BerandaHits
Kamis, 2 Jul 2025 17:01

Belajar dari Uni Eropa, Indonesia Bisa Kurangi E-Waste Lewat Aturan Ponsel Lebih Ketat

Uni Eropa bakal melakukan pelabelan untuk mengurangi E-waste. (Shutterstock)

Uni Eropa menerapkan aturan baru pelabelan dan standar ketahanan ponsel demi mengurangi limbah elektronik. Indonesia bisa meniru kebijakan ini agar konsumen lebih terlindungi dan lingkungan makin lestari.

Inibaru.id - Ponsel pintar sudah jadi bagian hidup sehari-hari. Tapi, pernahkah kamu membayangkan berapa banyak limbah elektronik yang muncul setiap kali gawai kita rusak atau nggak lagi didukung pembaruan? Uni Eropa baru saja mengambil langkah ambisius untuk menekan e-waste dan Indonesia bisa banyak belajar dari sana.

Mulai 20 Juni 2025, Uni Eropa mewajibkan semua produsen ponsel pintar dan tablet menempelkan label khusus pada produknya. Label itu bukan sekadar hiasan. Isinya lengkap berupa peringkat efisiensi energi, masa pakai baterai, ketahanan terhadap air dan debu, sampai skor daya tahan terhadap jatuh dan goresan. Semuanya ditampilkan dalam skala A hingga G. Jadi konsumen bisa langsung tahu kualitas dan ketangguhan gawai yang mau dibeli.

Nggak berhenti di situ, aturan baru Uni Eropa juga mewajibkan produsen menyediakan suku cadang dan pembaruan perangkat lunak minimal lima tahun. Bahkan, suku cadang harus tetap tersedia hingga tujuh tahun setelah produk terakhir terjual. Artinya, pengguna bisa memperbaiki ponsel lebih lama, bukan asal beli baru setiap kali rusak sedikit.

Baterai juga nggak luput dari perhatian. Standar baru mensyaratkan baterai mampu bertahan setidaknya 800 kali pengisian daya dan tetap menyimpan 80 persen kapasitas aslinya. Dengan begitu, ponsel nggak cepat soak hanya karena dipakai beberapa tahun.

Uni Eropa meyakini kebijakan ini akan menghemat 2,2 terawatt-jam listrik pada 2030, setara 0,09 persen dari total konsumsi listrik di Uni Eropa pada 2020. Konsumen juga diperkirakan bisa menghemat sekitar 98 euro per rumah tangga karena tak harus sering ganti perangkat baru.

Pelajaran untuk Indonesia

kurang dari 20 persen limbah yang berhasil diolah. Sisanya, masih menjadi pekerjaan rumah. (Shutterstock)

Lantas, apa yang bisa Indonesia pelajari? Banyak banget!

Pertama, transparansi informasi. Label kualitas seperti di Uni Eropa akan membantu konsumen Indonesia membeli ponsel dengan pertimbangan lebih matang. Bukan cuma soal harga atau merek, tapi juga ketahanan dan dukungan jangka panjang.

Kedua, dukungan purnajual yang lebih serius. Berapa banyak di antara kita yang ponselnya nggak lagi kebagian update software dalam dua atau tiga tahun? Atau kesulitan cari spare part? Kalau ada aturan wajib menyediakan suku cadang dan update sistem minimal lima tahun, umur pakai gadget bisa jauh lebih panjang.

Ketiga, standar desain yang lebih awet. Regulasi “ecodesign” seperti baterai yang lebih tahan lama dan casing lebih kuat akan mendorong produsen membuat perangkat berkualitas, bukan sekadar cepat laku.

Keempat, dorongan ekonomi sirkular. Perangkat yang gampang diperbaiki berarti lebih sedikit sampah elektronik dan lebih banyak peluang kerja di sektor reparasi.

Terakhir, kebijakan tegas akan memastikan produsen ikut bertanggung jawab setelah produk dijual, bukan lepas tangan ketika barang bermasalah.

Indonesia sedang menghadapi lonjakan e-waste yang serius. Ditjen Infrastruktur Digital (20/2/2025) mencatat, produksi e-waste Indonesia mencapai 1,9 juta ton per tahun. Angka ini tertinggi di Asia Tenggara setelah Tiongkok, India, dan Jepang diperlukan strategi yang terstruktur dan berkelanjutan. Jika nggak segera diantisipasi, angka ini bisa terus naik. Masalah makin runyam karena masih kurang dari 20 persen limbah yang berhasil diolah.

Karena itu, saatnya Indonesia melirik kebijakan progresif seperti Uni Eropa. Karena masa depan bukan hanya tentang teknologi yang canggih, tapi juga yang lebih awet, transparan, dan ramah lingkungan.

Kalau kamu ingin ikut mendorong perubahan, mulai dari kebiasaan sehari-hari dengan rawat ponselmu dengan baik, perbaiki jika rusak, dan pilih gadget yang mendukung keberlanjutan. Yuk, jadi generasi yang lebih bijak dan peduli bumi, Millens! (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Pantai Dasun Lasem, Kabupaten Rembang

3 Mar 2026

Saat Takjil War, Waspada dengan Sejumlah Pembungkus Takjil Nggak Sehat Ini

3 Mar 2026

OTT Edisi Ramadan, KPK Bawa Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Jakarta

3 Mar 2026

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

3 Mar 2026

Tren 'Grading Card', Autentifikasi Kartu Koleksi agar Nilai Jual Lebih Tinggi

3 Mar 2026

Mulai Maret Ini, Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Main Medsos

3 Mar 2026

Kartu Mebel Jepara, 'Tiket Emas' biar UKM Ukir Naik Kelas

3 Mar 2026

Sejuk dan Alami, Begini Keindahan Air Terjun Kyai Buku Jepara

4 Mar 2026

Sepanjang 2025, Uang Hilang Setara Rp355 Miliar di Jepang Kembali ke Pemiliknya

4 Mar 2026

Opsi 'Sekolah Swasta Gratis' Akan Terintegrasi dengan SPMB 2026 di Kota Semarang

4 Mar 2026

Ponpes Raudhatul Qur'an; Cetak Ratusan Hafiz dengan Biaya Bulanan Murah Meriah

4 Mar 2026

Menguliti Asal Usul Nama Kurma

4 Mar 2026

Tragedi Cinta Mangir-Pembayun; Saat Asmara Jadi Senjata Penakluk Mataram

4 Mar 2026

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: