BerandaTradisinesia
Jumat, 4 Sep 2025 13:01

Kolaborasi Para Seniman dengan Warga Setempat di Festival Kampung Budaya Cabean

Salah satu penampil di Festival Kampung Budaya Cabean #7 (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Bukan hanya menampilkan para seniman profesional, Festival Budaya Cabean #7 di Kudus ini juga mempersilakan warga setempat untuk berpuisi, menari, serta bermusik; menjadikan mereka para aktor kebudayaan alih-alih sekadar menonton.

Inibaru.id – Jalan tanah menuju Dukuh Cabean, Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, tampak lebih hangat pada suatu senja di akhir Agustus 2025 lalu. Deretan lampu minyak yang dinyalakan di sepanjang ganglah yang membuat suasana sore itu terasa berbeda.

Cahaya temaram yang bergoyang-goyang saat ditingkah angin yang cukup kencang sore itu merupakan penunjuk arah menuju malam pembukaan Festival Kampung Budaya Cabean #7. Bersamaan dengan orang-orang yang mulai berdatangan, aroma jagung bakar dan ketan gurih menguar dari pasar rakyatnya.

Sebagian tamu sudah duduk santai di kursi-kursi bambu atau lesehan di tikar yang tersedia, menanti dimulainya pertunjukan. Sementara itu, anak-anak berlarian di sekitar mereka dengan tawa yang riang; mirip suasana sekitar dua atau tiga dekade lalu ketika gawai belum mendominasi kegiatan mereka.

Festival Kampung Budaya Cabean merupakan pekan budaya rutin yang digelar masyarakat Dukuh Cabean. Tahun ini, mengangkat tema "Harmoni Kehidupan", event kesenian sederhana tapi bersahaja itu digelar pada 28–30 Agustus.

Hadirkan Sejumlah Ekspresi Seni

Penonton warga kampung di Festival Kampung Budaya Cabean #7 (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Festival Kampung Budaya Cabean kali ini menghadirkan sejumlah ekspresi seni, mulai cari teater, tari, musik, monolog, parade rebana, hingga musikalisasi puisi; yang dipadukan dengan pasar rakyat untuk masyarakat setempat.

Bagi mereka, keberadaan festival budaya ini bukan hiburan semata, tapi juga menjadi upaya untuk merayakan jati diri kampung dan orang-orang di dalamnya yang memilih bertahan untuk berkelindan dengan kesenian di tengah masifnya gelombang modernisasi yang acap mengikis tradisi setempat.

Oya, untuk memasuki area festival, para tamu harus melewati sebuah gerbang sederhana dari bambu dan jerami. Di mata sebagian orang, gerbang itu hanyalah hiasan. Namun, bagi penggagasnya, gerbang itu menandai batas antara kehidupan sehari-hari dengan ruang perayaan yang lebih sakral.

“Gerbang ini simbol peralihan,” jelas Ady Maulana, koordinator Kampung Budaya Cabean yang mengaku lebih akrab disapa Jack. “Begitu orang masuk, status sosialnya hilang. Di sini semua sama; warga, tamu, anak-anak, atau orang tua. Kita merayakan kehidupan bersama.”

Menjadi Satu dan Setara

Salah satu penampil di Festival Kampung Budaya Cabean #7 (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Konsep meleburkan status sosial ini mengingatkan pada pandangan antropolog Victor Turner tentang liminality, sebuah ruang transisi di mana hirarki sehari-hari lenyap, digantikan rasa kebersamaan. Tujuan dari gerbang itu pun setali tiga uang, mengumpulkan semuanya menjadi satu dan setara tanpa kasta.

Sore itu, festival dimulai dengan pertunjukan musik gamelan berpadu dengan kentongan yang ditabuh ritmis. Lalu, seorang penampil mengenakan topeng kucing berwarna merah muda menari lincah dengan gerakan jenaka sekaligus magis; seperti sisi liar manusia yang acap terlupakan.

Setelahnya, muncul sosok kekar dengan gerakan rendah penuh tenaga. Jack mengatakan, gerakan tubuhnya seperti doa, mengingatkan bahwa manusia hanyalah tamu di bumi, yang mesti merunduk hormat pada alam dan leluhur.

Puncaknya, warga Dukuh Cabean menari bersama di depan instalasi bambu raksasa dengan mata kuning menyala. Cahaya itu seakan mempersatukan energi kolektif, menghadirkan momen yang membuat bulu kuduk merinding.

Kitab tentang Kehidupan

Pintu masuk di Festival Kampung Budaya Cabean #7 (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Jack menuturkan, pertunjukan kesenian bagi warga Cabean bukanlah semata tontonan, tapi seperti halaman sebuah kitab terbuka tentang kehidupan. Festival ini merupakan perjalanan panjang warga dalam memahami peradaban mereka sendiri.

"Desa bukan hanya tempat tinggal, tapi juga laboratorium budaya yang terus berevolusi," jelasnya. “Dulu hidup agraris menumbuhkan gotong royong. Kini industrialisasi mengubah pola hidup lebih kontraktual. Fungsional. Solidaritas terkikis. Nah, lewat kesenian, kami mencoba menjembatani tradisi dengan modernitas.”

Jack menolak melihat budaya hanya sebagai kenangan masa lalu. Baginya, seni adalah filosofi hidup yang masih relevan untuk masa kini. Inilah yang membuat budaya patut dilestarikan dan dirawat sebaik-baiknya.

“Kalau kita bisa merawat, seni akan menjadi perekat sosial, bukan sekadar ornamen,” simpulnya.

Siapa Saja Boleh Naik Panggung

Waga sangat antusias dalam Festival Kampung Budaya Cabean #7 (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Menurut Jack, yang membuat festival budaya ini menarik adalah karena siapa saja boleh tampil dan panggung nggak hanya diperuntukkan bagi para seniman profesional. Maka, nggak sulit melihat anak yang membaca puisi, ibu-ibu menampilkan tarian, atau para bapak yang memainkan rebana bersama di atas panggung itu.

"Ini merupakan cara kami membagi ruang dan suara bagi mereka yang biasanya tidak terdengar. Mereka bukan penonton pasif, tapi aktor budaya yang menghibur dan menghidupkan kampung mereka sendiri," terangnya. "Kami ingin mengatakan bahwa seni tidak harus lahir dari kota besar untuk berdaya."

Selain pertunjukan dari warga lokal, festival ini juga menghadirkan komunitas seni dari berbagai wilayah Muria Raya, termasuk kelompok rebana Syifa As Syuro, Al-Munawwarah, Roudhotul Jannah, dan Khoirun Nisa; Bregodo Budoyo Mijen yang menampilkan tarian rakyat, hingga pemusik Saraswati Dapur Seni.

Kolaborasi kesenian dari warga desa dengan para seniman ini menjadikan Festival Kampung Budaya Cabean #7 sebagai ruang edukasi sekaligus kritik sosial. Di tengah dunia yang dipenuhi polarisasi, kerusakan lingkungan, dan budaya instan, warga Cabean menegaskan kembali pentingnya harmoni dalam keberagaman.

Semoga Menginspirasi Desa Lain

Salah satu penampil di Festival Kampung Budaya Cabean #7 (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Harapan Jack saat mulai menggarap gelaran budaya hingga menjadi event rutin ini sederhana, yakni agar semangat festival menjalar ke banyak tempat untuk mengampanyekan bahwa budaya bukanlah beban, melainkan sumber kekuatan desa sekaligus tempat yang tepat untuk belajar menjaga kehidupan sosial.

Tiga malam festival berakhir dengan tepuk tangan panjang. Lampu-lampu minyak dipadamkan, bambu panggung dilepas, tapi gema kebersamaan masih terasa di udara Dukuh Cabean.

Bagi warga, khususnya generasi muda dan anak-anak, festival ini meninggalkan pelajaran berharga untuk mereka; bahwa kebudayaan bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan jantung kehidupan yang menjaga solidaritas, memori, dan arah masa depan.

Festival sederhana di sebuah kampung kecil di Kudus ini menunjukkan bahwa di tengah arus globalisasi, selalu ada ruang untuk menjaga akar, merayakan kebersamaan, dan menghidupkan harmoni kehidupan. (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: