Taman Srigunting di Kota Lama Semarang, Dulu Lapangan Parade Belanda

Taman Srigunting di Kota Lama Semarang, Dulu Lapangan Parade Belanda
Taman Srigunting di Kota Lama Semarang. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Tahu nggak kalau Taman Srigunting baru dibangun di masa Orde Baru? Dulu, lokasi taman ini adalah Lapangan Parade bagi tentara Belanda, lo. Seperti apa ya sejarahnya?

Inibaru.id – Dari sekian banyak ikon bangunan lawas di Kota Lama Sekarang, Taman Srigunting jadi salah satu favorit bagi para pengunjung untuk sekadar duduk-duduk sambil menikmati bangunan-bangunan lawas di sekitarnya seperti Gereja Blenduk. Nah, meski ukuran taman ini kecil, nilai sejarahnya sangat besar, lo.

Taman Srigunting ada di persis sebelah timur Gereja Blenduk. Di sana, ada sejumlah pohon berukuran besar yang membuat tempat duduk-duduk atau berjalan kaki di bawahnya terasa sejuk dan rindang. Andai kamu datang ke sana pada tengah hari sekalipun, nggak bakal kepanasan.

Pada zaman kolonial, Taman Srigunting dikenal dengan sebutan Paradeplein atau lapangan parade. Jadi, pada masa itu, taman ini belum ditumbuhi pohon tinggi seperti sekarang ini. Lapangan parade ini juga cukup luas karena ada di lokasi yang kini jadi Taman Srigunting dan Gedung Kerta Niaga yang ada di sebelah timur taman.

Lapangan parade ini dibuat sesuai dengan perluasan benteng yang dilakukan VOC pada 1690-an. Kala itu, Belanda memang mulai menggeser pusat pertahanan dari yang awalnya Jepara menuju ke Kota Atlas. Nah, benteng yang dikenal dengan sebutan benteng lima sudut itu pun dibangun di sekitar Jembatan Berok.

“Dulu Kota Lama itu adalah benteng pertahanan VOC dan bentuknya segilima, kecil, bukan seluas sekarang,” jelas sejarawan Semarang Rukardi Achmadi, Kamis (11/7/2019).

Meski ukurannya kecil, Taman Srigunting teduh dan nyaman dijadikan tempat duduk-duduk pengunjung Kota Lama. (Inibaru.id/Audrian F)
Meski ukurannya kecil, Taman Srigunting teduh dan nyaman dijadikan tempat duduk-duduk pengunjung Kota Lama. (Inibaru.id/Audrian F)

Pada 1715, perluasan benteng dilakukan seiring dengan semakin tingginya aktivitas VOC di Pantura dan bagian timur Jawa. Semarang pun jadi pusat kegiatan VOC untuk keperluan tersebut. Nah, dalam catatan Belanda, pada saat perluasan benteng dilakukan, lapangan parade sudah eksis.

Yang menarik, lapangan parade ini nggak hanya dipakai untuk latihan para tentara. Di sana juga ada sumur artetis hingga gazebo yang dipakai untuk bermain musik.

“Sumur itu digunakan masyarakat setiap harinya. Kalau tugu reklame itu untuk melihat informasi, biasanya di tempat strategis. Kalau di lapangan parade dulu ada di dekat Gereja Blenduk. Lalu ada gazebo beratap tapi terbuka, tak ada temboknya. Di situ untuk bermain musik,” lanjut Rukardi.

Taman Srigunting modern ternyata dibangun pada saat Indonesia sudah merdeka, bahkan sudah dalam masa pemerintahan Orde Baru. Pada akhir 1970-an sampai awal 1980-an, taman ini dibangun meski nggak dibuka untuk umum. Fungsinya saat itu sebagai paru-paru kota.

Pada 2004, dibangun jalan setapak di dalam taman kecil tersebut agar masyarakat bisa duduk-duduk dan menikmati rindangnya Taman Srigunting. Setelah itu, sejumlah renovasi dilakukan agar taman jadi lebih tinggi dari jalan di sekitarnya.

Meski beda dengan fungsinya sebagaimana pada zaman Belanda, keberadaan taman yang teduh ini seperti mempercantik bangunan-bangunan khas Belanda yang ada di Kota Lama sekarang. Setuju kan, Millens? (Ayo/IB09/E05)