BerandaTradisinesia
Selasa, 4 Jun 2018 16:00

Menelusuri Sejarah Festival Yaa Qowiyyu di Jatinom

Gunungan apem dalam Festival Yaa Qowiyyu (metrotvnews.com)

Tradisi Yaa Qowiyyu merupakan tradisi membagi-bagikan kue apem kepada masyarakat yang diselenggarakan setahun sekali di Desa Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Yuk cek, sejarahnya di sini!

Inibaru.id – Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Jatinom ada tradisi unik yaitu membagi-bagikan kue apem kepada masyarakat. Tradisi yang biasa disebut Festival Yaa Qowiyyu ini diselenggarakan tiap satu tahun sekali yaitu di Bulan Sapar, bulan kedua penanggalan Jawa.

Melansir laman Kompasiana.com (3/11/2017), meski penyelenggaraannya di Desa Jatinom, festival Yaa Qowiyyu dikelola oleh pemerintah daerah karena festival ini merupakan sejarah besar umat Islam di Klaten yang harus dilestarikan.

Tradisi membagi-bagikan kue apem ini bermula saat Ki Ageng Gribig salah satu tokoh penyebar Islam di Klaten pulang dari Mekah setelah menunaikan ibadah haji. Dia membawa oleh-oleh kue untuk dibagikan kepada muridnya. Namun karena jumlah muridnya sangat banyak, kue tersebut nggak mencukupi.

Akhirnya Ki Ageng Gribig membuat kue dari bahan tepung beras yang sekarang kita kenal dengan kue apem. Sebelum membagikan kepada murid-muridnya, Ki Ageng Gribig membaca doa “Yaa qowiyyu, yaa aziz, qowwina wal muslimiin, yaa qowiyyu warzuqna wal muslimiin.” Inti dari doa itu adalah permohonan kekuatan untuk kaum muslimin. Nah, dari doa Ki Ageng Gribig itulah nama Festival Yaa Qowiyyu ini diambil.

Masyarakat bersiap-siap menangkap sebaran apem. (twitter.com)

Festival ini juga memiliki rentetan acara yang cukup panjang. Pertama warga Jatinom akan menyumbangkan kue apem kepada panitia Festival Yaa Qowiyyu. Sumbangan ini sebegai bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Setelah semua kue apem terkumpul, kemudian apem-apem itu akan disusun membentuk dua gunungan untuk diarak keliling desa. Sebelum arak-arakan dimulai biasanya akan ditampilkan kesenian Reog Ponorogo terlebih dahulu.

Setelah kesenian Reog selesai, tibalah waktu arak-arakan. Eits, orang yang mengarak nggak boleh sembarangan, lo. Mereka harus memiliki garis keturunan dengan pembawa gunungan pada tahun-tahun sebelumnya. Konon, mereka masih trah Ki Ageng Gribig.

Kedua gunungan apem itu pun diarak dari Desa Jatinom menuju ke Kantor Kecamatan Jatinom lalu ke Masjid Alit (Masjid Kecil) Jatinom, dan terakhir ke Masjid Besar Jatinom. Arak-arakan akan berlangsung meriah. Banyak warga menonton arak-arakan dari pinggir jalan raya.

Untuk mengamankan suasana, oraganisasi masyarakat Sedulur Klaten Bersinar (SKB), pasukan Reog Ponorogo diterjunkan untuk menjaga keutuhan gunungan apem. Setelah melewati Kantor Kecamatan Jatinom, araka-arakan akan tambah meriah dengan adanya Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Purna Klaten.

Setelah sampai di tujuan akhir yaitu di Masjid Besar Jatinom, gunungan apem akan diterima oleh tokoh agama Jatinom. Kemudian kedua gunungan akan diinapkan semalam di salah satu pendopo samping Masjid Besar untuk dibagikan keesokan harinya.

Tiap tahun, kue apem yang dibagikan mencapai 4-6 ton, lo. Wah, banyak sekali ya, Millens. Kue apem itu akan dibagikan di kompleks pemakaman Ki Ageng Gribig. Biasanya pada saat pembagian kue apem ini dihadiri oleh pejabat-pejabat Klaten. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bahkan pernah ikut meramaikan acara pembagian kue apem ini.

Seru banget ya, Millens! Dari tradisi ini kita bisa belajar arti berbagi, semangat kebersamaan, serta kerukunan antarmanusia. Semoga tradisi ini akan terus lestari. (IB13/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: