BerandaTradisinesia
Minggu, 26 Des 2020 18:00

Garam bagi Masyarakat Jawa Kuno, Bahan Makanan Berharga yang Semahal Emas

Sejak dahulu garam dianggap bahan penting bahkan setara dengan emas. (Healthcentral/iStock)

“Anda bisa tetap hidup tanpa emas, tapi tidak tanpa garam,” tulis Felipe Fernandez Armesto dalam '1492: The Year the World Began'. Kalimat ini sepertinya benar banget ya? Pada zaman Jawa Kuno, garam menjadi bahan penting dalam kuliner dan upacara keagamaan.

Inibaru.id – Garam, salah satu bumbu masak paling krusial. Tanpanya, kamu mungkin bakal uring-uringan karena masakan hambar.

Eh, kamu tahu nggak kalau garam dulu menjadi barang yang berharga di Jawa, bahkan setara dengan emas? Keberadaan garam pada masa lalu ini diungkap prasasti-prasasti berikut ini:

Prasasti Raja Balitung

Dalam prasasti Raja Balitung, istilah garem itu muncul. Kata ini tersemat di dalamnya bersama dengan padak (garam dari tempat pembuatan garam atau pegaraman yang kemudian dinamai “garam padak”), minyak (lenga) dan gula, yang dibawa dengan cara dipikul (pinikul) (Naersen, BKI 95, 1937; 441~461).

Dengan demikian, istilah ini telah dipergunakan sejak abad ke-10. O ya, kata jadian "agarem" yang berarti digarami atau bergaram juga ada dalam kakawin Ramayana.

Selain itu, garam sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat telur asin. Hal ini tergambar dalam kata “ikantigagarem” pada kitab Bomakawya. Istilah tersebut merupakan gabungan tiga kata: ika, antiga (telur), dan garem.

Prasasti Sarwadhamma (Penampihan II)

Karena garam merupakan komoditi berharga, sepertinya wajar jika bahan pemberi rasa asin ini dikenai pajak. Informasi tersebut didapat dari prasasti Penampihan II (Sarwadhamma) bertarikh Saka 1191 (1269 M).

Selain kata “garem, garam, dan padak”, ada juga istilah “uyah”. Kata ini berasal dari periode Jawa Kuna atau Tengahan seperti dalam Kidung Tantri Kadiri dari Masa Majapahit, berkaitan dengan makanan (panganan).

Yang terbaca dalam kidung tersebut adalah “pinangannya tanpa huyah” yang artinya makanannya kurang atau tanpa garam.

Prasasti Garaman

Perjalanan garam masih terus berlanjut. Garam dalam Prasasti Garaman tahun Saka 975 (1053 Masehi) menyebutkan kalau garam juga diproduksi di Desa Garaman. Prasasti ini dikeluarkan Raja Jenggala Rakai Halu Mapanji Garasakan.

Adanya toponimi "Garaman" yang memiliki kata dasar "garam" menunjukkan adanya aktivitas produksi garam di sekitar Lamongan pada abad ke-11. Sayang, di sekitar Widang–tempat ditemukannya prasasti (1985), sudah nggak ada desa bernama Garaman.

Namun, nggak jauh dari Bluluk, ada satu dusun bernama Graman, tepatnya di daerah Modo. Sejumlah peninggalan arkeologis pernah ditemukan di dasar sendang di daerah tersebut pada 1980-an.

Bisa jadi, lokasi yang disinggung dalam prasasti tersebut memang di Modo. Dugaan ini cukup masuk akal karena prasasti tembaga mudah dipindahkan.

Prasasti Biluluk

Dalam prasasti Biluluk bertahun 1288-1317 Saka ini, garam diceritakan panjang lebar. Jadi, kerajaan menganggap garam sebagai salah satu komoditas paling berharga. Meski begitu, masyarakat boleh mengambil air asin untuk upacara keagamaan, selama nggak dijual. Kalau dijual, ada pajaknya.

Prasasti ini ditemukan di Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan. Kini, Bluluk menjadi nama satu di antara tujuh dusun di Desa Bluluk, Kecamatan Bluluk, di sub-area selatan Lamongan.

Hm, ternyata garam ini sangat berharga di masa lalu ya, Millens? (His,Pat,Blogub, Keku/IB21/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: