Guru Honorer dengan Usaha Sampingan Bisnis Anggrek Beromzet Ratusan Juta

Dibandingkan gajinya yang sebagai guru honorer, agrobisnis anggrek yang dijalankannya agaknya jauh lebih menjanjikan. Namun, lelaki bernama lengkap Ikhsan Nur Wicaksono ini tetap melakoni perannya sebagai guru olahraga dan menjadikan bertani anggrek sebagai bisnis sampingan.

Inibaru.id - Ikhsan masih mengenakan seragam guru kebesarannya saat menyemprotkan pupuk ke ribuan bunga anggrek di green house kepunyaannya. Tampaknya, lelaki berjambang ini begitu menikmati kedua profesi yang kini digelutinya ini, yakni sebagai guru olahraga dan petani anggrek.

Untuk profesi terakhir, Ikhsan mengaku baru menjalaninya pada 2017. Namun, siapa menyangka usahanya itu telah menangguk keuntungan cukup besar. Dengan lima green house yang dimilikinya saat ini serta ratusan reseller-nya yang tersebar di Jateng dan Jatim, dia bisa mendapatkan ratusan juta per bulan.

Nggak hanya menanam dan menjual anggrek, Ikhsan Nur Wicaksono kini juga tengah merambah ke bisnis jasa pembuatan green house. Kliennya berasal dari berbagai daerah.

“Dalam sepekan, alhamdulilah 1.000-2.000 bunga anggrek bisa terjual. Kalau ditambah bisnis pembuatan green house, omzetnya sekitar Rp 500-750 juta sebulan,” terangnya kepada Inibaru.id di green house-nya yang berlokasi di Desa Sidomulyo, Candimulyo, Kabupaten Magelang, belum lama ini.

Bukan tanpa alasan Ikhsan memilih bertani anggrek sebagai bisnis sampingannya. Menurut lelaki berkacamata ini, selain bunganya yang molek dan cocok untuk dijadikan tanaman hias, sejak lama anggrek telah menjadi salah satu tanaman yang dibanderol mahal.

“Anggrek itu punya nilai estetika yang luar biasa untuk orang Indonesia. Bahkan, memiliki anggrek kerap dianggap bisa menaikkan strata sosial,” aku Ikhsan, menerangkan peluang agrobisnis anggrek yang membuatnya tergiur.

Dia menambahkan, bisnis anggrek yang digelutinya itu mungkin nggak bisa sebesar sekarang kalau alumnus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu nggak melakukan kerja sama dengan importir anggrek dari Jakarta.

Mulai 2018, dia mengaku berkongsi dengan lima perusahaan swasta yang mendatangkan tanaman anggrek dari Taiwan. Sebagai distributor, dia kemudian memasarkan anggrek-anggrek itu ke sekitar Jateng dan Jatim, di antaranya ke Solo, Klaten, Ponorogo, dan Jember.

Sukses dengan bisnis anggrek, beberapa orang kini tampak mulai melihat peluang bisnis pada tanaman anggrek dan berniat mengembangkannya sendiri. Peluang ini juga nggak luput dari pengamatan Ikhsan. Hasilnya, dia membuka jasa pembuatan green house yang segera diminati orang.

Selama 2021, dia sudah dapat tujuh klien yang minta dibuatkan green house. Para klien itu berasal dari sekitar Jateng seperti Solo dan Klaten, hingga luar Jawa kayak Denpasar. Untuk green house seluas 800 meter persegi, Ikhsan memasang tarif Rp 200 juta.

Kekuatan Reseller

Selain kejelian melihat peluang dan keuletannya mengembangkan bisnis, kekuatan para reseller agaknya juga menjadi bagian penting dalam kesuksesan Ikhsan. Mereka yang tersebar di berbagai wilayah ibarat perpanjangan tangannya yang kian membuat bisnis Ikhsan kian menguntungkan.

Nggak melulu dirinya, kesuksesan yang diraih Ikhsan ini rupanya juga dirasakan para reseller-nya. Suhartono, salah seorang reseller anggrek asal Salatiga, mengaku juga meraup keuntungan yang lumayan besar dari berjualan anggrek.

Dia yang semula mengaku hanya coba-coba berjualan anggrek yang dibelinya dari Ikhsan, justru kini keterusan setelah melihat ada keuntungan yang bisa didapatkan dari tanaman bernama latin Orchidaceae tersebut.

“Paling laris Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) dan Dendrobium, Mas. Harganya enteng di kantong, kecantikanya luar biasa,” ujar Suhartono saat menyetok tanaman anggrek di green house milik Ikhsan.

Suhartono mengaku menjual anggrek mulai dari bibit yang harganya masih puluhan ribu rupiah hingga anggrek dewasa yang bunganya sudah mekar seharga ratusan ribu rupiah. Agrobisnis anggrek, menurut Suhartono, lumayan untuk mengisi waktu luang sekaligus menambah uang jajan.

Wah, kisah yang menarik nih! Peluang memang bisa muncul dari mana saja, tentu saja bagi mereka yang jeli melihatnya. Ha-ha. (TriawandaTirta Aditya/E03)