BerandaAdventurial
Sabtu, 27 Des 2019 17:00

Yang Zadul, Yang Mantul; Toko Roti Djoen Malioboro Yogyakarta

Toko Roti Djoen di Malioboro Yogyakarta. (Inibaru.id/ Audrian F)

Di Kawasan Malioboro Yogyakarta, ada sebuah toko roti kuno yang sudah ada sejak zaman Jepang. Namanya adalah Toko Roti Djoen. Kamu sudah pernah ke sana?<br>

Inibaru.id - Sewaktu mengunjungi Malioboro, Yogyakarta, saya mendapati ada toko roti lama. Namanya adalah “Roti Djoen”.

Saya mencoba masuk. Interiornya tampak kuno tanpa penyejuk ruangan. Roti-rotinya pun ditata dengan sederhana, nggak seperti toko roti modern yang dipajang secara anggun.

Saya datang pada Selasa (17/12) sore, dibarengi hujan rintik yang membasahi setiap jengkal Jalan Malioboro. Sebetulnya menarik jika saya bisa menengok ke dapurnya. Namun sayang saya terlambat, sebab pada waktu itu pembuatan roti sudah usai. Alhasil saya cuma bisa berbincang-bincang dengan sang pemilik.

Jenis-jenis roti di Toko Roti Djoen. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Hardinah, namanya. Perempuan usia senja yang pada tahun ini sudah berumur 83 tahun. Dia adalah menantu dari Tandien Now, seseorang yang memelopori Roti Djoen ini. Kepada saya, dia banyak bercerita.

“Resep Roti Djoen dipertahankan secara turun-temurun. Sewaktu penjajahan Jepang, bahkan kami sempat memakai ketela sebagai bahan baku roti. Soalnya waktu itu gandum-gandum disita oleh mereka,” ujar Hardinah.

Menurut Hardinah, dulu luas tokonya nggak seperti sekarang, lebih lebar lagi. Karena adanya bagi-bagi warisan, kemudian menjadi sepetak saja. Dia juga membeberkan, ada masa-masa ketika Roti Djoen ramai pelanggan.

“Waktu zaman Pak Harto terutama, wah itu ramai sekali. Mungkin pada zaman itu masih serba murah ya,” ucap perempuan kelahiran Semarang ini.

Roti amandel yang disebut sebagai roti kuno. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Kemudian saya mencoba rotinya. Saya mencicipi roti buaya dan roti amandel. Untuk roti buaya, menurut saya nggak ada istimewanya. Ya karena nggak ada isinya. Cuma manis saja.

Tapi untuk roti amandel, wah, rasanya sangat nagih. Isian kacang dan gulanya yang melimpah dibalut daging roti yang empuk serta tebal terasa nikmat ketika dikunyah.

Menurut Widowati, anak perempuan Hardinah, hingga saat ini Toko Roti Djoen memang masih memproduksi roti-roti kuno. Roti amandel yang saya coba tadi salah satunya. Roti lainnya yakni, roti sobek, omdeku, warwall, dan roti sus. Widowati kemudian teringat kalau Toko Roti Djoen merupakan yang memulai terciptanya roti pisang.

“Dulu itu roti paling isinya cuma terigu sama gula. Tapi kemudian hari kami coba memberinya pisang. Eh, kok enak, jadi kami teruskan. Nah, mulai dari itulah semua orang lalu mengikuti,” jelasnya.

Aktivitas di Toko Roti Djoen. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Oh, iya, buat kamu yang mau beli Roti Djoen. Kamu nggak bisa menyimpannya dalam waktu lama. Pasalnya, roti di sini nggak memakai bahan pengawet. Maksimal bisa bertahan empat hari. Kalau dimasukkan ke pendingin pun, mungkin menambah satu atau dua hari. Itupun akan jadi keras.

Dalam pembuatan pun, Roti Djoen masih sangat tradisional. Mereka nggak memakai oven modern tapi masih memakai oven bata.

Nama tenar Roti Djoen tampaknya nggak sampai ke telinga muda-mudi masa kini. Widowati menyatakan kalau pembeli rata-rata adalah orang tua yang punya sejarah dengan roti ini. Atau sekalipun pembelinya masih muda karena tahu dari orang taunya.

“Sebagian besar pembeli punya kesan tersendiri pada masa mudanya. Atau seseorang yang merantau. Anak muda yang tahu roti ini pun memang kebanyak karena ajakan orang tuanya,” ujar Widowati.

Roti Djoen ini buka sejak pukul 08.00 hingga 21.00, Millens. Lokasinya pun mudah ditemukan karena berada di kawasan Malioboro dan Kampung Tendean, Yogyakarta. Yuk, mampir! (Audrian F/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: