BerandaHits
Kamis, 6 Des 2023 18:39

Krisis ISBN di Indonesia Berdampak, Apa Solusinya?

Krisis ISBN di Indonesia. (Bintangpustaka)

Dari jatah 1 juta nomor ISBN di Indonesia, tinggal 270 ribu saja yang tersisa. Sayangnya, kebanyakan nomor ISBN justru dipakai untuk buku-buku yang nggak relevan untuk mendapatkannya. Makanya, di Indonesia sekarang sedang krisis ISBN.

Inibaru.id – Kamu tahu nggak kalau Indonesia sedang mengalami krisis ISBN? Yap, krisis yang satu ini memang nggak diketahui banyak orang karena nggak mempengaruhi harga sembilan bahan pokok (sembako). Tapi, bagi dunia penerbitan Tanah Air, krisis ISBN ini ternyata cukup bikin repot, lo.

Asal kamu tahu saja nih, ISBN adalah singkatan dari International Standard Book Number (ISBN). Maknanya sih seperti nomor serial dari buku yang diterbitkan. Mirip-mirip nomor induk kependudukan di KTP tapi bagi buku-buku yang diterbitkan. Wajar kan kalau nggak semua orang mengerti masalah ini.

O ya, ISBN sudah eksis pada 1966. Awalnya hanya diterapkan di Inggris Raya sebagai penanda identitas yang mencakup informasi terkait dengan buku, penerbit, serta kelompok penerbit. Empat tahun kemudian, ISBN dipakai sebagai standar internasional ISO 2108.

Karena dipakai secara internasional, otomatis nomor ISBN pun dibuat secara khas dan menunjukkan identitas dari negara penerbit. Nah, dari 13 digit digital yang ada pada ISBN, tiga nomor awalan menunjukkan hal tersebut. Khusus untuk Indonesa, angka awalannya adalah 679 serta 602.

Kode Unik Buku

Banyak buku di Indonesia yang dianggap nggak layak mendapatkan nomor ISBN. (Antara/Riski Apriyani)

Biar nggak bingung, begini pembagian dari 13 digit digital dari ISBN tersebut:

  1. Prefix Identifier yaitu tiga digit yang memuat kode asal negara;
  2. Bahasa atau asal negara yang jadi tanda asal buku;
  3. Publisher Prefix yang menunjukkan angka pemeriksa.

Dengan adanya ISBN, otomatis sebuah buku punya kode unik yang membuatnya berbeda dari buku-buku lain, termasuk buku dengan tema serupa. Hal ini juga memungkinkan adanya pembeda untuk berbagai produk dan edisi buku, termasuk apakah buku diterbitkan dengan dicetak atau digital.

Dampaknya, proses pemasaran buku jadi lebih mudah dan efisien. Buku juga bisa didistribusikan dengan lebih efektif ke tempat-tempat yang memang membutuhkannya seperti toko buku, perpustakaan, lembaga pendidikan, dan lain-lain.

Lebih dari itu, dengan adanya ISBN, buku jadi punya reputasi yang jelas karena dipastikan sudah melalui berbagai tahapan yang legal untuk layak diterbitkan. Hal ini bisa berdampak pada terjaganya reputasi penulis dan validitas buku jika dijadikan referensi untuk penelitian akademik.

Kenapa Krisis ISBN?

Buku yang diterbitkan sangat bergantung pada ISBN. (Pixabay/Lubos Houska)

Kalau memang perannya lebih mirip seperti NIK pada KTP, mengapa di Indonesia sampai ada krisis ISBN? Hal ini disebabkan oleh banyaknya buku yang dianggap nggak layak cetak tapi mendapatkan ISBN, misalnya fan-fiction, buku terbitan pribadi (self publish), buku web novel, dan lain-lain.

Badan Internasional ISBN dari London sampai menegur Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI gara-gara hal ini. Mereka menganggap terlalu banyak buku yang nggak relevan untuk dipublikasikan tapi tetap mendapatkan ISBN.

Mereka menganggap Indonesia terlalu boros menerbitkan ISBN untuk buku-buku yang nggak perlu. Padahal, ada banyak buku yang lebih penting karena bermanfaat bagi masyarakat tapi nggak bisa segera diterbitkan karena harus “mengantre” ISBN.

Menanggapi hal tersebut, otoritas Indonesia, termasuk di dalamnya Perpusnas RI, langsung bereaksi dengan membatasi penerbitan ISBN. Caranya adalah dengan melakukan kurasi lebih ketat sebelum buku diterbitkan.

Semoga solusi ini bisa membuat krisis ISBN di Indonesia teratasi ya, Millens. Sayang banget kalau banyak buku bagus tertunda penerbitannya karena terkendala ISBN, bukan? (Arie Widodo/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: