BerandaPasar Kreatif
Jumat, 17 Jul 2025 15:35

Konten Soft-selling untuk UMKM; Strategi Efektif tanpa Overkill

Ilustrasi: Dengan mengedepankan cerita, soft-selling bisa menjadi strategi pemasaran untuk produk UMKM yang biasanya belum dikenal publik. (Mokapos)

Konten soft-selling yang efektif untuk UMKM bisa dicapai dengan mengetahui kapan ia bisa jadi overkill dan gimana cara membangun koneksi emosional dengan konsumen.

Inibaru.id - Berjualan payung murah meriah kepada orang-orang berduit yang terjebak hujan di tempat umum nggak akan pernah menjadi pekerjaan sulit. Namun, bagaimana dengan produk UMKM premium yang bagus tapi belum dikenal publik?

Di sinilah kamu membutuhkan strategi soft-selling, sebuah pendekatan pemasaran yang berorientasi pada hubungan dan nilai. Nggak seperti berjualan secara langsung, yang acap disebut hard-selling, strategi ini menekankan pendekatan lebih halus melalui konten-konten edukatif atau storytelling.

Kalau kamu pernah scrolling TikTok atau Instagram untuk video lucu atau cerita mengharukan tapi berujung checkout produk atau tiba-tiba kepengin beli brownies padahal sebelumnya cuma nonton konten nostalgia masa kecil, saat itulah kamu tengah "terjebak" dalam strategi soft-selling.

Berbeda dari hard-selling yang langsung to the point seperti "Beli sekarang juga!" atau "Diskon 50 persen!”, strategi soft-selling lebih lembut, yang bahkan kadang nggak kelihatan seperti jualan. Tapi justru karena itulah, teknik ini terasa lebih nyaman dan bikin calon pembeli nggak merasa sedang dipaksa belanja.

Cocok untuk UMKM

Stevens & Tate, pakar pemasaran Amerika, menjelaskan bahwa soft-sell bekerja dengan membangkitkan emosi positif terkait brand atau produk secara halus. Tujuannya adalah membuat konsumen percaya, bukan merasa tengah disasar.

“Yang diinginkan dari soft‑sell advertising adalah pendekatan yang sangat halus, karena tujuan utamanya adalah untuk membangkitkan respons emosional yang positif dari kustomer," tulisnya dalam website resminya, dikutip Kamis (17/7/2025).

Strategi ini sangatlah cocok untuk pelaku UMKM. Hal itulah yang dikatakan Siti Azizah, penjual produk frozen food rumahan asal Kota Semarang yang dalam setahun terakhir memfokuskan penjualan secara daring via sejumlah media sosial.

"Pelaku UMKM seperti saya punya modal promosi yang terbatas, sementara produk belum dikenal. Berdasarkan pelatihan yang pernah saya ikuti, saya perlu mengandalkan kedekatan emosional, storytelling, dan personal branding. Harus soft-selling dulu," tuturnya, Kamis (17/7).

Membangun Kepercayaan

Menurut Azizah, soft-selling bisa menjadi cara yang efektif untuk membangun kepercayaan dan menciptakan ikatan emosional dengan konsumen. Dia mengatakan, hal ini sangatlah penting karena produk serupa banyak di pasaran dan harga jual produknya cukup kompetitif.

“Soft selling membuat konsumen merasa ‘nyambung’ dulu dengan merek atau pemilik usaha. Ini penting, ketimbang mereka langsung dijejali dengan ajakan membeli,” jelas perempuan 29 tahun tersebut.

Karena produk yang dijualnya adalah frozen food, dia mengaku kadang menyisipkan cerita pribadi gimana resep untuk produk-produknya didapatkan atau jalan panjang yang ditempuhnya untuk mencapai cita rasa terbaik yang layak jual.

"Pakai narasi yang menyentuh dan inspiratif, lalu tambahi dengan kelucuan. Misal, saya bikin konten tentang 'lapar tengah malam', lalu menjelang akhir cerita disisipi dengan kata-kata macam: tinggal goreng, kamu nggak akan kelaparan kalau punya frozen food di rumah," bebernya, memberi contoh.

Jangan Terlalu Halus

Ilustrasi: Konten soft-selling yang terlalu halus membuat calon pembeli merasa bingung. (Purwad

Percy H Whiting, penulis klasik tentang promosi penjualan dan marketing pernah mengatakan, harus melibatkan minat yang tulus terhadap kebutuhan orang lain. Jadi, dalam strategi soft-selling, fokus utamanya tetaplah pada kebutuhan mereka, bukan apa yang kita ceritakan.

"Jangan bercerita terlalu panjang tanpa melibatkan relevansi pada produk atau layanan," terang Azizah. "Soft-selling itu kayak ngobrol santai, tapi jangan 'halus-halus' hingga kita kehilangan konteks, karena cerita di sini sebetulnya kan hanya pengantar, bukan inti dari konten itu."

Agar nggak terlalu halus dan malah jadi overkill, berikut adalah sejumlah strategi soft-selling yang bisa kamu lakukan, yang dirangkum dari berbagai sumber:

1. Tetapkan tujuan setiap konten

Setiap postingan harus punya arah. Mulailah dengan cerita, lalu selipkan call to action (CTA) yang halus seperti: “Kalau kamu cari yang seperti ini, bisa cek produknya di bio.”

2. Batasi panjang narasi

Konten atau cerita soft-selling boleh personal dan mengalir, tapi jangan terlalu panjang tanpa relevansi. Pastikan narasi tetap berhubungan langsung dengan manfaat produkmu.

3. Sisipkan nilai produk

Meski soft-selling, kamu tetap berbisnis. Maka, konten harus memberi pandangan produk sebagai solusi, bukan sekadar latar cerita.

4. Gunakan ragam format konten

Campurkan storytelling dengan konten pengenalan fitur, behind-the-scenes, atau testimoni pengguna. Ini menjaga dinamika dan arah komunikasi.

5. Adaptif dengan platform yang dipakai

Tiap platform punya gaya tersendiri. Misalnya, gunakan carousel edukatif pada Instagram, video ringan dengan voice-over dan storytelling pada Tiktok, atau kirim foto dan caption singkat tapi bersahabat pada Whatsapp.

6. Evaluasi berdasarkan respons audiens

Jika engagement menurun atau ada komentar negatif yang muncul, segeralah beradaptasi dan mengganti topik dengan yang mereka sukai.

Soft selling memang memerlukan keseimbangan. Terlalu banyak cerita, pesan bisa hilang; tapi terlalu intens akan membuatnya seperti hard-selling. Maka, kuncinya adalah dengan tetap memperhatikan konteks dan target pasar yang kita inginkan. Semoga bisnis UMKM-mu lancar! (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: