BerandaHits
Sabtu, 23 Jan 2026 09:01

Menurut PBB, Dunia Sudah Memasuki Fase Kebangkrutan Air Global!

Semakin sulit mencari air bersih di mana-mana, dunia dianggap sudah memasuki fase kebangkrutan air global. (Freepik)

Nggak lagi ancaman, PBB menyebut dunia sebenarnya sudah memasuki fase kebangkrutan air global. Artinya, memulihkan pasokan air bersih sudah semakin sulit untuk dilakukan.

Inibaru.id - Tinggal di Kota Semarang bikin Heri Prasetyo jarang melihat aliran sungai yang bersih. Masalahnya, saat dia main ke tempat saudaranya di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di dekat Taman Bunga Celosia, dia juga mendapati aliran air di sana juga sudah tercemar meski terlihat jernih.

“Kalau di Semarang airnya kotor bisa dimengerti ya. Sudah terpapar limbah dari mana-mana. Di tempat saudara saya, airnya memang terlihat jernih, tapi sudah dikotori limbah rumah tangga. Sampah-sampah juga banyak yang terlihat di dasarnya,” ungkap Heri pada Kamis (22/1/2026).

Gara-gara saking sulitnya mencari aliran air sungai yang bersih, termasuk di area dekat mata air, Heri sampai terpikir, apakah memang sudah sangat sulit melihatnya secara langsung pada zaman sekarang?

Sayangnya, dugaan Heri soal sulitnya mendapatkan air bersih di mana-mana bisa jadi memang benar adanya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan sudah mengeluarkan peringatan yang isinya menyebut dunia sudah memasuki fase kebangkrutan air global! Artinya, nggak hanya sulit mencari air bersih, penggunaan air yang berlebihan oleh manusia bikin pasokan air dunia kini sudah sangat sulit dipulihkan kembali, Gez.

Peringatan ini datang dari United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH). Menurut lembaga ini, eksploitasi air berlebihan, pencemaran, alih fungsi lahan, dan perubahan iklim yang dibiarkan puluhan tahun telah mendorong banyak sistem air, mulai dari sungai, danau, hingga air tanah, melewati titik aman. Kalau sebelumnya krisis air masih dianggap sebagai ancaman masa depan, kini PBB menilai kita sudah hidup di dalamnya.

Gejalanya sebenarnya sudah lama terlihat. Banyak danau besar dunia menyusut drastis, bahkan sebagian hampir lenyap. Sungai-sungai utama yang dulu mengalir sampai ke laut kini sering terhenti di tengah jalan, setidaknya pada periode tertentu dalam setahun. Lahan basah yang berfungsi sebagai “penyaring alami” air juga hilang dalam skala masif.

Semakin sulit menemukan air bersih di mana-mana. (Radarjogja/Guntur Aga)

Yang lebih mengerikan, dalam lima dekade terakhir, dunia kehilangan sekitar 410 juta hektare lahan basah, yang luasnya hampir setara seluruh wilayah Uni Eropa.

Masalah lain yang tak kalah serius ada di bawah kaki kita: air tanah. Sekitar 70 persen air tanah utama dunia menunjukkan penurunan jangka panjang. Air tanah yang seharusnya menjadi cadangan justru dipompa tanpa henti, terutama untuk kebutuhan masyarakat kota dan pertanian. Akibatnya, fenomena day zero, yakni saat kebutuhan air melampaui pasokan, makin sering menghantui berbagai kota besar.

Perubahan iklim ikut memperparah keadaan. Sejak 1970, dunia telah kehilangan lebih dari 30 persen massa gletser. Padahal, gletser adalah sumber air lelehan penting bagi ratusan juta orang, terutama saat musim kering. Ketika gletser menyusut, pasokan air pun ikut menghilang perlahan tapi pasti.

Direktur UNU-INWEH, Kaveh Madani, menegaskan bahwa kebangkrutan air tidak berarti semua negara sudah kehabisan air. Namun, konsep ini penting sebagai alarm keras bagi pembuat kebijakan. Selama ini, kelangkaan air kerap dianggap sebagai masalah sementara yang bisa ditunda penanganannya. Padahal, menurut Madani, krisis itu sudah terjadi hari ini.

Meski ada ilmuwan yang mengingatkan bahwa kondisi tiap wilayah berbeda dan beberapa daerah justru mencatat kemajuan, laporan ini tetap menyuarakan kenyataan pahit: cara kita memperlakukan air sudah tidak berkelanjutan. Jika dunia terus bersikap seolah air adalah sumber daya tak terbatas, kebangkrutan air global bukan lagi peringatan, melainkan warisan permanen bagi generasi berikutnya.

“Kayaknya, semua pihak harus sadar untuk mulai memperbanyak resapan air, dan menjaga air yang masih bersih agar nggak dikotori oleh apa pun. Masalahnya, kapan ya kesadaran ini bisa dimulai?” keluh Heri.

Kalau bisa sih, kita mulai dari diri kita sendiri dulu, Gez. Dengan menjaga air di sekitar kita, harapannya makin banyak orang yang kemudian ikut peduli. Langkah kecil ini diharapkan bisa memberikan dampak yang besar bagi lingkungan. Setuju? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: