BerandaTradisinesia
Selasa, 2 Feb 2026 19:17

Bodo Puli dan Hidangan Kenyal Khas Kudus-Jepara yang Eratkan Hati Menjelang Ramadan

Puli, makanan khas malam Nisfu Syaban. (Inibaru.id/ Siti Zumrokhatun)

Malam Nisfu Syaban nggak lengkap tanpa hidangan Puli. Di balik teksturnya yang legit, tersimpan filosofi kerukunan warisan Sunan Kalijaga yang masih lestari hingga kini.

Inibaru.id - Buat kamu yang tinggal di Kudus dan Jepara, pasti sudah nggak asing lagi dengan hidangan yang satu ini kalau kalender sudah mendekati pertengahan bulan Syaban. Namanya puli. Di momen malam Nisfu Syaban, penganan sederhana ini mendadak jadi "primadona" hingga muncul istilah Bodo Puli (Lebaran Puli).

Bukan sekadar camilan pendamping teh, puli di malam Nisfu Syaban menyimpan filosofi mendalam yang sudah diwariskan turun-temurun.

Tapi, kenapa sih harus puli? Pertanyaan ini sering muncul dari mereka yang baru pertama kali melihat keriuhan warga Kudus dan Jepara membuat puli atau gendar menjelang Nisfu Syaban. Ternyata, hidangan ini bukan sekadar menu musiman, melainkan warisan dakwah Sunan Kalijaga yang penuh makna.

Puli terbuat dari nasi yang diberi bleng, dikukus, lalu ditumbuk halus hingga teksturnya menjadi padat, kenyal, dan elastis. Biasanya, puli diberi pewarna alami dari kunyit sehingga tampilannya kuning cantik. Dalam tradisi masyarakat pesisir Utara Jawa, Bodo Puli menjadi semacam "pemanasan" sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Secara etimologis, istilah Bodho Puli juga menyimpan makna yang sangat dalam. Kata bodho dalam bahasa Jawa berarti hari raya, sementara puli diyakini berasal dari bahasa Arab “ufwu lii” yang bermakna “maafkanlah aku”. Dari sini, tradisi Bodho Puli dapat dipahami sebagai simbol permohonan maaf dan pengampunan dosa menjelang Ramadan. Dalam praktiknya, puli merujuk pada makanan khas dari beras yang ditumbuk halus lalu dikukus hingga padat, dan disantap bersama parutan kelapa. Ia bukan sekadar hidangan ritual, melainkan simbol pembersihan diri, ajakan untuk saling memaafkan dan menata kembali hati agar lebih siap menyambut bulan suci dengan jiwa yang bersih.

Filosofi di Balik Tekstur yang Kenyal

Puli yang lengket melambangkan persatuan. (Inibaru.id/ Siti Zumrokhatun)

Jangan salah, tekstur kenyal dan lengket pada puli itu ada artinya, lo! Puli melambangkan persatuan dan kerukunan (hablum minannas). Seperti nasi yang ditumbuk hingga menyatu erat, masyarakat diharapkan bisa saling memaafkan dan mempererat tali persaudaraan sebelum berpuasa. Nggak ada lagi tuh ceritanya musuhan kalau sudah makan puli bareng-bareng!

Selain itu, teksturnya yang padat juga melambangkan tekad yang kuat. Maksudnya, umat Islam diharapkan punya tekad yang bulat dan "keket" (erat) dalam menjalankan ibadah selama sebulan penuh di bulan Ramadan nanti.

Ritual Doa dan Sedekah

Bodo Puli biasanya mencapai puncaknya setelah salat Magrib di malam Nisfu Syaban. Masyarakat bakal berkumpul di masjid atau musala untuk membaca surat Yasin sebanyak tiga kali dan memanjatkan doa Nisfu Syaban.

Nah, setelah rangkaian doa selesai, di sinilah momen yang paling ditunggu yaitu makan puli bareng! Ada yang membawa puli dalam bentuk irisan matang dengan taburan serundeng, ada juga yang menyajikannya dalam bentuk kerupuk gendar yang renyah. Tradisi berbagi ini merupakan simbol rasa syukur atas nikmat pangan dan permohonan ampunan dosa agar diri kembali "bersih" saat Ramadan tiba.

Kesederhanaan yang Mewah

Meskipun zaman sudah serba modern dengan makanan kekinian yang beragam, Puli tetap bertahan karena filosofi kesederhanaannya. Ia mengingatkan kita bahwa untuk bahagia dan rukun, kita nggak butuh kemewahan. Cukup dengan sepiring nasi yang ditumbuk dan rasa kebersamaan, suasana hangat sudah tercipta.

Bisa dibilang, puli itu simbol kalau kita sudah siap lahir batin buat puasa. Kenyal di mulut, erat di hati!

Jadi, apakah di daerahmu juga ada tradisi Bodo Puli malam ini? Jangan cuma dimakan ya, resapi juga maknanya supaya semangat ibadahmu makin "keket" sampai Idulfitri nanti! (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: