BerandaInspirasi Indonesia
Senin, 27 Jun 2021 17:00

Semalam Menebar Kebaikan bersama Komunitas Berbagi Nasi Semarang

Salah satu sasaran Bernas yakni para pekerja malam dan juga tunawisma. (Inibaru.id/ Bayu N)

Di tengah masyarakat yang kian berjalan sendiri-sendiri, rupanya masih ada anak muda yang gemar berbagi. Nggak hanya sendiri, mereka berkumpul saban Jumat malam, lalu menyisihkan rezeki untuk mereka yang patut diberi. Inilah Komunitas Berbagi Nasi Semarang yang perlu kamu ketahui.

Inibaru.id - Di antara gemerlap lampu jalanan Kota Lama Semarang pada malam hari, muda-mudi ini berjalan pelan. Santai, tapi mata mereka siaga. Saya mengikuti mereka dari belakang, menyusuri jalanan yang mulai lengang, untuk membagikan nasi kotak di tangan.

Masing-masing dari mereka menjinjing kantung kresek. Sesekali mereka berhenti di hadapan orang-orang yang masih beraktivitas atau tengah mengeluk punggung di pinggir jalan. Sebentar bercakap, mereka kemudian mengansurkan nasi kotak dan minuman gelas dari dalam kresek.

Begitulah aktivitas mingguan para anggota Komunitas Berbagi Nasi Semarang (Bernas) tersebut. Menurut saya, sangat sederhana. Kegiatannya cuma membagikan makanan dan minuman kepada orang-orang yang hidup di jalanan, yang kerap belum beristirahat kendati malam sudah tiba.

Tutur Wijaya, salah seorang koordinator kegiatan Bernas yang berjalan bersama saya mengungkapkan, sasaran utama komunitas ini adalah para tunawisma, pekerja malam, dan penjaga warung di pinggir jalan. Mereka beraksi saban Jumat malam.

"Yang utama tunawisma dan pekerja malam, meski sebenarnya bisa siapa saja (yang diberi nasi). Kalau mau minta juga kami kasih," terangnya kepada saya di sela kegiatan berbagi nasi di Kawasan Kota Lama Semarang, belum lama ini.

Anggota Komunitas Bernas kebanyakan merupakan para mahasiswa. (Inibaru.id/ Bayu N)

Lelaki yang saat ini tengah menyelesaikan masa studinya di Universitas Diponegoro Semarang tersebut menjelaskan, malam itu dia bertindak sebagai koordinator. Namun, ini bukanlah jabatan tetap, karena anggota komunitas yang telah dikenal masyarakat sejak lebih dari sedekade itu memang berubah-ubah.

Wijaya, sapaan akrabnya, hingga saat ini bahkan nggak tahu siapa pendiri komunitas tersebut. Yang dia ingat, komunitas sosial itu telah berdiri sejak 2009. Namun begitu, anggota yang bersifat mana suka dan struktur organisasi yang nggak pernah ada membuat dia kehilangan jejak gimana awal berdirinya.

"Di Bernas itu nggak ada ketua. Yang ada koordinator per kegiatan," terang lelaki berkacamata ini ringan. "Siapa saja yang mau datang, ya, tinggal datang saja.”

Dari Kas dan Para Donatur

Makanan dan minuman yang dibagikan Komunitas Bernas berasal dari donasi dan uang kas. (Inibaru.id/ Bayu N)

Alih-alih komunitas dengan garis struktur organisasi yang pasti, Bernas sejatinya memang lebih mirip seperti klub atau perkumpulan sosial yang nggak terlalu merisaukan hierarki semacam itu. Mereka cukup mengandalkan penanggungjawab kegiatan untuk memudahkan koordinasi.

Sementara, untuk urusan logistik, terutama terkait makanan dan minuman yang bakal dibagikan kepada masyarakat, Wijaya mengungkapkan, mereka menggunakan uang kas anggota. Selain itu, mereka juga biasa dapat dari uang donasi.

Dia juga mengatakan, para donatur Bernas umumnya berasal dari relasi atau anggota senior yang udah nggak aktif di Bernas. Wijaya menambahkan, di Bernas juga ada penjual nasi goreng yang sudah lama menjadi donatur tetap.

"Namanya Pak Adi, tapi donasinya bukan uang,” ungkapnya. “Jadi, tiap Jumat malam gitu dia sudah menyiapkan beberapa kresek berisi nasi goreng bungkus.”

Masjid Kauman sebagai Titik Kumpul

Siapkan fisik yang baik kalau mau ikut beraksi membagikan nasi! (Inibaru.id/ Bayu N)

Setiap melancarkan aksinya, para anggota Bernas selalu menjadikan Masjid Kauman Semarang sebagai titik kumpul. Menurut Wijaya, masjid yang berlokasi di Bangunharjo, Kecamatan Semarang Tengah, ini menjadi titik yang paling pas karena di lingkungan sekitar masjid banyak orang yang sesuai kriteria.

"Di sekitar titik (Masjid Kauman) itu paling sering kami jumpai orang-orang yang membutuhkan," akunya.

Dari masjid kebanggaan orang Semarang itu, mereka biasanya mulai bertolak ke sekitar Pasar Johar lama, lalu mengitari Bundaran Bubakan, terus ke Kota Lama, hingga tiba di Jembatan Berok. Sekali jalan, kegiatan yang dimulai pada malam hari itu bisa menempuh jarak hingga beberapa kilometer.

Wijaya mengungkapkan, hal paling menarik ketika membagi-bagi nasi itu adalah bisa bertemu berbagai macam orang dengan profesi yang berbeda, tanpa perlu membeda-bedakan. Semuanya kebagian, mulai dari tukang becak, waria, hingga mereka yang tengah beristirahat di emperan toko.

Bagi sebagian orang, nasi kotak mungkin hanyalah pemberian sederhana. Namun, bagi mereka yang membutuhkan, pemberian ini tentu saja menjadi sangat bermakna. Dengan mata kepala sendiri, saya bisa melihat gimana penerima "bingkisan malam" itu berterima kasih. Bikin terharu, deh!

Maka, nggak berlebihan rasanya saya menganggap mereka ibarat para malaikat yang bergerak senyap di jalanan; membagikan kebaikan dengan sekotak nasi. Ha-ha. Sehat-sehat selalu ya, Wijaya dan kawan-kawan! (Bayu N/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: