Inibaru.id - Tradisi nyadran di Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, nggak hanya diisi dengan ritual bersih-bersih makam dan persembahan doa. Tradisi tahunan tersebut terasa lebih menarik di Ngijo karena juga diikuti dengan pesta gulai kambing antarwarga yang digelar di kompleks makam.
Untuk yang belum tahu, nyadran atau sadranan adalah tradisi tahunan masyarakat Jawa yang biasanya dilakukan untuk menyambut Ramadhan, berupa serangkaian upacara penghormatan leluhur yang mencakup pembersihan makam, ziarah, doa bersama, tabur bunga, dan kenduri (makan bersama).
Tradisi ini merupakan salah satu wujud akulturasi budaya Jawa-Islam dengan tujuan utama memanjatkan doa untuk leluhur serta mempererat silaturahmi. Pemuka agama Ngijo, Ahmad Yasa mengungkapkan, nyadran di tempatnya digelar pada hari Kamis Wage bulan Rajab (Rejeb) menurut Kalender Jawa.
"Nyadran biasanya dilaksanakan saat Rajab, tapi karena tidak ada Kamis Wage di bulan itu, nyadran dipindah ke Syaban (bulan setelah Rajab)," ujarnya saat ditemui Inibaru.id seusai acara, Kamis (22/1/2026).
Mentari belum bersinar sempurna ketika warga Ngijo sudah mulai berduyun-duyun menuju Permakaman Sentono pada Kamis (22/1) sekitar pukul 06.00 WIB. Di bawah pepohonan rindang di kompkes tersebut, asap dari tungku telah mengepul, menyatu dengan kabut tipis yang menyelimuti wilayah Gunungpati pagi itu.
Beberapa orang tampak berdiri di depan tungku kayu dengan wajan lebar di atasnya. Mereka tengah tertungkus lumus menyiapkan gulai kambing, menu nyadran yang sekaligus menjadi kuliner warisan di kampung yang berlokasi nggak jauh dari kompleks kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu.
Gulai dari Puluhan Kambing
Ada belasan wajan besar yang dipakai dengan puluhan ekor kambing yang disembelih untuk dimasak menjadi gulai. Aromanya begitu menggugah selera, membuat warga yang datang ke makam tua itu untuk berziarah sampai-sampai menelan ludah.
Ahmad Yasa mengatakan, tradisi ini sudah berlangsung lama dan menjadi warisan turun-temurun. Tujuan utamanya adalah untuk menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan sekaligus mendoakan leluhur desa, khususnya Kiai Asy’ari dan Mbah Ngijo.
Rangkaian sadranan di Ngijo sejatinya sudah dimulai sejak Rabu (21/1), diawali dengan bersih-bersih makam di tiga kompleks utama, yaitu Makam Sentono, Makam Sigebuk, dan Makam Mendak. Ahmad Yasa menjelaskan, bersih makam adalah wujud penghormatan warga terhadap para leluhur.
"Selain penghormatan, ritual tersebut juga sekaligus menjadi upaya untuk senantiasa menjaga kebersihan dan kesucian area permakaman," paparnya.
Setelah bersih makam, warga menggelar tradisi sodaqoh (sedekah) kambing. Untuk tahun ini, Yasa mengungkapkan, setidaknya ada 48 ekor kambing yang disembelih untuk diolah menjadi gulai. Gulai tersebut kemudian dibagikan kepada warga dan peziarah yang hadir.
"Yang bersedekah kambing tidak hanya warga setempat, tetapi juga orang-orang yang berasal dari luar Ngijo. Ada yang (menyerahkan kambing) karena nazar, ada pula yang semata ingin berbagi kepada sesama," ungkapnya.
Diramaikan Peziarah Luar Daerah
Puncak nyadran, Yasa mengimbuhi, digelar pada Kamis, ditandai dengan doa bersama, tahlilan, arwah jama, dan santap gulai bersama. Prosesi ini nggak sekadar menjadi ritual keagamaan, tapi juga berfungsi sebagai wadah mempererat kebersamaan umat muslim dari berbagai daerah.
Selain warga setempat, Yasa menyebutkan bahwa tradisi nyadran tersebut juga cukup menarik minat peziarah dari luar kota. Memang benar, di antara warga setempat, ada para peziarah dari luar daerah ytang turut serta dalam tradisi tersebut, salah satunya Sugiri, warga Desa Kalisidi, Ungaran Barat.
Mengendarai sepeda motor, lelaki 70 tahun itu mengaku sengaja bertolak dari rumah pagi-pagi sekali, sekitar pukul 05.30 WIB, agar nggak terlambat menghadiri prosesi nyandran di Ngijo. Menurutnya, mendoakan alim ulama bisa mendatangkan berkah, karena itulah dia selalu menyempatkan diri untuk hadir.
"(Saya) sudah sering ikut nyadran. Hampir setiap tahun. Nggak pernah absen untuk mencari berkah dari leluhur Ngijo, khususnya Kiai Asy’ari. Saya mendoakan leluhur dan alim ulama agar diberikan keselamatan di dunia, panjang umur, dan keberkahan dalam hidup," ungkapnya.
Berbeda dengan Sugiri yang sudah rutin mendatangi tradisi nyadran tersebut, Dedi justru baru kali ini mengikutinya, itu pun karena diajak tetangganya. Namun, peziarah asal Rejosari, Gunungpati tersebut mengakui bahwa tradisi nyadran di Ngijo sangat hidup.
"(Tradisi nyadran di Ngijo) berbeda dari nyadran di daerah lain. Di sini lebih ramai dan suasana spiritualnya lebih kental. Di Gunungpati, menurut saya jalinan silaturahmi di sini yang paling besar," paparnya. "Saya ke sini cari berkah, mendoakan leluhur dan berdoa untuk kita semua, agar sama-sama selamat di dunia," tandasnya.
Di Ngijo, nyadran bukanlah semata ritual tahunan yang digelar untuk merawat tradisi, tapi benar-benar menjadi medium kebersamaan masyarakat, baik untuk warga setempat maupun orang-orang dari luar daerah yang datang untuk berziarah. Tradisi yang menarik, bukan? (Sundara/E10)
