BerandaAdventurial
Selasa, 5 Mei 2025 17:26

Melawat Ratu Kalinyamat, Merawat Memori sang Juru Selamat

Grafis yang melengkapi pameran gambar tentang kejayaan Ratu Kalinyamat di halaman Masjid Mantingan (Inibari.id/ Imam Khanafi)

Jepara kembali menggugah sejarah lama yang nyaris tertimbun gelombang waktu melalui museum pop-up Ratu Kalinyamat di halaman Masjid Mantingan—tempat yang seakan masih menyimpan gema langkah sang pahlawan nasional itu.

Inibaru.id - Sore yang syahdu. Jejak sejarah itu kembali dikenang setelah sekian lama hanya menjadi mitos dan cerita rakyat. Rakyat berkerumun, anak-anak sekolah duduk di depan para penggiat sejarah merapatkan barisan, menghadiri Pameran Ratu Kalinyamat.

Di antara mereka, turut hadir Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, salah seorang sosok penting di balik penyematan gelar "Pahlawan Nasional" kepada penguasa Jepara sekitar awal abad ke-16 tersebut, yang hari itu juga didapuk sebagai pembuka acara.

Menurut Rerie, sapaan akrab Lestari, perhelatan ini bukan sekadar pameran, tapi juga jendela sejarah yang ditarik lebar agar generasi kini bisa menatap jauh ke masa ketika Jepara menjadi episentrum kekuatan maritim Nusantara.

“Ini bukan sekadar mengenang, tapi merawat ingatan, membumikan semangat seorang pemimpin yang dalam diamnya mampu menaklukkan sejarah,” tutur perempuan yang menginisiasi pameran ini bersama Yayasan Dharma Bakti Lestari tersebut.

Mengenang Ratu Kalinyamat

Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI tengah melayani permintaan tanda tangan buku yang dibagikan sebelum membuka pameran. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Pada abad ke-16, saat Eropa sedang sibuk berebut wilayah kekuasaan dan Portugis berupaya keras menaklukan seluruh penjuru samudra, muncul sosok perempuan dari Jepara yang mungkin keberadaannya nggak pernah dipertimbangkan sebelumnya.

Dialah Ratu Kalinyamat, perempuan yang nggak hanya memahami gelombang, Perempuan berdarah bangsawan ini berdiri tegak sebagai pemimpin dengan visi lintas samudra. Dia tidak hanya memimpin, tetapi juga memelihara semangat kebangsaan yang melampaui sekat-sekat primordial.

Hisyam Zamroni, salah seorang tokoh Nahdlatul Ulama di Jepara mengungkapkan, ada satu sisi kepemimpinan sang ratu yang jarang disentuh narasi populer.

“Beliau memiliki talenta historis yang luar biasa. Komposisi kabinetnya sangat heterogen; ada dari Bali, Nusantara Timur, Tiongkok, dan Arab. Tidak ada sekat, hanya kepercayaan pada kompetensi,” ungkapnya.

Ratu yang Menciptakan Peluang

Tokoh Nahdlatul Ulama Jepara, Hisyam Zamroni saat berkeliling melihat pameran seusai pembukaan. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Bayangkanlah sebuah kerajaan yang membuka pelabuhannya untuk saudagar Gujarat, Johor, hingga Malaka. Sebuah negeri pesisir yang menyambut pengrajin dari Tiongkok, mubalig dari Arab, hingga pedagang rempah dari Eropa.

Di pelabuhan Jepara, perbedaan bukan ancaman, melainkan peluang. Islam berkembang dalam wajahnya yang inklusif di sana, berpadu dengan pelbagai budaya yang menyatu.

Masjid yang didirikan Ratu Kalinyamat adalah buktinya. Tak hanya menjadi rumah ibadah, bangunan itu juga merupakan simbol akulturasi dengan bentuk menyerupai pagoda dan hiasan khas Tiongkok yang terukir di dinding tempat ibadah bernama resmi Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan ini.

Inilah potret Islam yang moderat dari masa silam: hidup berdampingan, saling mengisi, dan menyatu dalam iklim maritim yang hangat oleh pertukaran budaya.

Sang Juru Selamat

Pangunung berfoto dengan antusia di halaman masjid (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Nggak hanya di bidang ekonomi dan kebudayaan, Ratu Kalinyamat juga dikenal sebagai jenderal sekaligus ahli perang yang pemberani. Sejarawan menyebutnya sebagai satu dari sedikit perempuan yang memimpin armada laut besar untuk menjadi "sang juru selamat" menantang Portugis di Malaka.

Sedikit informasi, Ratu Kalinyamat setidaknya tercatat dua kali mengirimkan armada perangnya, membuat dunia tercengang mengetahui bahwa Jepara bukanlah wilayah kecil yang bisa ditundukkan dengan meriam dan kolonisasi.

Kini, lebih dari 400 tahun berlalu, semangat itu digores ulang dalam bentuk lukisan, peta kuno, fragmen catatan dari arsip Portugal, dan miniatur kapal-kapal Jepara yang menjadi gambaran armada perang yang pernah mengarungi Laut Jawa hingga Selat Malaka.

“Pameran ini bukan akhir. Ini awal dari perjuangan kolektif kita untuk memastikan nilai nasionalisme dan semangat juang Ratu Kalinyamat tidak sekadar jadi cerita di buku pelajaran,” tegas Nur Hidayat dari Yayasan Dharma Bakti Lestari.

Menjadi Inspirasi, Bukan Sekadar Memori

Grafis yang melengkapi pameran gambar tentang kejayaan Ratu Kalinyamat di halaman Masjid Mantingan (Inibari.id/ Imam Khanafi)

Pada 2023, Ratu Kalinyamat akhirnya diakui negara sebagai Pahlawan Nasional. Namun, sebagaimana disampaikan Rerie dalam sambutannya di Universitas NU Jepara, pengakuan itu bukanlah puncak.

“Ini baru permulaan dari tanggung jawab besar kita bersama. Kita harus menyebarkan nilai-nilai perjuangan itu, terutama kepada generasi muda,” tegasnya kala itu.

Dulu, Ratu Kalinyamat kerap dikaburkan dalam sejarah. Narasi kolonial seringkali bernada negatif, bahkan melecehkannya sebagai pemimpin “emosional”. Padahal, di balik tiap keputusan politik dan keberaniannya mengangkat senjata, ada visi panjang, yakni menjaga martabat bangsa dan kemerdekaan Tanah Air.

Kini, dengan semangat moderasi, nasionalisme, dan keberanian yang telah ditorehkan Ratu Kalinyamat, Jepara kembali menjadi pusat narasi. Bukan narasi militeristik yang keras, tapi kasih sayang kepada negeri, rakyat, dan masa depan.

Moderasi nasionalisme ala Ratu Kalinyamat bukanlah kompromi, melainkan keberanian untuk memimpin dengan kasih, kecerdasan, dan keterbukaan pada dunia.

Dan di antara napas-napas masa lalu itu, di halaman Masjid Mantingan yang sejuk oleh bayang-bayang pepohonan, sejarah berbisik, mengatakan bahwa sang Ratu tak pernah benar-benar pergi; ia menunggu siapapun yang berani menjadikannya sumber inspirasi alih-alih semata memori. (Imam Khanafi/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: