BerandaTradisinesia
Sabtu, 29 Agu 2025 09:01

Di Yogyakarta, Kamu Nggak Akan Menemukan Kecamatan dan Desa

Kemantren adalah istilah untuk kecamatan di wilayah Kota Yogyakarta. (Mesha Christina)

Nggak ada istilah kecamatan atau desa di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Istilah ini diganti dengan kapanewon, kemantren, dan kalurahan. Begini penjelasannya.

Inibaru.id - Kalau kamu berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), jangan heran kalau tidak menemukan istilah “kecamatan” atau “desa” pada papan nama kantor pemerintahan. Bukan salah tulis, lo. Memang sejak 2020 lalu, istilah-istilah tersebut nggak lagi dipakai di sana.

Perubahan ini bukan sekadar gaya-gayaan, tapi bagian dari amanat UU No. 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY. Dalam aturan itu, Yogyakarta diberi ruang untuk menghidupkan kembali nuansa tradisi keraton, termasuk lewat penyebutan wilayah. Jadi, kalau di tempat lain kamu masih mendengar istilah camat, kepala desa, atau sekretaris desa, di Jogja namanya sudah berbeda.

Dari Kecamatan Jadi Kapanewon dan Kemantren

Di kabupaten-kabupaten seperti Sleman, Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo, kecamatan sekarang dikenal dengan nama kapanewon. Pemimpinnya disebut panewu, sedangkan sekretarisnya dikenal dengan istilah panewu anom.

Sementara itu, di Kota Yogyakarta, istilah kecamatan diganti dengan kemantren. Pimpinan wilayahnya bernama mantri pamong praja, dan wakilnya adalah mantri anom. Nama-nama ini terasa akrab dengan istilah tata kelola ala keraton, ya?

Desa Jadi Kalurahan

Kalurahan Sinduadi di Sleman, DIY. (Google Street View)

Nah, kalau di wilayah kabupaten, istilah desa resmi berubah menjadi kalurahan. Kepala desa kini dipanggil lurah, sekretaris desa disebut carik, dan perangkat desa dikenal dengan istilah pamong desa. Beberapa jabatan juga menggunakan istilah tradisional seperti jagabaya untuk urusan pemerintahan, ulu-ulu untuk kesejahteraan, hingga kamituwa untuk pelayanan masyarakat.

Namun, untuk wilayah Kota Yogyakarta, istilah kelurahan tetap dipakai. Jadi, jangan bingung kalau mendapati perbedaan penyebutan antara kota dan kabupaten di DIY.

Mungkin ada yang bertanya, “Lho, kalau cuma ganti nama, apa bedanya dengan daerah lain?” Jawabannya, perbedaan ini erat kaitannya dengan Dana Keistimewaan. Dana khusus dari APBN tersebut hanya bisa dikelola dengan aturan kelembagaan yang sesuai nomenklatur baru. Jadi, perubahan nama ini penting agar pemerintahan DIY bisa sah secara hukum dalam menjalankan kewenangannya.

Selain itu, perubahan ini juga menjadi cara untuk menjaga kekhasan budaya Jogja. Dengan memakai istilah tradisional, masyarakat diingatkan kembali bahwa DIY punya sejarah panjang dan posisi istimewa di Indonesia.

Contoh dari penggunaan istilah unik ini bisa kamu temukan di Sleman, Gez. Nggak ada lagi Desa Sinduadi di Kecamatan Mlati. Yang ada adalah Kalurahan Sinduadi dan Kapanewon Mlati. Kedengarannya unik, kan? Seperti inilah cara Jogja menjaga tradisinya di tengah modernisasi.

Perubahan ini memang butuh waktu untuk dibiasakan. Banyak orang luar Jogja yang awalnya kebingungan, bahkan warga lokal pun masih sering keliru menyebut. Namun lama-kelamaan, istilah kapanewon, kemantren, dan kalurahan bakal terdengar akrab di telinga.

Yah, beginilah Jogja. Selalu punya cara untuk menunjukkan keistimewaannya, bahkan lewat istilah administratif sekalipun. Unik banget ya, Gez? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Pantai Dasun Lasem, Kabupaten Rembang

3 Mar 2026

Saat Takjil War, Waspada dengan Sejumlah Pembungkus Takjil Nggak Sehat Ini

3 Mar 2026

OTT Edisi Ramadan, KPK Bawa Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Jakarta

3 Mar 2026

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

3 Mar 2026

Tren 'Grading Card', Autentifikasi Kartu Koleksi agar Nilai Jual Lebih Tinggi

3 Mar 2026

Mulai Maret Ini, Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Main Medsos

3 Mar 2026

Kartu Mebel Jepara, 'Tiket Emas' biar UKM Ukir Naik Kelas

3 Mar 2026

Sejuk dan Alami, Begini Keindahan Air Terjun Kyai Buku Jepara

4 Mar 2026

Sepanjang 2025, Uang Hilang Setara Rp355 Miliar di Jepang Kembali ke Pemiliknya

4 Mar 2026

Opsi 'Sekolah Swasta Gratis' Akan Terintegrasi dengan SPMB 2026 di Kota Semarang

4 Mar 2026

Ponpes Raudhatul Qur'an; Cetak Ratusan Hafiz dengan Biaya Bulanan Murah Meriah

4 Mar 2026

Menguliti Asal Usul Nama Kurma

4 Mar 2026

Tragedi Cinta Mangir-Pembayun; Saat Asmara Jadi Senjata Penakluk Mataram

4 Mar 2026

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: