BerandaKulinary
Senin, 26 Okt 2025 18:26

Gurihnya Puthul, Kuliner Ekstrem Gunungkidul yang Kaya Protein

Puthul goreng khas Gunungkidul. (Kompas)

Bagi masyarakat Gunungkidul, puthul merupakan bahan pangan bernilai tinggi.


Inibaru.id - Di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, muncul kebiasaan yang mungkin terasa unik bagi banyak orang yakni mengonsumsi serangga yang dalam musim hujan kerap bermunculan dari ladang dan sawah. Seekor serangga yang disebut Puthul menjadi bahan pangan lokal yang cukup populer; bukan hanya sebagai camilan, tetapi juga sering menjadi bekal anak-anak sekolah.

Apa dan Siapa Puthul?

Puthul adalah istilah lokal yang digunakan warga Gunungkidul untuk menyebut sejenis kumbang tanah dari keluarga Scarabaeidae (kadang disebut juga sebagai jenis Phyllophaga helleri) yang fase larvanya dikenal sebagai “uret”. Pada fase larva, hewan ini hidup di dalam tanah dan dikenal sebagai hama akar tanaman, termasuk padi gogo karena aktif memakan bagian akar.

Fase dewasa puthul muncul secara musiman ketika tanah mulai lembap, terutama saat musim hujan datang. Fenomena ini dalam tradisi setempat disebut sebagai musim “rampal”, yaitu masa di mana beberapa jenis serangga dan hewan tanah bermunculan serentak.

Larva puthul atau uret berbentuk menyerupai huruf “C”, berwarna putih kekuningan, tubuh lunak, dan hidup di dalam tanah, umumnya di kedalaman yang bervariasi tergantung kelembapan. Sementara itu, kumbang dewasa terlihat berwarna cokelat kemerahan, aktif terutama menjelang malam, dan terbang keluar dari tanah ketika musimnya tiba.

Dari Hama ke Hidangan: Olahan Puthul

Penampakan puthul yang kaya protein. (Youtube/wakhidnur)

Yang menarik, meskipun puthul dalam fase larva dianggap hama yang merugikan pertanian, masyarakat Gunungkidul telah menjadikannya bahan pangan yang bernilai lokal tinggi. Dua cara pengolahan paling populer adalah digoreng atau dibacem.

Nggak hanya unik secara budaya, puthul ternyata kaya gizi. Menurut riset yang dikutip oleh media, puthul yang dikeringkan bisa memiliki kadar protein hingga 30-40 persen. Selain itu, puthul juga mengandung lemak tak jenuh (Omega 3), vitamin B, zat besi, dan kalsium. Bahkan kulit luarnya mengandung kitin, yang bisa mendukung mikrobiota baik dalam sistem pencernaan manusia.

Namun, konsumsi puthul juga memerlukan kehati-hatian terdapat kemungkinan reaksi alergi pada sebagian orang, mirip seperti reaksi terhadap konsumsi udang atau serangga lain.

Puthul menjadi simbol bagaimana masyarakat Gunungkidul mampu merubah “masalah” (hama pertanian) menjadi “peluang”, baik sebagai sumber pangan alternatif dan bernilai ekonomi, maupun sebagai bagian dari tradisi yang menghargai siklus alam. Fenomena ini mencerminkan bahwa manusia dan alam bisa hidup berdampingan dengan saling mendukung, bukan hanya dalam kondisi ideal tetapi juga dalam tantangan ekologi dan sosial.

Berada di ladang atau sawah Gunungkidul pada musim hujan, bila tiba-tiba muncul kerumunan kecil kumbang tanah yang disebut puthul, sebenarnya kamu sedang melihat bagian dari ritual alam yang terjaga. Dari serangga yang pernah dianggap hama, tumbuhlah camilan renyah yang kaya gizi, buah kreativitas dan kearifan lokal. Puthul bukan hanya soal rasa gurih renyah semata, tetapi tentang makna bahwa setiap bagian alam punya potensi jika kita mampu melihat dan menghargainya. Betewe, kamu mau cobain puthul nggak nih, Gez? (Siti Zumrokhatun/E05)


Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: