BerandaAdventurial
Rabu, 20 Feb 2024 14:00

Melacak Persinggahan Terakhir Dokter Kariadi di Kota Semarang: Ternyata Masih Ada!

Pemerhati Sejarah, Mozes Chistian Budiono sedang memotret rumah kosong diduga pernah ditinggali Dokter Kariadi. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Nama Dokter Kariadi sering disinggung menjelang peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang. Selain bangunan rumah sakit RSUP Kariadi, apakah ada jejak-jejak lainnya yang masih bisa kita temui?

Inibaru.id - Pada 14 Oktober 1945 selepas magrib telepon rumah Dokter Kariadi berbunyi. Dia menerima informasi dari Kepala Pusat Rumah Sakit Rakyat (Pusara) Semarang bahwa tandon air Reservior Siranda ditebar racun oleh Tentara Jepang.

Tanpa pikir panjang, lelaki kelahiran Malang itu bergegas menuju tandon air di Jalan Wungkal untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. Istri Kariadi, Soenarti sempat mencegah agar suaminya tetap di rumah. Pasalnya, situasi di Kota Semarang kala itu sedang genting.

Namun, Kariadi tidak mengindahkan imbauan tersebut. Dia bersikeras untuk memastikan desas-desus tersebut. Bersama sopir, Kariadi pun berangkat menuju lokasi.

Dalam perjalanan menuju tandon air Reservior Siranda, Dokter Kariadi tak sengaja terjebak dalam kerusuhan tahanan Jepang dengan Polisi Istimewa, tepatnya di depan Sekolah Pelayaran yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani. Tak disangka Kariadi tewas, diduga ditembak oleh Tentara Jepang di tengah huru-hara tersebut.

Sebelum dinyatakan meninggal dunia, Kariadi sempat dilarikan ke rumah sakit. Sayangnya, nyawa Kariadi tidak bisa diselamatkan. Sejurus kemudian berita gugurnya Kariadi menyulut kemarahan warga Semarang. Hari-hari berikutnya situasi di Kota Lunpia semakin genting, dimana-mana terjadi peperangan antara warga lokal dengan Tentara Jepang. Peristiwa itu lalu dikenal dengan sebutan "Pertempuran Lima Hari di Semarang".

Siapakah Dokter Kariadi?

Rumah dinas terakhir Dokter Kariadi di Kot Semarang tak terawat dan dibagian depan ditutupi seng. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Nama Kariadi harum di Kota Atlas. Sepak terjang dan pengabdiannya di bidang pelayanan kesehatan menjadikan namanya kini diabadikan jadi nama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) di Kota Semarang.

Kariadi lahir 15 September 1905. Bungsu dari dua bersaudara itu masih belia ketika kedua orang tuanya meninggal dunia. Kariadi kecil lalu diasuh dan dibesarkan oleh pamannya.

Tinggal di lingkungan kewedanaan zaman Hindia-Belanda dan dalam pengasuhan pamannya ternyata sebuah keberuntungan. Pasalnya Kariadi bisa menuntut ilmu di Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Malang dan HIS Sidoardjo. Setelah lulus, Kariadi melanjutkan studinya dengan masuk ke sekolah dokter di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) Surabaya.

Ketika masa-masa menjalani pendidikan di NIAS, Kariadi bertemu dan memadu kasih dengan Soenarti. Perempuan yang akhirnya jadi istrinya itu bukan sosok sembarangan. Dia merupakan dokter gigi pribumi pertama di era Hindia-Belanda.

Setelah disumpah jadi dokter, Kariadi pun memulai praktek di berbagai tempat. Di sela-sela kesibukkannya, Kariadi masih menggeluti hobi fotografi dan dia sempat melakukan penelitian tentang penyakit Malaria dan Filaria.

Rumah Dinas Terakhir

Arsip iklan koran yang turut menunjukkan alamat rumah Dokter Kariadi. (Istimewa)

Singkat cerita, selepas bertugas di Martapura pada tanggal 15 Mei 1942, Kariadi kembali ke Pulau Jawa. Dia langsung mendapat mandat sebagai Kepala Laboratorium di Rumah Sakit Rakyat Semarang atau sekarang dikenal dengan nama RSUP Dr Kariadi Kota Semarang.

Menurut Pemerhati Sejarah Mozes Christian Budiono, kali pertama menginjakkan kaki di Semarang, Kariadi beserta keluarganya tinggal di Jalan Kaligarang nomor 8. Tak berselang lama, Kariadi pindah menempati rumah dinas barunya di Karangtempel nomor 196.

"Sebelum gugur, Dokter Kariadi berangkat dari sini, pamitan. Jadi rumah dinas di belakang kita ini tempat persinggahan terakhir beliau di Semarang," kata Mozes sembari menunjuk sebuah bangunan rumah kosong disisi kiri jalan Dr Cipto.

Berdasarkan sumber buku dan koran-koran lawas, Mozes yakin rumah kosong tak terawat yang bagian depannya ditutupi seng itu pernah ditinggali tokoh bersejarah di Kota Semarang.

Untuk membuktikan rumah kosong itu pernah ditinggali Kariadi, Mozes berharap Pemerintah Kota Semarang melakukan penelitian dengan kalangan akademisi maupun sejarawan. Jika dinyatakan benar, rumah kosong itu harus dirawat dan dialihfungsikan sebagai tempat untuk mengenang perjuangan Kariadi.

"Saya pribadi berharap rumah bersejarah itu difungsikan sebagai museum. Bukan museum Kariadi saja tapi museum Pertempuran Lima Hari di Semarang. Nama Kariadi kan identik sekali dengan peristiwa besar itu," ungkapnya.

Dijelaskan Mozes, keluarga terutama istri sangat terpukul dengan meninggalnya Kariadi. Untuk menghilangkan trauma mendalam, istri dan anak-anak Kariadi kemudian memutuskan pindah ke Salatiga. Selanjutnya, rumah bekas Kariadi tersebut ditempati oleh Dokter Raden Sanjoto.

Sementara itu, Ketua RT setempat Wijayanto membeberkan, nomor rumah di sepanjang jalan Dr Cipto Kelurahan Karangtempel, Kecamatan Semarang Timur nggak pernah berubah dari dulu. Dia juga membenarkan bahwa rumah kosong di samping kanannya pernah ditempati Dokter Raden Sanjoto.

"Pas saya pindah ke sini tahun 1982, pak Sanjoto udah meninggal dunia. Di rumah itu ditinggali oleh Bu Sanjoto dan anak-anaknya," ucap Wijayanto.

Medio akhir 90-an sampai sekarang rumah itu tak berpenghuni. Sepengetahuannya, status rumah kosong bekas tempat tinggal Dokter Kariadi saat ini tercatat dimiliki oleh seorang pengusaha rokok ternama di Tanah Air.

Menarik menyimak kisah hidup dan jasa-jasa dari Dokter Kariadi ya, Millens? Sebagai anak muda yang menghargai jerih payah dari pahlawan pendahulu, sudah selayaknya kita menghargai dan merawat semua bentuk peninggalan, termasuk tempat tinggal. Semoga rumah kosong di Jalan Dr Cipto 196 itu mendapat perhatian dari pemerintah setempat. (Fitroh Nurikhsan/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: