BerandaTradisinesia
Senin, 14 Feb 2021 15:00

Laswi, Para Pasukan Perempuan Indonesia yang Ditakuti Belanda

Monumen Laswi. (Wikimapia)

Pada masa perjuangan pascamerdeka, banyak perempuan di Jawa Barat terjun langsung menghadapi penjajah yang kembali datang. Beberapa di antaranya sangat ditakuti karena lihai memenggal kepala. Perempuan-perempuan ini tergabung dalam Laswi.

Inibaru.id – Lasykar Wanita (Laswi) lahir di tengah kekacauan pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kelahiran kelompok pejuang perempuan di Kota Bandung, Jawa Barat, itu nggak lepas dari peran Sumarsih Subyanti alias Yati Arudji sebagai inisiator.

Ketika itu, tentara sekutu yang dibonceng The Netherlands Indies Civil Administration (Nica) mulai berdatangan dan menyebar di Indonesia. Yati yang merupakan istri Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Divisi III Jawa Barat itu pun merasa perlu mengajak para perempuan untuk angkat senjata.

Dia mengajak kaum perempuan turut berperang di garis depan guna membantu pergerakan anggota TKR (Kelanjutan dari BKR) yang seluruhnya merupakan kaum laki-laki. Anggotanya adalah para perempuan dari pelbagai kalangan, mulai kaum biasa hingga para aktivis atau kalangan terpelajar.

Bersama para aktivis lulusan Hollandsch inlandsche (HIS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Hollandsche, dan murid perempuan dari Indische Kweekschool (HIK) Kota Bandung, Laswi resmi berdiri pada 12 Oktober 1945.

Terinspirasi dari Perintah Tuhan

Laswi terinspirasi Siti Aisyah yang ikut berperang. (Magdalene/Kementerian Penerangan)

Dikutip dari buku Satu Abad Kartini karya Annie Bertha Simamorra, alasan utama mendirikan Laswi adalah berupaya mengikuti perintah Allah SWT. Seperti buku mengenai Siti Aisyah, istri Rasulullah yang turut maju ke medan perang.

Yati berpendapat, buku menjadi hal paling penting untuk membangkitkan semangat berjuang para perempuan pembela tanah air tersebut. Setiap melakukan upacara rutin di markasnya, dia juga membagikan semangat melalui pembacaan buku-buku sejarah, seperti Sarinah karya Bung Karno.

“Seperti diperintah oleh Allah SWT untuk turut berjuang bersama golongan pria," kata Yati dalam buku yang terbit pada 1979 tersebut.

Sempat Kesulitan Merekrut Anggota

Korps Wanita Tentara Indonesia sesudah reorganisasi (1948) secara resmi menjadi bagian dari tentara. Foto: repro buku "Agresi Militer Belanda Memperebutkan Zamrud Sepanjang Khatulistiwa 1945/1949" karya Pierre Heijboer.

Meski tujuannya baik, inisiatif Yati untuk merekrut anggota Laswi nggak gampang. Banyak di antara mereka yang terhalang stigma orang tua. Perempuan dianggap kurang pantas bercelana, memanggul senjata, dan duduk di atas truk. Apalagi jika harus maju ke garis depan.

Alasan lain, para orang tua ini nggak rela jika anak perempuan mereka diincar lelaki jahat ketika pergi berperang. Meski begitu, nggak sedikit perempuan di Bandung yang berhasil melawan norma tersebut, contohnya Amir Kartabrata dan Euis Sari’ah (Saartje).

“Keduanya juga didaulat menjadi Kepala Brigade satu dan Kepala Pleton Satu dari Laswi," seperti tertulis dalam jurnal tersebut.

Memenggal Antek Penjajah sebagai Pembuktian

Willy, pemenggal kepala Gurkha Riffles. (Deipuspitasariblogspot.com)

Pandangan miring akan kemampuan perkumpulan perempuan ini juga sempat mereka alami. Mereka dianggap mempersulit gerakan pejuang kemerdekaan di Bandung. Namun, dua anggota Laswi yakni Soesilowati dan Willy menepis kritik tersebut dengan nggak disangka-sangka.

Mereka konon sangat ditakuti Belanda lantaran pernah memenggal perwira muda dari Gurkha Riffles. Perwira ini merupakan anggota kesatuan elite Inggris-India yang ditugaskan Belanda menggempur rakyat di palagan Bandung.

Keberanian kedua gadis itu mendapat pengakuan dari Jenderal (Purn) AH Nasution yang tertulis dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid I: Kenangan Masa Muda.

Dalam catatan tersebut, Nasution merasa kagum dengan keberanian perempuan-perempuan muda dari Laswi. Ketika itu, Soesilowati dan Willy menenteng kepala dari Panglima Gurkha. Nggak heran jika Nasution sering memberikan tempat untuk para anggota Laswi.

Sungguh keberanian yang nggak bisa dianggap remeh ya, Millens? (His,Mer/IB21/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: