rapat paripurna anggota DPRD Kota Semarang. (Sundara/Inibaru.id)

Berikut sikap fraksi-fraksi DPRD Kota Semarang terkait wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD, mulai dari penolakan tegas PDI-P hingga kesiapan PKB mengikuti keputusan pusat.

Inibaru.id - Wacana mengembalikan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui mekanisme parlemen terus bergulir. Pro-kontra pun terus terdengar, bahkan di ranah internal DPRD yang, jika nantinya benar-benar diberlakukan, akan menjadi eksekutornya.

Terkait hal ini, DPRD Kota Semarang pun belum satu suara. Beberapa fraksi masih menunjukkan penolakan atas gagasan tersebut, salah satunya Fraksi PDI Perjuangan (PDI-P). Mereka menilai, pilkada via DPRD adalah sebuah kemunduran.

Ketua Fraksi PDI-P DPRD Semarang Joko Susilo dengan tegas mengatakan, pemilihan kepala daerah melalui mekanisme parlemen adalah langkah mundur demokrasi di Indonesia, sementara pada masa Orde Baru partainya bersama rakyat justru berjuang mengembalikan hak memilih kepala daerah kepada masyarakat.

Menurut Joko, gagasan pilkada via parlemen bertentangan dengan semangat reformasi yang menekankan kedaulatan rakyat. Menurutnya, mekanisme pemilihan lewat DPRD berisiko membuat masyarakat semakin jauh dari proses politik.

"Kami menolak keras. Kepala daerah idealnya tetap dipilih langsung oleh rakyat. Ini merupakan perjuangan panjang yang tidak boleh hilang. Kami akan tetap konsisten memperjuangkan demokrasi," ujar Joko saat diwawancarai pada Minggu (25/1/2026).

Perlu Dianalisis Lebih Objektif

Sementara itu, Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Semarang Ali Umar Dhani menilai, wacana tersebut pelu dianalisis lebih objektif sebelum keputusan diambil. Menurutnya, setiap mekanisme pemilihan, baik secara langsung maupun melalui parlemen, memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing.

Ali menyebutkan, salah satu alasan pilkada dilakukan lewat DPRD adalah untuk menekan politik uang. Meski nggak menampik kemungkinan tersebut, dia justru mengkhawatirkan adanya potensi penyimpangan lain yang bisa muncul atau pola yang bergeser jika pengawasan nggak berjalan ketat.

"Kalau tujuannya untuk menekan biaya pemilu, memang harus dikaji secara detail. Jangan sampai justru muncul kesepakatan yang merugikan antara pihak tertentu," tegasnya.

Secara pribadi, Ali mengaku lebih condong ke pemilihan langsung ketimbang lewat DPRD. Alasan utamannya adalah karena pemilih utama yakni para milenial dan gen-z yang tumbuh di era reformasi lebih familiar dengan demokrasi langsung.

"Kami lahir dan besar di era reformasi, sehingga lebih nyaman dengan pemilihan langsung. Generasi sekarang terbiasa memilih secara langsung, sedangkan lewat DPRD prosesnya hanya diketahui sebagian pihak," paparnya.

PKB Dukung Mekanisme Parlemen

Pendapat berbeda muncul dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ketua DPC PKB Kota Semarang Muhammad Mahsun justru mendukung mekanisme parlemen untuk pemilihan kepala daerah. Keputusan ini, lanjutnya, sesuai dengan arahan Ketua Umum (Ketum) PKB.

"Tingkat daerah akan menyesuaikan dengan arahan dari pimpinan pusat," tegas Mahsun. "Kami mengikuti arahan Ketum. Pak Muhaimin Iskandar sudah menyetujui konsep ini, maka kami di DPC siap menindaklanjuti keputusan DPP."

Dia menyampaikan bahwa mekanisme pemilihan kepala daerah lewat DPRD bukanlah konsep yang baru, karena pernah diterapkan di Indonesia sebelumnya. Menurutnya, wacana ini bisa menjadi bagian dari evaluasi dan koreksi sistem demokrasi.

"Jika nantinya kepala daerah dipilih melalui DPRD, kami siap. Sistem ini sudah pernah berjalan, dan wajar untuk dibahas dalam konteks perbaikan demokrasi," tukasnya.

Sebagai generasi muda yang merupakan kelompok pemilih terbesar, menurutmu penentuan kepala daerah seharusnya ditentukan dengan mekanisme seperti apa, Gez? (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: