BerandaTradisinesia
Kamis, 3 Sep 2025 15:15

Kirab Tujuh Tumpeng, Tradisi Tahunan Warga Mranak Kudus pada Awal Maulud

Suasana di Sendang Kamulyan, Dukuh Mranak, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Ahad (24/08/) lalu. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Sejak pagi, warga Dukuh Mranak sudah duduk berderet di sekitar Sendang Kamulyan, menanti rombongan kirab tujuh tumpeng yang diarak untuk menyambut datangnya Maulud sekaligus peringatan haul leluhur desa yang tahun ini jatuh pada 24 Agustus lalu.

Inibaru.id – Payung warna-warni dan balon berbentuk tokoh superhero acap menandai adanya kerumunan yang cukup besar di suatu tempat. Tanda inilah yang terlihat di Dukuh Mranak, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, sekitar pekan lalu.

Tepatnya di Sendang Kamulyan, payung-payung tersebut tampak terbuka di antara ratusan warga yang berkumpul di antara rindangnya pepohonan. Mereka rapat berjejer menanti arak-arakan tumpeng melintas. Ada yang sibuk mengabadikan momen dengan ponsel, ada pula yang khusyuk melantunkan doa lirih.

Situasi yang sudah berlangsung sejak pagi ini lazim dilakukan masyarakat Dukuh Mranak saban tahun, tepatnya pada awal "Bulan Maulud" yang tahun ini jatuh pada 24 Agustus lalu. Mereka berkumpul di Sendang Kamulyan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Yang disebut Maulud sebetulnya merujuk pada Rabiul Awal, bulan ketiga dalam kalender Hijriah. Bulan ini disebut Maulud atau Maulid karena bertepatan dengan kelahiran (maulid) Nabi Muhammad yang jatuh pada 12 Rabiul Awal.

Tradisi Mengarak Tumpeng

Warga di Dukuh Mranak, Desa Lau, lagi menunggu untuk acara puncak di Sendang Kamulyan (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Di Dukuh Mranak, awal Maulud ditandai dengan tradisi mengarak tumpeng. Hampir seluruh warga dukuh bergabung dalam tradisi yang sarat akan tetabuhan rebana ini. Sejak pagi, mereka sudah duduk rapi di sekitar sendang untuk menanti datangnya rombongan kirab pembawa tumpeng.

Ketua panitia kirab Muhammad Wahyudi mengungkapkan, tradisi ini lebih dari sekadar kirab tumpeng. Bagi warga setempat, ini juga bentuk kecintaan terhadap junjungan mereka yang kebanyakan beragama Islam, yakni Rasulullah.

“Ini bukan hanya soal tumpeng, tapi kecintaan serta bagaimana upaya kami sebagai warga bersama-sama menyambut bulan kelahiran Baginda Nabi (Muhammad) dengan hati yang bersih,” ujarnya sambil sesekali memberi instruksi kepada panitia pengatur barisan yang didominasi pemuda.

Tiap tahun, kirab dimulai dari lapangan desa. Tujuh tumpeng besar berhias janur berisi sayur dan hasil bumi ditata rapi di atas tandu yang dipikul bergantian oleh para pemuda. Sementara, para perempuan di samping sembari membawa sesaji dan air kendi, diikuti anak-anak yang berbusana serba putih.

Melewati Titik-Titik Sakral

Warga Mranak memenuhi jalanan di Sendang Kamulyan. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Dari lapangan, tumpeng dikirab dengan rute melewati dua titik sakral desa, yakni Gawangan dan perempatan Asem Bergat. Di kedua titik tersebut, rombongan berhenti sejenak untuk memanjatkan doa, sedangkan yang lainnya diam menyimak.

"Aktivitas itu disebut nyikeri atau mageri, simbol bahwa seluruh warga menjaga desa mereka dengan doa dan kebersamaan," tutur Wahyudi. “Ini bentuk perlindungan kolektif. Kami ingin desa ini selalu aman, tenteram, dan terhindar dari bencana maupun perpecahan.”

Tujuan akhir kirab ini adalah Punden Mbah Buyut Germi dan Sendang Kamulyan. Setibanya di sana, ratusan orang segera merapat. Ada yang berebut mendekat untuk sekadar menyentuhkan tangan pada tandu tumpeng, ada pula yang langsung menimba air sendang untuk membasuh wajah.

Malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan pengajian umum dan doa bersama yang juga dihadiri warga. Tahun ini panitia mendatangkan KH Mahyan Ahmad, mubaligh dari Kabupaten Grobogan, yang menyampaikan tausiyah sekaligus memimpin doa keselamatan untuk desa.

Pentingnya Sendang Kamulyan

Bagi warga setempat, Sendang Kamulyan bukan sekadar sumber air, tapi juga diyakini sebagai titik spiritual tempat leluhur mereka dulu bersemayam. Saat kirab, mereka melakukan tabarrukan atau ngalap berkah sebagai bentuk penghormatan sekaligus penyucian diri sebelum memasuki Maulud.

“Kirab ini simbol persiapan lahir batin. Kami sowan kepada leluhur, mohon doa restu, lalu bersama-sama berselawat menyambut kelahiran Nabi Muhammad,” tutur Wahyudi.

Selain Sendang Kamulyan, Punden Mbah Buyut Germi juga menjadi tempat yang sakral untuk warga setempat. Kirab ini memang digelar sekaligus untuk memperingati haul leluhur yang dihormati warga Mranak itu. Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun.

"Haul Mbah Buyut Germi sebetulnya jatuh pada Jumat Wage di bulan Safar (bulan ke-2 Hijriah). Namun, penghormatan sengaja dilakukan kembali beriringan dengan kirab sebagai peneguh ikatan antara warga dengan leluhurnya," tutur Wahyudi.

Arti Tujuh Tumpeng

Warga Mranak memenuhi jalanan di Sendang Kamulyan. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Kepala Desa Lau H Rawuh Hadiyanto dalam sambutannya menilai, tradisi ini bukan sekadar ritual adat, tapi juga momentum untuk mempererat kerukunan. Dia menjelaskan, tujuh tumpeng yang diarak bukan hanya lambang syukur, tetapi juga pengingat akan tujuan bersama.

“Tujuh tumpeng bisa dimaknai sebagai tujuan ingkang mempeng. Semua warga, dari anak-anak, pemuda, orang tua, aparat desa, ulama, bahkan TNI-Polri yang ikut menjaga, sudah berikrar untuk satu tujuan: kemakmuran, keamanan, dan keberkahan bagi desa kita,” ujarnya.

Menurut Hadiyanto, tradisi ini membuktikan bahwa masyarakat Pranak masih memegang erat akar budaya sekaligus nilai-nilai keagamaan. “Kalau kita bersatu, energi kita akan kuat. Dan inilah modal penting untuk membangun desa Lau ke depan,” katanya penuh keyakinan.

Kirab Tujuh Tumpeng adalah cermin kehidupan sosial masyarakat desa. Dari proses mempersiapkan tumpeng, mengatur barisan, hingga duduk bersama menikmati hidangan setelah prosesi selesai, dilakukan dengan gotong royong. Nggak ada yang merasa lebih penting. Semua terlibat.

Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi ini tetap lestari dengan peserta yang nggak hanya dipenuhi orang tua, tapi juga para pemudanya. Di ujung acara, kentara sekali terlihat betapa semringah mereka melakoni tradisi ini; sebuah pemandangan yang jarang terjadi belakangan ini, kan? (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: