BerandaTradisinesia
Sabtu, 16 Sep 2022 13:05

Dibantu Canthang Balung, PB II Berhasil Gusur Lelembut Bawahan Nyi Blorong

Arkeolog W.F Stutterheim menyebut pasukan canthang balung merupakan bentuk baru dari pendeta yang berada di barisan terdepan dalam suatu acara keagamaan. (journals.openedition)

Di upacara pernikahan adat Jawa, biasanya dijumpai figur edan-edanan atau canthang balung ketika kedua mempelai berjalan menuju pelaminan. Mereka bermuka putih dan berbusana serba kuning. Siapa sangka, canthang balung pernah membantu Pakubuwono II membersihkan wilayah bakal keraton dari bangsa lelembut yang dipimpin Nyi Blorong dan Uling Putih.

Inibaru.id – Kamu mungkin bakal maklum jika pasukan harus terlihat sangar untuk menciutkan nyali lawannya. Tapi bagaimana jika pasukan itu berpenampilan lucu bahkan absurd? Yap, begitulah penampilan edan-edanan atau canthang balung. Yang dilawan pasukan ini pun bukan bangsa manusia, melainkan makhluk tak kasat mata.

Ternyata, pasukan berpenampilan beginilah yang ditakuti pasukan Uling Putih dan Nyi Blorong. Keduanya merupakan anak buah Nyi Roro Kidul yang ditugasi menjaga wilayah Kedung Lembu, Sala.

Kala itu, Pakubuwono II (1711-1749) berniat membuat keraton baru setelah istananya rusak akibat Geger Pecinan (1740-1743). Sayangnya, wilayah yang dipilihnya berupa tanah rawa dan terkenal angker, seperti yang pernah ditulis GNFI (19/7/2022).

Meski begitu, Pakubuwono II bergeming. Dia bertekad menyelesaikan pembangunan. Baginya, sudah nggak mungkin lagi menjalankan pemerintahan di keraton lama karena pamornya sudah lenyap akibat tragedi berdarah tersebut.

Akhirnya, apa yang dikhawatirkan terjadi. Banyak kesukaran ketika pembangunan keraton baru. Para pekerja kerap mengalami kejang. Mereka percaya bahwa itu merupakan ulah makhluk halus penghuni Kedung Lembu.

Atas anjuran para penasihat raja, penghuni lama wilayah ini harus terlebih dulu digusur dengan upacara khusus jika pengin megaproyek ini sukses.

Canthang Balung Vs Lelembut Nyi Blorong

Pakubuwono II, raja Kesultanan Mataram periode 1726-1749. (Wikimedia Commons via Kompas)

Sebenarnya, ratu para lelembut yaitu Nyi Roro Kidul sudah meminta kepada Uling Putih dan Nyi Blorong untuk berpindah tempat. Namun, bangsa lelembut ini sudah keburu diserang pasukan raja sebelum sempat angkat kaki.

Pasukan Pakubuwono II ini lain. Mereka berpakaian aneh dan menabuh beragam alat gamelan. Kegaduhan yang ditimbulkannya cukup membuat para lelembut tunggang-langgang.

Rupanya, di barisan depan pasukan Pakubuwono II ini dipimpin oleh canthang balung. Mereka memakai topi kerucut tinggi, berkain merah, berkalung bunga melati, berikat pinggang sindur, jenggot terurai putih sembari mengacungkan tombak Kyai Slamet.

Lapis kedua ditempati legiun Panyutro. Pasukan ini melumuri tubuh dengan bedak kuning, bercelana dan berbaju kuning pula dengan model terpotong, berikat kepala batik motif bango tolak, serta bersenjatakan panah dan keris.

Sementara itu, di belakang regu Panyutro, ada prajurit Prawirotomo yang berkostum hitam-hitam mulai dari topi hingga celana. Lantas apa sih yang bikin bangsa lelembut keder dengan tiga barisan prajurit ini? Disebutkan mereka takut karena pasukan itu menyerupai prajurit penghibur Nyi Roro Kidul. Wah, nggak nyangka banget ya?

“Akhirnya, para lelembut itu berhasil digusur. Keraton baru pun dapat berdiri dengan nama Keraton Surakarta Hadiningrat,” tulis Aryono dalam Historia (9/11/2017).

Kedudukan canthang balung dalam sejarah pun mengalami pasang surut, Millens. Usai berjasa mengusir para lelembut di Kedung Lumbu, pasukan ini dijadikan pengawal, penari, hingga penggembira pada masa Pakubuwono X (1866-1939).

Dengan kedudukan seperti badut, para canthang balung memang bertugas membuat lelucon. Nah, mumpung sedang melucu, mereka kerap memasukan unsur-unsur kritik sosial.

“Sebagai abdi dalem kridhastama, cantang balung memang ditugasi untuk membuat lelucon. Sifatnya menghibur, supaya orang yang menyaksikan bisa bergembira,” ujar Dhanang Respati Puguh, sejarawan dari Universitas Diponegoro yang dipaparkan Historia.

Kini, kamu bisa menonton aksi canthang balung pada Grebeg Maulud di Solo dan pernikahan adat Jawa. Ternyata, canthang balung yang lucu ini memiliki sejarah unik ya, Millens? (Siti Zumrokhatun/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Lezatnya Mi Ayam Ceker Pak Kawit yang Melegenda di Pusat Kota Semarang

16 Jan 2026

Rupiah Masuk Daftar 5 Besar Mata Uang Terlemah di Dunia

16 Jan 2026

Kembali Didera Banjir, Warga Desa Wonorejo Memilih Bertahan di Rumah

16 Jan 2026

Bertahan dalam Banjir; dari Alasan Merawat Ternak hingga Menjaga Anggota Keluarga

16 Jan 2026

Yuk, Intip Tradisi Leluhur 'Nabung' Air Hujan yang Mulai Terlupakan

16 Jan 2026

Jateng Nol Desa Sangat Tertinggal, Kini Ribuan Berstatus Mandiri dan Maju!

16 Jan 2026

Viral Buku 'Broken Strings, Begini Tanggapan Orang Tua yang Memiliki Anak Remaja

17 Jan 2026

Lebih dari Merajut Kerukunan, Tradisi Nyadran Perdamaian di Temanggung Digelar Demi Menjaga Alam

17 Jan 2026

Perselingkuhan dan Judol, Pemicu Ribuan Istri Gugat Cerai Suami di Semarang

17 Jan 2026

Perbarui Eksonim, Indonesia Revisi Penulisan Nama Sejumlah Negara Asing

17 Jan 2026

Begini Pola Pelaku Child Grooming di DIY Menguasai Korbannya

17 Jan 2026

Menyisir Jejak Pangeran Samudra, Bangsawan Majapahit yang Abadi di Puncak Kemukus

17 Jan 2026

Trik Menyimpan Pisang Biar Nggak Cepat Membusuk

18 Jan 2026

Enak dan Mengenyangkan, Begini Cerita Warung Pecel dan Brongkos Mbok Teguh Pakis, Magelang

18 Jan 2026

Ratusan Ribu Keluarga Belum Punya Rumah, Apa Rencana Pemkot Semarang?

18 Jan 2026

Ketika Wayang Klithik Menolak jadi 'Artefak' Budaya

18 Jan 2026

Gawat! Dijajah Spesies Asing, Jumlah Serangga Lokal Anjlok

18 Jan 2026

Parenting Tipe C, Gaya Asuh Fleksibel yang Bikin Anak dan Orang Tua Lebih Bahagia

18 Jan 2026

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: