BerandaKulinary
Rabu, 6 Agu 2024 09:14

Hanya Buka saat Kliwon dan Pahing, Senikmat Apa Opor Bebek Bu Suyud?

Opor Bebek Bu Suyud hanya buka pada pasaran Kliwon dan Pahing. (X/sneakygambit)

Meski hanya buka dua sampai tiga hari dalam seminggu, nyatanya Opor Bebek Bu Suyud selalu ramai. Seperti apa sih kisah dari tempat makan legendaris yang satu ini?

Inibaru.id – Jika sebuah tempat makan nggak selalu buka setiap hari namun setiap kali buka bakal dijejali pembeli, bisa dipastikan tempat makan tersebut istimewa. Hal inilah yang berlaku pada tempat makan Opor Bebek Bu Suyud Yogyakarta.

Lokasinya ada di Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jika dirunut jaraknya dari pusat kota Yogyakarta, sekitar 20 kilometer ke utara. Dari Pasar Turi, jaraknya hanya sekitar 300 meter, Millens. Meski cukup jauh dari Kota Jogja, nyatanya banyak orang yang jauh-jauh ke sana hanya demi mencicipi kelezatan opor bebek yang kabarnya unik dan nggak ada duanya ini.

Jika menilik hari bukanya yaitu hanya pada pasaran kalender Jawa Kliwon dan Pahing, bisa dipastikan bahwa warung ini hanya buka dua hari saja dalam seminggu. Itu pun nggak berurutan. Kok bisa begitu, ya?

Terkait dengan hal ini, generasi kedua yang mengelola Opor Bebek Bu Suyud, yaitu Rusdiah membeberkan cerita tentang warung ini. Kalau menurut perempuan berusia 48 tahun ini, usaha kuliner ini sudah eksis sejak 1960-an.

“Ibu saya sudah jualan opor bebek sejak sebelum menikah di Desa Karanggeneng. Beliau mendapatkan resep opor bebek dari kakaknya yang berhenti berjualan karena ikut suaminya setelah menikah. Kali pertama buka di Pasar Srowolan,” ucap Rusdiah sebagaimana dinukil dari Mojok, (4/3/2023).

Pasar ini hanya buka pada hari pasaran Wage. Otomatis, Bu Suyud juga hanya buka pada hari itu saja. Nah, tetangga dan pelanggan protes karena jadi kesulitan mencari lauk kalau usaha opor bebeknya nggak buka. Akhirnya, Bu Suyud juga jualan di Pasar Turi yang hanya buka pada pasaran Kliwon dan Pahing.

Usai menikah pada 1965, Bu Suyud boyongan ke Desa Donokerto mengikuti suaminya. Tapi, dia tetap bisa jualan opor bebek di kedua pasar yang disebutkan sebelumnya. Lambat laun, jumlah pelanggannya semakin banyak. Bu Suyud sampai punya karyawan agar bisa membantunya. Nah, pada akhir dekade pertama 2000-an, barulah Rusdiah mulai belajar memasak dan melayani tamu dari ibunya sebelum akhirnya benar-benar mewarisi usaha ini.

Dapur Opor Bebek Bu Suyud. (Googleuser/Anik Setyawati)

Jika awalnya sudah jualan di pasar, kok sekarang di rumah? Ternyata, hal ini disebabkan oleh erupsi Gunung Merapi pada 2010. Selama tiga bulan Rusdiah mengungsi dan sempat mengira bakal kehilangan rumahnya. Tapi, ternyata rumah masih berdiri tegak walaupun dipenuhi material vulkanik. Dari situlah, Rusdiah mulai berjualan di rumahnya.

O ya, yang unik dari tempat makan ini adalah nggak menyediakan nasi. Alasannya, karena sejak awal Opor Bebek Bu Suyud dibuka untuk menyediakan lauk saja. Jadi, kalau kamu pengin makan opor bebeknya di sana, harus menyiapkan nasi sendiri. Itu pun kamu makannya di dapur, ya.

Selain itu, alasan mengapa hanya buka pada Kliwon dan Pahing adalah meneruskan hari pas jualan di Pasar Turi.

“Kalau buka tiap hari takutnya opor bebeknya malah nggak banyak yang beli. Selain itu, saya sudah punya jadwal pasti yaitu pada pasaran Pon saya harus ke Pasar Bringharjo untuk belanja bumbu, memotong bebek pada pasaran Wage, dan pada Pahing dan Kliwon baru berjualan,” ungkapnya.

Harga per potong daging bebek yang dijual di sana sekitar Rp11 ribu sampai Rp18 ribu. Cukup terjangkau untuk makanan legendaris, ya?

Tertarik makan di sana, Millens? Kalau iya, pastikan datang pagi-pagi karena sejak pukul 04.00 WIB sudah banyak pelanggan yang berdatangan. Bahkan, nggak jarang pada pukul 09.00 WIB, opor bebeknya sudah habis.

Jadi, kapan nih kita wisata kuliner di Opor Bebek Bu Suyud? Ingat, bawa nasi sendiri, ya! (Arie Widodo/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: