BerandaInspirasi Indonesia
Selasa, 8 Jan 2024 13:32

Ahmad Rofiq: Ajak Wisatawan Kota Lama Semarang Praktik Membuat Wayang Suket

Ahmad Rofiq memegang wayang suket buatannya di Kios Barang Antik Kota Lama Semarang. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Di Kota Lama Semarang, Ahmad Rofiq nggak hanya memperkenalkan, melainkan mengajak para wisatatawan untuk praktik membuat wayang suket. Berkat kreativitasnya tersebut, orang-orang jadi tahu proses pembuatan kerajinan tangan berbahan rumput tersebut.

Inibaru.id - Dari tahun ke tahun Kota Lama menjelma jadi destinasi wisata favorit di Semarang. Berdasarkan rekapan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, sebanyak 120.903 wisatawan berkunjung ke Kota Lama selama periode libur Natal 2023 dan Tahun Baru 2024.

Tapi, keramaian wisatawan itu ternyata tak bikin salah satu pemandu wisata Kota Lama Ahmad Rofiq senang, Millens. Rofiq, begitu dia disapa, khawatir wisata Kota Lama ditinggalkan lantaran minimnya aktivitas yang melibatkan pengunjung.

"Semisal jenengan bawa tamu ke Kota Lama, terus apa yang bisa dilakukan dengan pengunjung? Bisa dilihat sepi nggak ada kegiatan, kan?" kata Rofiq pada Inibaru.id belum lama ini.

Lelaki berusia 47 tahun tersebut menyebut aktivitas seperti melihat bangunan tua lalu diabadikan melalui ponsel adalah hal biasa. Jadi harus ada gebrakan yang bikin wisatawan tertarik datang lagi ke Kota Lama.

"Berbeda dengan orang berwisata ke Kampung Batik. Mereka datang ke sana, selain bisa melihat produk batik, juga bisa sekalian belajar membatik," terangnya.

Konsep Wisata Edukasi

Seorang pengunjung sedang melihat beberapa karya wayang suket buatan Ahmad Rofiq. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Kegelisahan Rofiq terhadap kondisi Kota Lama itu sudah dia rasakan sejak tahun 2017. Namun, lelaki yang juga menjadi penjual barang-barang antik itu tidak tinggal diam.

Seiring berjalannya waktu, tercetuslah sebuah ide wisata edukasi sekaligus pengenalan terhadap kebudayaan wayang suket. Wisatawan yang tertarik dengan wayang suket akan diajari pembuatannya dari nol.

Oya, perlu kamu ketahui, wayang suket merupakan karya tiruan dari berbagai bentuk wayang kulit yang terbuat dari rumput. Di desa-desa yang ada di Jawa, wayang suket sering dijadikan media permainan maupun penyampaian cerita pewayangan kepada anak-anak.

"Wayang suket ini tumbuh dari bawah di beberapa daerah Jawa Tengah seperti Purbalingga, Purworejo, Klaten," ucap Rofiq. "Setiap daerah memiliki ciri khas yang berbeda-beda".

Beberapa karakter wayang suket. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Kreativitas yang dilakukan Rofiq itu ternyata tidak sia-sia. Karyanya sampai dilirik wisatawan mancanegara seperti Malaysia, Belanda hingga Prancis saat berkunjung ke Kota Lama Semarang.

Mulanya Rofiq hanya bisa membuat beberapa bentuk karakter seperti Semar, Dewi Sri, Petruk, Ramayana. Tapi, banyak wisatawan yang memesan karakter lain misalnya bentuk binatang.

"Sekarang bentuk apapun bisa, karena prosesnya saya dipaksa seseorang yang pesan," imbuhnya.

Harga wayang suket bikinannya berbeda-beda. Semua itu bergantung pada bentuk karakter yang diinginkan wisatawan. Rofiq biasanya mematok tarif dari Rp25 ribu hingga Rp40 ribu.

"Kalau ada yang mengatakan (wayang suket) mahal, silahkan! Saya menghargai waktu ketika mencari bahan dan mengerjakannya," tukas Rofiq.

Kalau kamu tertarik dengan wayang suket ini, jangan lupa mampir ke kios Pasar Barang Antik Kota Lama ya! Kamu bisa belajar proses pembuatan wayang suket dan dibimbing langsung oleh Ahmad Rofiq. (Fitroh Nurikhsan/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: