BerandaTradisinesia
Kamis, 15 Okt 2025 13:01

Jejak Trah Tjondronegoro; dari RA Kartini hingga Para Penguasa Pantura Jawa

Penampakan makam Tjondronegoro III bupati Kudus pertama. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Trah Tjondronegoro telah menjadi penguasa pesisir Jawa sejak medio abad ke-19. Di antara para bangsawan itu, tersemat nama RA Kartini, Pahlawan Nasional yang dikenal karena perjuangannya dalam menciptakan kesetaraan gender.

Inibaru.id — Di antara aroma dupa dan suara gamelan yang samar dari rumah-rumah tua di Kaliputu, seorang lelaki sepuh duduk bersila di teras cungkup makam. Tangannya sibuk menyingkirkan dedaunan kering dari batu nisan yang berlumut.

“Setiap pagi, saya bersih-bersih dulu,” kata Sunarto pelan sambil mengusap prasasti kecil bertuliskan aksara Jawa. “Ini bukan sekadar batu, tapi sejarah yang hidup.”

Sunarto atau lebih akrab disapa Mbah Narto adalah juru kunci Pasarean Sedomukti, kompleks permakaman keluarga besar Tjondronegoro. Sudah lebih dari 30 tahun dia menjaga "rumah terakhir" para bupati dan bangsawan yang pernah memimpin Pati, Kudus, Jepara, hingga Semarang itu.

“Orang sini bilang, makam ini sakral. Tapi bagi saya, ini juga buku terbuka,” ujarnya sambil menunjuk deretan nisan tua. “Buku tentang para pemimpin yang tahu caranya jadi Jawa dan sekaligus jadi bagian dari dunia yang berubah.”

Komplek keluerga makam Tjondronegoro. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Cerita yang dijaga Mbah Narto berawal dari kisah Raden Adipati Tjondronegoro III a.k.a Raden Bagus Sawab. Pada 1830, tepatnya setelah Perang Jawa mereda, pemerintah kolonial Hindia-Belanda menunjuknya sebagai Bupati Kudus sebagai penghargaan atas kesetiaannya menjaga ketertiban selama masa penuh gejolak.

“Beliau ini yang pertama dimakamkan di sini,” jelas Mbah Narto, menunjuk cungkup besar di tengah kompleks. “Dulu waktu dipindah dari Pati ke Kudus, rakyat banyak yang ikut mengiring. Konon, orangnya bijak, tapi tegas. Kalau bicara, selalu pakai tembung alus.”

Dari sinilah trah besar itu tumbuh. Di Pati, jabatan diteruskan oleh putranya, Raden Tumenggung Tjondroadinegro, memastikan kendali keluarga tetap kuat di dua kota strategis di pesisir utara Jawa itu. Dari dua titik inilah, pengaruh mereka kemudian merambat ke Demak, Jepara, hingga Semarang.

"Abad ke-19 menjadi masa ketika nama Tjondronegoro identik dengan kursi bupati. Dari Kudus sampai Brebes, ada saja nama mereka di pemerintahan,” kata Mbah Narto, lalu tertawa kecil. “Orang Belanda percaya sama mereka, tapi mereka juga nggak lupa asal.”

Berbeda dari Kebanyakan Bangsawan

Makan Sosrokartomo salah satu cucu dari Tjondronegoro V (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Menurut Mbah Narto, gaya pengasuhan keluarga Tjondronegoro berbeda dari banyak bangsawan lain pada zamannya. Anak-anak mereka didorong untuk mengenyam pendidikan, mulai dari belajar di sekolah Belanda, membaca hukum modern, dan familiar dengan bahasa asing.

“Berdasarkan cerita turun-temurun, waktu itu Raden Minoto yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Ario Tjondronegoro IV itu suka baca buku malam-malam. Bukan kitab Jawa, tapi buku dari Eropa,” tuturnya.

Langkah itu membuat mereka dipercaya pihak pemerintah kolonial sekaligus dihormati rakyat. Mereka juga dikenal sebagai penengah, bukan penguasa yang menindas.

“Kalau ada bencana, para bupati ini turun tangan. Nggak cuma nyuruh-nyuruh,” tambahnya. “Maka dari itu, sampai sekarang, banyak orang ziarah ke sini, bukan karena klenik, tapi menghormati mendiang.”

Seseorang masuk ke komplek pemakaman Tjondronegoro (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Oya, darah Tjondronegoro juga mengalir di tubuh RA Kartini, Pahlawan Nasional yang dikenal karena perjuangannya terhadap kesetaraan gender. Mbah Narto, leluhur perempuan kelahiran 21 April 1879 itu juga disemayamkan di kompleks permakaman ini.

Ayah Kartini, yakni Bupati Jepara Raden Adipati Ario Sosroningrat, adalah keturunan langsung dari Tjondronegoro IV. Dengan keleluasaan untuk mengenyam pengetahuan, Kartini tumbuh sebagai perempuan yang kritis, termasuk menulis surat yang menjadi simbol kebangkitan perempuan.

“Jadi, kalau Kartini menulis tentang kemajuan dan pendidikan, itu bukan muncul tiba-tiba,” kata Mbah Narto sambil mengelus batu nisan leluhur Kartini. “Itu warisan. Dari kakek buyutnya yang sudah berani belajar dari Barat tanpa meninggalkan Jawa.”

“Kalau malam Jumat, kadang saya duduk di tengah-tengah sini,” lanjut Mbah Narto sambil tersenyum tipis. “Bukan buat tirakat, tapi merenung. Bayangkan, dari tempat sekecil Kaliputu ini, sejarah besar Jawa pernah berdenyut.”

Pandai Berdamai dengan Zaman

Komplek makam Tjondronegoro (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Keluarga Tjondronegoro dikenal sebagai bangsawan yang pandai berdamai dengan zaman. Di tengah tekanan pemerintah kolonial, mereka mengupayakan kebijakan yang berpihak pada rakyat, mulai dari pengairan, pangan, hingga pendidikan.

“Mereka itu bukan sekadar pejabat, tapi penghubung,” kata Mbah Narto. “Waktu Belanda bikin aturan pajak yang berat, para bupati ini sering bantu rakyat cari jalan tengah. Nggak frontal melawan, tapi juga nggak tunduk sepenuhnya.”

Dalam keseharian, Mbah Narto menambahkan, mereka tetap memegang nilai-nilai Jawa: eling lan waspada (ingat dan waspada), andhap asor (rendah hati), dan ngayomi (mengayomi). Namun pikiran mereka terbuka, menerima perubahan dunia yang makin modern.

“Kadang orang datang ke sini untuk ngalap berkah, tapi menurut saya itu bukan berkah mistik, melainkan pelajaran; bahwa jadi Jawa itu harus cerdas dan terbuka. Kayak para Tjondronegoro ini,” jelasnya sembari memandangi langit yang mulai meremang.

Lebih dari satu abad setelah masa keemasan mereka, nama Tjondronegoro masih melekat pada banyak hal, termasuk melalui cerita heroik RA Kartini yang merambat pelan di tengah ingar-bingar modernitas yang seakan kian melupakan sejarah.

Selama masih ada yang berziarah ke Pasarean Sedomukti, keberadaan trah Tjondronegoro tentu nggak akan terlupakan oleh zaman; terus bersemayam di bawah rindang pepohonan sawo kecik yang tumbuh lebat di antara nisan-nisan bangsawan yang terserak di situ. (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: