BerandaAdventurial
Senin, 25 Jan 2026 15:01

Jejak Stasiun Samarang NIS yang Nyaris Habis di Kampung Sporlan

Pintu masuk Kampung Sporlan, saksi sejarah berdirinya Stasiun Samarang NIS yang menjadi titik awal jaringan perkeretaapian di Tanah Air. (Inibaru.id/ Sudara)


Di Kampung Sporlan nggak lagi terlihat jejak bangunan Stasiun Samarang NIS yang merupakan titik awal jaringan perkeretaapian di Tanah Air. Meski sayup dan nyaris nggak ada 'artefak' yang tersisa, cerita itu rupanya kadang masih didengungkan masyarakat setempat.

Inibaru.id - Hujan baru saja reda pada Jumat (23/1/2026) siang saat dua kawan saya tiba di depan gapura Kampung Sporlan yang berlokasi di Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang. Dengan rasa penasaran, kami pun segera memasuki kampung bersejarah tersebut.

Dari luar, kampung itu terlihat biasa saja. Nggak banyak yang menyangka permukiman tersebut berdiri di atas hamparan sejarah tentang cikal bakal jaringan perkeretaapian Indonesia. Konon, stasiun kereta pertama dibangun di sini.

Yap, pada masanya, permukiman yang berlokasi nggak jauh dari Pelabuhan Tanjung Mas itu pernah menjadi pusat perekonomian Semarang, terutama semenjak perusahaan swasta asal Belanda, Nederlansch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), mendirikan stasiun kereta di sini pada masa kolonialisme.

Stasiun Samarang NIS adalah stasiun pertama di Hindia Belanda, yang kemudian menjadi episentrum jaringan kereta api di pelbagai wilayah di Jawa. Namun, jika kamu bertanya di mana jejaknya, bahkan masyarakat setempat pun kini nggak banyak yang bisa menunjukkannya.

Yang tersisa hanyalah permukiman padat penduduk. Bekas bangunan stasiun sudah raib, sedangkan lempengan relnya telah raib ditelan rob dan penurunan tanah, mengingat lokasi tersebut termasuk yang terparah digenangi arus pasang air laut di Kota Lunpia.

Jejak yang Nyaris Habis

Bekas Stasiun Samarang NIS kini menjadi area pemukiman Kampung Sporlan. (Inibaru.id/ Sundara)

Berbeda dengan Stasiun Semarang Tawang yang hingga kini bahkan masih berfungsi dengan baik, secara visual Stasiun Samarang NIS memang nyaris nggak terlihat. Berdasarkan keterangan masyarakat, masih ada ornamen yang tersisa, salah satunya sebentuk besi melengkung yang tersimpan di rumah seorang warga.

Selain itu, di kompleks Kelurahan Kemijen masih ada bangunan bekas Stasiun Gudang dan kantor NIS yang sudah nggak berfungsi. Sejak pusat kegiatan perkeretaapian dipusatkan ke Stasiun Tawang dan Poncol, bangunan di Kampung Sporlan memang nggak lagi terawat.

Seperti disebutkan sebelumnya, lenyapnya "artefak" penanda keberadaan Stasiun Samarang NIS di kampung yang saat ini dihuni oleh banyak pensiunan pegawai KAI itu diperparah dengan lokasinya yang terdampak rob dan mengalami penurunan muka tanah.

Setiap tahun, penurunan muka tanah di kawasan ini memang cukup parah, sebagaimana dikonfirmasi Ketua RT 02 RW 03 Kampung Sporlan Wawan Purwanto. Dia mengaku khawatir dengan situasi yang turut "membenamkan" rumahnya tersebut.

"Rumah saya darj lantai ke atap hanya tersisa sekitar dua meter," sebut Wawan saat saya temui di depan rumahnya. "Seingat saya, waktu kecil rumah ini cukup tinggi. Dari lantai ke atap sekitar 8 meter. Sekarang, karena penurunan muka tanah dan jalan yang dinaikkan, rumah kami terasa makin pendek."

Banyak Peneliti yang Datang

Meski agak ragu dengan lokasi pastinya, Wawan menegaskan bahwa Stasiun Samarang NIS memang berdiri di kampung tersebut. Nggak jauh dari rumahnya. Wilayah ini mulai menjadi permukiman sejak aktivitas perkeretaapian dipindah ke Stasiun Semarang Tawang, dengan mayoritas penghuni para pensiunan KAI.

Sejak pertengahan 1980 hingga awal 2000, Wawan mengungkapkan bahwa mulai banyak komunitas pencinta kereta api yang berkunjung ke Kampung Sporlan untuk meneliti dan memastikan bahwa di wilayah itu memang merupakan cikal bakal transportasi kereta api di Indonesia.

"Banyak yang datang. Dari Bandung, Yogyakarta, bahkan Belanda. Kami kurang tahu secara pasti soal sejarahnya, tapi berdasarkan informasi lisan yang kami terima, titik Stasiun Samarang NIS di RT 01 (RW 03) ini. Masih ada sisa peninggalannya," ujar Wawan.

Lengkungan besi diduga menjadi ornamen sisa peninggalan Stasiun Samarang NIS. (Inibaru.id/ Sundara)

Dia mengungkapkan, saat dirinya masih kecil, bekas bangunan ventilasi stasiun dan beberapa ornamen lainnya masih bisa ditemukan, menempel di rumah-rumah warga. Namun, seiring berjalannya waktu, jejak-jejak tersebut perlahan menghilang seiring renovasi yang mereka lakukan.

"Saya masih merawat satu ornamen berbentuk besi melengkung yang saya dipajang di dinding ruang tengah. Sengaja saya simpan sebagai kenang-kenangan sekaligus bukti cerita tentang Kampung Sporlan yang dulu jadi lokasi Stasiun pertama," tuturnya.

Kemijen sebagai Pusat Transportasi

Pegiat sejarah perkeretaapian Indonesia Tjahjono Rahardjo mengatakan, Kemijen pada masa Hindia-Belanda memang merupakan pusat aktivitas transportasi di Semarang. Stasiun sengaja dibangun di situ untuk memudahkan pengangkutan hasil bumi ke pelabuhan.

"Kata 'lan’ dalam bahasa Belanda adalah sebutan untuk jalan. Jadi, Kampung Sporlan itu jalan jalur kereta api," tutur Tjahjono.

Saat Stasiun Samarang (bukan Semarang) NIS masih aktif, dia menambahkan, rute KA Samarang-Tanggung memiliki beberapa stasiun dan halte, termasuk Samarang, Alastua, dan Brumbung. Hingga 1880, nama "Samarang" lebih lazim dipakai, sebelum berubah menjadi "Semarang" seabad kemudian.

Stasiun Samarang NIS dibangun dengan lima bangunan utama, yakni stasiun penumpang, stasiun barang, stasiun kanal, Balai Yasa, serta bangunan Kepala Stasiun yang terletak di sebelah barat stasiun penumpang.

"Jadi, bentuk Stasiun Samarang NIS itu menyerupai huruf U. Sebelah selatan untuk penumpang, sebelah utara untuk barang," ujar Tjahjono. "Stasiun ini mulai ditinggalkan saat seluruh aktivitas kereta dipindahkan ke Tawang. Kawasan itu pun perlahan jadi permukiman; peninggalannya hilang tak bersisa."

Hilangnya Stasiun Samarang NIS tak akan menghapus jejak sejarahnya. Melalui cerita warga dan sisa ornamen di Kampung Sporlan, semoga kisah stasiun yang menjadi embrio transportasi kereta api di Indonesia tetap hidup dan dikenang ya, Gez! (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: