BerandaAdventurial
Selasa, 28 Mar 2022 18:12

Tragisnya Candi Asu, Terbengkalai Karena Warga Takut Merawatnya

Candi Asu di Bandungan, terbengkalai karena warga takut merawatnya. (sasadaramk.com)

Kontras dengan Candi Gedong Songo yang jadi objek wisata terkenal, Candi Asu di dekatnya justru terbengkalai. Kabarnya, warga takut untuk merawatnya. Ada apa?

Inibaru.id – Beda dengan candi-candi lain di Jawa Tengah yang terawat, Candi Asu yang ada di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Jawa Tengah justru terbengkalai. Penyebabnya, warga takut untuk merawatnya. Lo, ada apa?

Hal ini tentu sangat ironis karena lokasi Candi Asu sebenarnya dekat dengan Candi Gedong Songo yang jauh lebih terkenal dan terawat. Bahkan, Candi Gedong Songo jadi salah satu lokasi wisata andalan di Kabupaten Semarang.

Asu dikenal sebagai istilah Bahasa jawa untuk anjing. Penamaan Candi Asu ini juga disebabkan oleh adanya relief anjing di candi berukuran kecil ini. Selain itu, di bagian kiri candi, juga ada patung berkepala anjing, Millens.

Candi ini ada di atas permukiman penduduk Desa Candi yang ada di lereng Gunung Ungaran. Jadi, kamu harus melewati rumah-rumah penduduk dengan kontur tanah menanjak sebelum menemui kebun bambu petung. Di tengah kebun inilah, kamu bisa menemukan candi yang dilengkapi dengan lingga-yoni, kala, gentong, lumpang, dan sejumlah arca khas peninggalan Kerajaan Hindu.

Diperkirakan, Candi Asu dibangun di masa pemerintahan Dinasti Sanjaya. Hal ini berarti, usia candi ini hampir sama dengan Candi Dieng dan Candi Gedong Songo. Sayangnya, candi ini terlihat seperti tumpukan bebatuan yang belum lengkap. Maklum, hingga sekarang, ada beberapa bagian batu yang belum ditemukan.

Warga yang tinggal di dekat Candi Asu mengaku tanah di sekitar candi nggak bisa ditumbuhi tanaman. Bukan karena hal klenik, tapi ada dugaan kalau di dalam tanah, masih ada sejumlah bebatuan candi yang terbenam. Hal inilah yang membuat tanaman sulit tumbuh.

Gerbang masuk ke Candi Asu yang ada di dekat permukiman warga Desa Candi di Bandungan. (sasadaramk)

Keberadaan lingga-yoni yang merupakan simbol kesuburan, lumpang (alat menumbuk padi), dan gentong yang merupakan bak penampungan air menandakan kalau Candi Asu dulu dipakai sebagai tempat untuk bersyukur terhadap Sang Hyang Widi di masanya. Menariknya, ada sejumlah orang yang menyalakan dupa atau menempatkan sesaji di candi ini hingga sekarang.

Warga Takut Merawat Candi Asu

Dikutip dari narasisejarah.id, ada alasan mengapa candi ini seperti terbengkalai meski masih dipakai beribadah oleh sejumlah orang. Jadi, warga sekitar nggak pengin kawasan sekitar Candi Asu jadi lokasi wisata dan akhirnya mereka digusur. Bahkan, dulu ada warga yang sampai merobohkan beberapa bagian candi dan menjadikan batu-batu tersebut sebagai pondasi rumah.

Untungnya, aksi ini dihentikan pemerintah setempat. Pemerintah juga sudah memberikan pemahaman bahwa keberadaan candi justru dapat mendongkrak perekonomian warga. Akhirnya, warga mau bergotong royong membenahi candi dan membangun akses ke sana.

Meskipun bangunan candi nggak lagi utuh, nggak beraturan, dan bahkan terkesan terbengkalai, setidaknya, sisa dari candi masih terlihat. Candi ini juga diberi atap sehingga bebatuannya nggak mudah tergerus air hujan.

Betewe, akses jalan ke Candi Asu nggak lagi sulit. Meski begitu, nggak adanya papan petunjuk yang jelas ke arah candi ini membuat nggak sembarang orang bisa menemukannya. Selain itu, pamor Candi Asu jelas kalah jauh dari Candi Gedong Songo yang sudah kadung populer.

Tertarik main ke Candi Asu, Millens? (Nar/IB09/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: