BerandaPasar Kreatif
Selasa, 5 Sep 2022 18:30

Kenaikan BBM Jadi Pukulan Berat Produsen Telur di Jateng

Ilustrasi: Para petani telur terancam merugi besar karena kenaikan BBM dan anjloknya harga telur di pasaran. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Harga telur sudah turun, tapi kenaikan BBM membuat harga produksi telur meningkat. Artinya, petani akan rugi besar jika harga telur di pasar nggak segera distabilkan.

Inibaru.id - Mungkin selama ini kita hanya bisa mengeluh melihat harga-harga bahan pokok terkadang ada pada titik yang nggak masuk akal alias mahal banget. Namun, di balik itu, sejatinya ada peternak unggas yang juga sedang memperjuangkan kestabilan harga.

Nah, di tengah upaya menstabilkan harga itu, kenaikan BBM beberapa hari lalu rupanya langsung berdampak serius bagi para petani unggas penyuplai telur ini, nggak terkecuali di Jawa Tengah. Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jateng mengaku cemas dengan kondisi tersebut.

“Ini (penaikan harga BBM) sungguh nggak sejalan dengan wacana penurunan harga telur yang sempat dikeluarkan pemerintah,” keluh Ketua Pinsar Jateng Parjuni pada Minggu (4/9).

Menurutnya, para peternak nggak akan cemas dan bisa menerima kalau harga-harga komponen produksi peternakan meningkat lantaran terdampak kenaikan BBM, asalkan diimbangi dengan harga jual yang seimbang.

"Jangan sampai harga jual kembali berada di bawah harga pokok produksinya. Peternak bisa semakin tercekik jika wacana penurunan harga telur tidak berbanding lurus dengan penurunan harga pokok produksi," tegasnya.

Tambahan Biaya Ekspedisi

Untuk pengiriman telur, pihak ekspedisi meminta biaya tambahan sebesar 12 persen imbas dari kenaikan BBM. (MI/Antara/Asep Fathulrahman)

Perlu kamu tahu, di tengah upaya pemerintah menekan harga telur, para peternak unggas saat ini mulai terhimpit oleh kebijakan pihak ekspedisi atau pengiriman yang meminta tambahan biaya sebesar 12 persen imbas dari kenaikan BBM.

Tambahan biaya 12 persen itu pun menjadi beban. Sementara, penambahan biaya pengiriman telur nggak mungkin dibebankan kepada konsumen. Terkait hal ini, Asosiasi Peternak Petelur Boyolali Bersatu mengaku belum menyepakati penambahan biaya ekspedisi tersebut, sehingga banyak telur nggak bisa dikirim.

"Masa ketahanan telur terbatas, sehingga stok komoditas melimpah di daerah. Harga pun anjlok. Kalau petani terus merugi, bisa jadi gelombang pengosongan kandang petelur berpotensi terulang kembali," tegas Ketua Asosiasi Peternak Petelur Boyolali Bersatu Krishandrika Immanuel Raharjo.

Sehari usai kenaikan BBM, peternak berskala besar yang biasanya menyasar pasar luar kota nggak bisa mengirimkan telurnya, padahal produksi telur nggak akan berhenti. Menurut Krishandrika, kalau nggak ada kesepakatan peternak-pembeli, pilihan peternak adalah mencari ekspedisi lain atau ke pasar lokal.

"Pasar lokal ini jumlahnya terbatas. Jadi, kemungkinan akan ada perang harga ke pasar lokal, meski asosiasi sudah melarang," tegasnya

Berpotensi Merugi Lagi

Ilustrasi: Peternak telur mulai mulai merugi kembali. Dalam jangka waktu panjang, akan terjadi penurunan populasi ternak lagi. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Hingga Minggu siang harga jual telur adalah Rp 22.000-Rp 23.800 per kilogram. Hal ini jauh berbeda dengan pertengahan Agustus lalu yang mencapai Rp 27.500 per kilogram. Ini bikin khawatir, mengingat harga pokok produksi telur diperkirakan mencapai Rp 24.000-Rp 25.000 ribu per kilogram.

Dilihat dari angkanya, Krishandrika menegaskan bahwa peternak mulai merugi kembali. Dampak lanjutannya adalah terjadinya penurunan populasi ternak, apalagi jika berlangsung dalam waktu yang panjang.

"Kalau dibiarkan, gelombang penutupan kandang bisa terjadi lagi karena pendapatan mereka mulai minus. Padahal, beberapa waktu terakhir sempat timbul semangat bisa meningkatkan populasi dengan harga yang membaik, lo," ungkap Kris.

Oya, melonjaknya harga telur beberapa waktu lalu memang terjadi karena berkurangnya populasi ternak. Saat itu, tata-rata peternak mengalami penurunan populasi 10-30 persen imbas dari hancurnya harga telur setahun terakhir karena daya beli masyarakat yang rendah di tengah pandemi Covid-19.

Peternak terpaksa mengurangi populasi agar kandang-kandang mereka bisa dipertahankan. Menurut Kris, seharusnya dia dan kawan-kawan bisa menambah nilai jual sekarang. Namun, dampak kenaikan BBM membuat harga pokok produksi ikut naik.

"Butuh campur tangan pemerintah untuk menjaga agar kami bisa tetap eksis di dunia yang kami geluti ini, khususnya para peternak kecil," tandasnya.

Kebijakan apa pun, terutama yang berimbas langsung ke pasar mikro, memang harus segera diantisipasi pemerintah karena yang terdampak adalah mereka yang ada di akar rumput. Semoga masalah ini bisa segera teratasi tanpa mencederai siapa pun ya, Millens! (Siti Khatijah/E03)

Artikel ini telah terbit di Media Indonesia dengan judul Peternak Unggas Jawa Tengah Khawatir Penaikan BBM Berdampak pada Pengosongan Kandang

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengintip Sisi Lain Nusakambangan yang Indah di Pantai Bantar Panjang

11 Jan 2026

Waroeng Sate Pak Dul Tjepiring, Tempat Makan yang Juga Museum Mini

11 Jan 2026

Bahaya yang Mengintai saat Anak Terlalu Cepat Diberi Gawai

11 Jan 2026

Lebih dari Menikmati Kopi, 'Ngopi' adalah tentang Koneksi dan Ekspresi Diri

11 Jan 2026

Sungai Finke Sudah Mengalir Sebelum Dinosaurus Lahir

11 Jan 2026

Musim Hujan Bikin Para Ibu Gampang Capek dan Baperan? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

11 Jan 2026

Menilik Keindahan Curug Merak di Kabupaten Temanggung

12 Jan 2026

Cara Naik Kereta 36+3 di Jepang yang Santai dan Kaya Pemandangan Indah

12 Jan 2026

Belenggu Musim Baratan bagi Nelayan; Gagal Melaut dan Terjerat Lintah Darat

12 Jan 2026

Koperasi hingga Budi Daya Ikan, Upaya Pemkot Bantu Nelayan Semarang hadapi Paceklik

12 Jan 2026

3 Kode dari Tubuh Kalau Kamu Alami Intoleransi Gluten!

12 Jan 2026

Akses Jalan Mulai Terbuka, Desa Tempur Jepara Perlahan Bangkit Pascalongsor

12 Jan 2026

'Project Y', Film Korea Terbaru yang Duetkan Aktris Papan Atas Korea Han So-hee dan Jun Jong-seo

13 Jan 2026

Cerita Legenda Puncak Syarif di Gunung Merbabu

13 Jan 2026

Merti Sendang Curug Sari dan Kampanye 'Nggodog Wedang' Warga Pakintelan Semarang

13 Jan 2026

In This Economy, Mengapa Orang Masih Berburu Emas meski Harga Sudah Tinggi?

13 Jan 2026

Riset Ungkap Kita Sering Merasa Kebal dari Dampak Perubahan Iklim

13 Jan 2026

Bolehkah Makan Malam Cuma Pakai Buah?

13 Jan 2026

Sebenarnya, Boleh Nggak Sih Merokok di Trotoar Kota Semarang?

14 Jan 2026

Paradoks Memiliki Anak di Korea, Dianggap Berkah Sekaligus Kutukan Finansial

14 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: