BerandaHits
Minggu, 13 Des 2025 15:01

Tanda-Tanda Awal Autisme pada Bayi dan Balita; Mengapa Deteksi Dini Penting?

Ilustrasi: Gejala autisme sudah bisa dideteksi sejak balita. (Unsplash/Caleb Woods)

Mencakup tantangan sosial-komunikasi dan perilaku repetitif serta terbatas, berikut adalah panduan lengkap mengenali tanda-tanda awal autisme pada bayi dan balita serta pentingnya deteksi dan intervensi dini untuk mendukung perkembangan anak secara optimal.

Inibaru.id - Sarah, bukan nama sebenarnya, adalah ibu dari seorang anak penderita autisme. Saat ini buah hatinya telah menginjak usia delapan tahun. Dia mengaku kurang lebih sudah tiga tahun sejak dia mengetahui bahwa anaknya mengalami gangguan tersebut.

"Saya melihat gejala tersebut saat dia mulai terlihat menghindari kontak mata. Suami saya yang kali pertama menyadarinya. Semula saya anggap baik-baik saja, hingga akhirnya kami memutuskan untuk konsultasi ke layanan kesehatan anak," cerita perempuan 35 tahun tersebut, Kamis (11/12/205).

Sedikit informasi, autisme merupakan gangguan perkembangan yang memengaruhi cara seorang anak belajar berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.

"Saya termasuk yang terlambat mendeteksi gejala bahwa anak saya 'spesial', karena setahu saya gangguan spektrum autisme sudah bisa dikenali sejak anak berusia satu tahun," sebut perempuan asal Kota Salatiga yang saat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini.

Terlihat sejak 6 Bulan

Sebagaimana yang dialami Sarah, data menyebutkan bahwa rata-rata orang tua baru mengetahui anak mengalami gangguan autisme pada usia 5 hingga 6 tahun, meski sejatinya gangguan spektrum autisme (ASD) dapat didiagnosis sejak usia 12 bulan.

Padahal, autisme adalah gangguan perkembangan awal yang bersifat seumur hidup. Diagnosis dini sejatinya diperlukan karena akan menjadi kunci untuk memberikan dukungan terbaik selama periode perkembangan kritis sebelum usia lima tahun.

Direktur Autism Center di Child Mind Institute, dr Cynthia Martin, yang bekerja dengan anak-anak autistik, menjelaskan bahwa tanda-tanda ASD sebenarnya sudah dapat muncul sejak bayi berusia enam bulan, meski nggak terjadi pada semua orang.

“Untuk sebagian besar anak, secara umum gejala ASD sudah bisa terlihat antara usia enam bulan hingga tiga tahun,” tutur psikolog klinis dengan spesialisasi autisme dan gangguan perkembangan saraf lain tersebut, belum lama ini.

Dua Kategori Gejala Autisme

Namun begitu, dr Cynthia mengatakan, tanda-tanda autisme memang acapkali begitu halus sehingga terlewatkan oleh orang tua, kecuali mereka memang sudah benar-benar mengetahui apa saja yang perlu diamati untuk mendeteksi kemungkinan anaknya mengalami autisme.

Gejala autisme pada bayi dan balita, dia menyebutkan, terbagi menjadi dua kategori utama. Yang pertama adalah tantangan sosial-komunikasi. Sementara, yang kedua adalah perilaku yang terbatas dan repetitif (restrictive and repetitive behaviors/RRBs).

Anak dengan ASD biasanya menunjukkan ketidakhadiran keterampilan sosial-komunikasi yang seharusnya muncul. Selain itu, terlihat juga perilaku-perilaku yang nggak khas.

Sarah mengatakan bahwa anaknya mengalami keterlambatan berbicara hingga berusia dua tahun. Dia mengaku sempat terkejut, tapi nggak begitu khawatir terhadap situasi tersebut. Dia juga mengatakan bahwa anaknya cenderung pendiam dan nggak banyak membuat gestur sebagaimana kakaknya.

"Anak kedua saya ini pendiam, tidak banyak menunjuk atau melambaikan tangan seperti kakaknya. Semula saya pikir, ya sudahlah, dia masih kecil juga," sesalnya.

Gestur sebagai Bentuk Deteksi Dini

Menurut dr Cynthia, banyak orang tua nggak menyadari bahwa anaknya mengalami autisme karena belum mendapatkan literasi tentang komunikasi sosial. Padahal, keterampilan dasar seperti melambaikan tangan, menatap wajah, atau menunjukkan sesuatu adalah bentuk awal dari komunikasi.

Bayi dan balita dengan ASD biasanya kurang mampu membedakan wajah antara orang tuanya dengan orang asing. Mereka juga cenderung menghindari kontak mata dan sangat jarang menggunakan gestur. Padahal, seharusnya kita sudah melihat setidaknya 16 gestur berbeda saat anak usia 16 bulan," sebutnya.

Beberapa gestur yang penting untuk diamati menurut Dr Cynthia antara lain:

1. Menunjuk

Menunjuk dibagi menjadi dua, yakni untuk meminta sesuatu (imperative pointing) dan berbagi ketertarikan (declarative pointing) yang dilakukan saat anak melihat sesuatu yang menarik seperti pesawat atau gajah di kebun binatang.

Nah, anak dengan ASD jarang melakukan keduanya. Dalam beberapa kasus, anak lebih memilih menggunakan tangan orang dewasa sebagai alat untuk meminta sesuatu (hand-leading).

2. Memberi dan menunjukkan

Anak neurotipikal (yang fungsi otak, cara berpikir, dan memproses informasinya dianggap standar atau sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat) sering menunjukkan mainan atau memberikan sesuatu kepada kita untuk berbagi perhatian.

Sementara, anak dengan ASD cenderung fokus pada objek tanpa melibatkan orang lain.

3. Kombinasi gestur dan kata

Anak yang bahasanya sedang berkembang umumnya akan menggabungkan kata dan gestur, seperti berkata, “Lagi!” sambil menunjuk gelas jika ingin kembali meminta minum. Sementara, kombinasi antara gestur dan kata ini acapkali menjadi tantangan tersendiri bagi anak ASD.

Perilaku Repetitif dan Terbatas (RRB)

Ilustrasi: Mendeteksi gejala ASD bisa dilihat dari gestur anak. (Unsplash/Robo Wunderkind)

Jika gejala ASD kategori sosial-komunikasi bisa dilihat dari gestur anak, untuk kategori yang kedua, yakni RRB, terlihat dari pola perilaku yang berulang (repetitif) dan sangat terbatas (spesifik).

Perilaku ini bisa ditunjukkan dalam banyak hal. Namun, ada beberapa hal yang umum, seperti mengepakkan tangan, memutar-mutar benda, menatap objek dari sudut tertentu, terpaku pada huruf, angka, air, atau benda tertentu, kesulitan beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain, atau perilaku sensorik yang ekstrem.

Dr Cynthia mengatakan, pola-pola ini biasanya menjadi semakin jelas ketika anak mulai masuk prasekolah, semisal anak nggak mau memakai sepatu sendiri hingga melakukan kegiatan di luar instruksi atau aktivitas yang dilakukan oleh teman-temannya; atau justru melakukan sesuatu secara terus-menerus."

"Beberapa perilaku repetitif sebenarnya wajar terjadi pada anak kecil. Namun, pada anak ASD, perilaku tersebut lebih intens, lebih lama, dan mengganggu aktivitas lain," sebutnya.

Perilaku yang Terlihat sejak Dini

Beberapa perilaku yang acap dilakukan anak dengan ASD sejak dini antara lain:

1. Interaksi nggak biasa dengan objek

Anak mungkin memegang benda tanpa memainkannya, melihat objek dari jarak sangat dekat, atau menatap benda dari sudut mata.

2. Minat yang sangat intens

Saat anak berinteraksi dengan air misalnya, alih-alih memainkannya, dia punya kecenderungan untuk terpaku pada air yang mengalir, menonton toilet disiram, atau punya keinginan yang kuat melihat air di mesin cuci.

3. Respons sensorik ekstrem

Beberapa anak ASD menyukai sensasi tertentu secara ekstrem, misalnya terus bergerak atau menyukai tekstur tertentu atau makanan yang sangat spesifik. Selain itu, ada juga yang sangat sensitif terhadap cahaya atau suara.

Pentingnya Deteksi Dini

Sebagian orang tua umumnya merasa ragu untuk memeriksakan anaknya karena merasa bahwa perilaku tersebut masih masuk kategori "wajar untuk anak kecil”. Padahal, menurut dr Cynthia, diagnosis dini sangatlah diperlukan karena akan memberikan akses yang sangat penting.

Diagnosis dini memastikan anak mendapatkan intervensi yang sesuai, mulai dari terapi wicara, terapi okupasi, hingga terapi perilaku, sesuai dengan usia yang paling responsif terhadap tahap perkembangan otaknya.

Menurut dr Cynthia, autisme bukanlah kondisi yang harus ditakuti, tetapi dipahami. Dengan mengenali tanda-tanda awal, baik dalam aspek komunikasi maupun perilaku, orang tua dapat memberikan dukungan lebih cepat dan lebih tepat.

Semakin dini intervensi dilakukan, semakin besar peluang anak untuk berkembang optimal sesuai potensinya. Sebagaimana kata dr Cynthia, sehalus apa pun gejalanya, ia akan terlihat jika kita punya pengetahuan untuk mengenalinya. (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: