BerandaHits
Kamis, 7 Jan 2026 09:01

Ternyata, Pemandangan Gunung Fuji Bersih Tanpa Awan Itu Langka di Jepang

Pemandangan Gunung Fuji di Jepang. (Japan National Tourism Organization)

Gunung Fuji hanya akan terlihat jelas tanpa tutupan awan atau kabut dalam 60-80 hari saja dalam setahun, Gez. Makanya, kalau pengin main ke Jepang biar bisa melihatnya langsung, harus pandai-pandai memilih waktu yang tepat.

Inibaru.id - Gunung Fuji kerap digambarkan sebagai ikon Jepang yang selalu gagah berdiri dengan puncak bersalju. Namun kenyataannya, melihat pemandangan gunung ini dengan jelas bukan perkara mudah. Pasalnya, banyak wisatawan dari luar negeri yang nggak tahu tentang fakta ini, yaitu Gunung Fuji benar-benar terlihat jelas tanpa tutupan awan hanya sekitar 60–80 hari dalam setahun.

Padahal, dalam setahun kan ada 365 hari, ya? Jadi, gunung tertinggi di Jepang itu lebih sering “sembunyi” di balik awan, kabut, atau haze daripada terlihat jelas seperti di foto-foto wisata Negeri Sakura, Gez.

Informasi ini bukan sekadar mitos. Berdasarkan pengamatan meteorologi jangka panjang, terutama dari wilayah Tokyo dan sekitarnya, Fuji memang hanya menampakkan wujudnya secara utuh dalam jumlah hari yang terbatas setiap tahun. Kondisi iklim Jepang yang lembap, ditambah awan yang mudah terbentuk di sekitar pegunungan, membuat pemandangan Gunung Fuji sering terhalang, meski cuaca di kota terlihat cerah.

Salah satu faktor utama penyebabnya adalah udara di Jepang yang memiliki kadar kelembapan yang cukup tinggi, terutama saat musim semi hingga musim panas. Uap air di atmosfer memicu terbentuknya awan dan kabut yang dengan cepat menyelimuti Gunung Fuji. Selain itu, partikel air di udara juga menimbulkan haze atau efek buram yang membuat siluet gunung sulit terlihat jelas dari kejauhan.

Pemandangan Gunung Fuji di musim panas, tertutup awan dan nggak jauh beda dari gunung di Indonesia. (Yourintrepidfamily)

Musim panas justru menjadi periode paling “mengecewakan” bagi pemburu pemandangan Fuji. Meski cuaca terasa hangat dan nyaman untuk liburan, visibilitas gunung biasanya rendah. Awan tebal sering muncul sejak siang hari, bahkan tak jarang sudah menutup puncak Fuji sejak pagi. Tak heran jika banyak wisatawan yang datang di musim panas harus pulang dengan foto Fuji yang setengah tertutup awan, atau bahkan tak terlihat sama sekali.

“Benar, kalau di rumah saya di Temanggung, pas musim kemarau kan malah gunungnya kelihatan jelas ya di pagi hari. Pas aku ke Jepang di musim panas, malah ketutup awan dan kurang jelas. Pemandangannya malah jadi kayak gunung di Indonesia,” ucap salah seorang pekerja swasta di Semarang, Lestari, pada Senin (5/1/2026).

Di sisi lain, musim dingin menjadi waktu terbaik untuk melihat Gunung Fuji dalam kondisi paling sempurna. Udara yang dingin dan kering membuat kelembapan jauh berkurang, sehingga langit lebih bersih dan jernih. Pada bulan November hingga Februari, peluang melihat Fuji tanpa halangan meningkat drastis. Pagi hari, terutama saat matahari baru terbit, disebut-sebut sebagai momen emas karena awan belum sempat terbentuk.

Beberapa lokasi favorit untuk berburu pemandangan Gunung Fuji antara lain Danau Kawaguchiko, Hakone, hingga area Fuji Five Lakes. Dari tempat-tempat ini, Fuji bisa terlihat sangat jelas saat kondisi cuaca mendukung. Namun tetap saja, semuanya bergantung pada keberuntungan dan timing.

Karena melihat Gunung Fuji dengan jelas sering dianggap sebagai momen spesial, banyak orang rela kembali ke Jepang di musim dingin setelah gagal melihatnya di musim panas. Jadi, jika suatu hari kamu berhasil menyaksikan gunung ini berdiri megah tanpa awan, bisa dibilang kamu sedang sangat beruntung, Gez. (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

20 Mei 2026

SMA Negeri 1 Kemalang Resmi Berdiri, Anak Lereng Merapi Tak Perlu Sekolah Jauh Lagi

20 Mei 2026

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Congklak, Permainan Tradisional Tertua yang Kini Mulai Dilupakan

29 Mei 2026

Mengenal Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu yang Selalu Mencuri Perhatian Saat Waisak

2 Jun 2026

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: