Kota Semarang Lengang dan Tergenang, 'Jateng di Rumah Saja' Sukses?

Sejak hari pertama 'Jateng di Rumah Saja' digulirkan pada Sabtu (6/2/2021), Kota Semarang diguyur hujan dan berujung banjir di mana-mana. Jalanan yang sepi dari lalu-lalang kendaraan kian lengang karena tergenang. Tanpa hujan deras, mungkinkah program ini sukses di Kota Lunpia.

Inibaru.id - Rusdi diam saja di atas becaknya yang terparkir di Jalan Indraprasta, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (7/2/2021) pagi. Hujan masih turun, jalanan pun masih lengang. Sudah sejak Sabtu dia mengaku nggak mendapat penumpang.

"Sepi, Mas!" kata tukang becak paruh baya itu dengan suara yang terhalang masker. Rusdi memilih menyingkir dari tempat dia biasa mangkal, yakni di sekitar Pasar Johar, yang tergenang air. "Ya sudah tahu bakal sepi. Banjir, terus apa itu, program Pak Ganjar (Jateng di Rumah Saja), ya pasrah saja!"

Rusdi bisa dipastikan bukanlah satu-satunya orang yang memprediksi akhir pekan ini jalanan bakal sepi. Sejak Jumat (5/2), hujan memang nggak berhenti mengguyur Kota Semarang. Terlebih, instruksi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo "Jateng di Rumah Saja" juga membuat banyak tempat di Kota Semarang tutup.

Ajakan untuk berdiam diri di rumah dari Pemprov Jateng itu berlangsung dua hari, yakni 6-7 Februari 2021. Niatnya cukup mulia, yakni mengheningkan cipta sejenak untuk tenaga kesehatan dan tokoh agama yang gugur karena Covid-19 sekaligus mengurangi kerumunan pada akhir pekan.

Hari pertama Jateng di Rumah Saja, jalanan di Kota Semarang tampak lengang. Hujan sehari sebelumnya juga membuatnya tergenang. Titik banjir di mana-mana, termasuk di Kota Lama dan Bubakan, tempat Rusdi biasa mengayuh becaknya.

Semarang tampak muram di mana-mana. Sepi dan basah. Nggak terkecuali di pusat kota seperti Simpang Lima dan Jalan Pahlawan. Padahal, pada hari biasa, tempat itu merupakan kawasan padat yang selalu dijejali kendaraan yang berjalan lambat.

Seorang tukang becak lain, Paryono, yang biasa menawarkan jasanya di sekitar Simpang Lima, juga mengeluhkan hal yang sama dengan Rusdi. Selain hujan, dia juga tahu kalau selama dua hari itu nggak bakal banyak orang yang keluar rumah. Dia juga sudah siap kalau nggak akan mendapat penumpang dalam dua hari tersebut. 

“Seharusnya kalau warganya nggak boleh keluar rumah, pemerintah menyediakan biaya hidup untuk kami yang tidak mampu,” keluh Paryono, Sabtu (6/2).

Nggak hanya para pelaku jasa, para pedagang kecil juga mengeluhkan hal yang sama, termasuk Marsinah yang sehari-hari berjualan di Pasar Mangkang. Dia mengatakan, 90 persen pedagang di pasar terbesar di ujung barat Kota Semarang itu nggak berjualan karena program Jateng di Rumah Saja.

“Nggak, nggak berjualan. Ada imbauan berdiam diri di rumah dua hari, jadi banyak pedagang yang nggak jualan,” ungkap Marsinah, yang meski mengeluh, tetap menganggap program berdiam diri di rumah selama dua hari bukanlah hal buruk. "Manut saja. Mangkang juga banjir, kok."

Tanpa hujan dan banjir, mungkinkah orang-orang akan berdiam diri di rumah selama program Jateng di Rumah Saja? Entahlah! Yang pasti, sejak hari pertama Ganjar Pranowo telah menilai gerakan ini cukup berjalan bagus. Penilaian ini didasari oleh laporan sejumlah bupati dan walikota di Jateng.

“Mobilitas masyarakat cukup berkurang. Terbantu dengan curah hujan yang cukup tinggi hari ini,” ujar Ganjar, Sabtu (6/2).

Pada situasi seperti ini, hujan dan banjir mungkin dianggap sebagai berkah dari langit. Namun, apakah untuk membuat orang-orang berdiam diri di rumah harus dengan cara seperti ini terus? Ehm, jadi, "Jateng di Rumah Saja" sukses nggak, nih, Millens? Ha-ha. (Triawanda Tirta Aditya/E03)