BerandaKulinary
Senin, 5 Mar 2023 17:10

Legenda Nyai Randinem, Maestro Serabi Kalibeluk Batang

Konon, serabi Kalibeluk ditemukan Nyi Randinem. (Kompas/M. Irzal Adiakurnia via Tribun)

Manis, gurih, dan berukuran jumbo. Itulah sedikit gambaran mengenai serabi Kalibeluk Batang. Konon, kuliner ini diciptakan oleh seorang perempuan cantik bernama Nyai Randinem.

Inibaru.id - Salah satu kuliner yang patut dicoba ketika mengunjungi Kabupaten Batang adalah serabi Kalibeluk. Bila serabi di beberapa kota berukuran kecil, beda sama serabi Kalibeluk ini, Millens. Bentuknya besar dan berdiameter sekitar kurang lebih 10 sentimeter.

Kuliner bercita rasa manis gurih ini memiliki cerita asal usul yang menarik. Masyarakat Batang percaya jika serabi ini terkait dengan perempuan bernama Nyai Randinem. Ia adalah seorang perempuan cantik yang pertama kali membuat dan menjual kue tersebut.

“Resep kue serabi ini dia dapatkan dari Ki Ageng Cempaluk dari Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah,” tulis Yesaya Wisnu sebagaimana dimuat Solopos (24/3/2022).

Sebagai informasi, Ki Ageng Cempaluk merupakan ayah dari Tumenggung Bahurekso yang merupakan Senopati Kerajaan Mataram Islam. Ia dikenal sebagai sosok pembuka jalan di Alas Roban. Itu lo kawasan konservasi yang kini dikenal angker.

Ceritanya, Ki Ageng Cempaluk ini memberikan wejangan kepada Nyai Randinem untuk konsisten membuat serabi. Ia meyakinkan bahwa hidup Nyai Randinem akan penuh berkah dan berkecukupan pada masa mendatang.

“Perkataan Ki Ageng Cempaluk ini membuahkan hasil di mana keturunan Nyai Randinem berhasil memasarkan kue Serabi Kalibeluk Batang hingga sekarang,” papar Yesaya.

Konon, omongan Ki Ageng Cempaluk terbukti. Masyarakat percaya jika hanya keturunan dari Nyai Randimen yang bisa membuat serabi tersebut dengan cita rasa yang wah.

Kalau ada orang di luar keturunan Nyai Randinem yang membuat, tekstur kue serabinya akan lembek, rasanya hambar, meski adonan tepung, kelapa atau santan, dan gulanya tepat ukuran.

“Wah saya tidak tahu pak ya.. kalau menurut saya siapapun bisa mencobanya, syaratnya harus telaten,” jawab Surini salah seorang keturunan dari Nyai Randinem yang dimuat Mojok.

Menjaga warisan

Ada 8 rumah tangga yang membuat serabi Kalibekuk. (Tribun Jateng/Budi Santoso)

Kini di Desa Kalibeluk, melansir GNFI (28/2/2023), hanya terdapat sekitar delapan rumah tangga yang membuat kue serabi. Mereka masih keturunan dari Nyai Randinem yang terus menjaga warisan kuliner dari leluhurnya tersebut.

Surini menjelaskan bahwa dia mendapat keahlian membuat kue serabi dari orang tuanya. Setiap hari dirinya membuat serabi dengan bantuan anak-anaknya. Dalam sehari, Surini mengaku bisa menghasilkan kue serabi sebanyak 40 tangkup atau 80 buah.

“Untuk membuat serabi sebanyak 80 buah atau 40 tangkep diperlukan 15 kg beras ditambah kelapa 15 butir, gula aren, dan daun pandan secukupnya. Sedangkan untuk mencetak serabi hingga matang, setiap serabi membutuhkan waktu sekitar 5 atau 6 menit,” tutur Surini.

Biar kuliner ini tetap memiliki aroma khas, Surini menggunakan kayu bakar alih-alih elpiji atau arang. Selain itu, untuk membuat tepung beras dia masih mengerjakannya secara tradisional. Barangkali bagi Surini hal ini sudah pakem sehingga ketika Pemkab Batang hendak memberikan bantuan mesin, dirinya menolak secara halus.

“Itu bisa berpengaruh terhadap rasa serabi yang sudah kita buat secara turun temurun ini,” terangnya.

Hm, salut ya untuk para keturunan Nyai Randinem yang terus melestarikan resep turun temurun ini ya? Eh, kamu sudah pernah mencicipi serabi Kalibeluk, Millens? (Siti Zumrokhatun/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: