BerandaKulinary
Senin, 21 Agu 2022 12:10

Kethek, Botok Gurih yang Semakin Langka di Kebumen

Kethek blondo biasanya disajikan dengan ditum, yaitu teknik membungkus makanan dengan daun pisang. (Senyawa)

Kethek di sini artinya bukanlah monyet, tapi kudapan berupa botok gurih khas Kebumen yang semakin langka di pasaran.

Inibaru.id – Saat minyak kelapa masih banyak diproduksi di Jawa, kuliner tradisional ini banyak dijual di berbagai tempat seperti pasar hingga selasar jalan. Kethek namanya. Sayang, kini kudapan gurih ini mulai jarang ditemukan seiring dengan bergesernya pengguna minyak yang di Jawa disebut lengo klentik tersebut.

Proses membuat kethek memang nggak bisa dipisahkan dari minyak kelapa. Penyebabnya, penganan asal Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, itu terbuat dari ampas pembuatan minyak kelapa yang biasa disebut blondo. Ada pula yang menyebutnya glendo atau kethak.

Penyebutan kethek di Kebumen mungkin merupakan pergeseran dari kata kethak. Di sejumlah tempat di Jateng, ada makanan serupa kethek yang dikenal sebagai Kethak Blondo. Jadi, kemungkinan nggak ada hubungannya dengan monyet ya, meski dalam bahasa Jawa kethek berarti monyet.

Kethek blondo biasa disajikan dengan ditum, teknik membungkus makanan yang akan dikukus, memakai daun pisang. Mirip seperti pelbagai jajan pasar lain di pasar. Penganan ini biasa disantap dengan nasi hangat, getuk, atau menjadi topping tempe goreng.

Lengo Klentik dan Blondo

Blondo yang merupakan bahan pembuatan kethek terbuat dari blendet, yaitu kerak kental berwarna kehitaman di dasar wajan saat pembuatan minyak kelapa. (Piknikdong/Tersapa)

Kethek diyakini sudah ada di Kebumen sejak dulu, nggak jauh berbeda dengan lengo klentik dan blondo. Teknik membuat minyak kelapa memang sudah dikuasai masyarakat Jawa sejak sangat lama, yang tercatat pada sebuah prasasti berbahasa Jawa Kuna yang saat ini disimpan di Belanda.

Berbeda dengan pembuatan minyak sawit yang melibatkan pabrik besar, minyak kelapa dibuat oleh industri rumahan, bahkan perseorangan. Cara membuatnya, kelapa segar diperas hingga menjadi santan kental, lalu direbus di wajan besar dan terus diaduk hingga menghasilkan cairan minyak.

Cairan berwarna cokelat kekuningan ini kemudian diambil, dipisahkan dari kerak kental berwarna kehitaman di dasar wajan yang disebut blendet. Blendet disaring dan dipres semalaman hingga menghasilkan ampas padat yang disebut blondo. Alih-alih dibuang, blondo diolah kembali menjadi makanan, misalnya kethak blondo atau kethek.

Oya, masyarakat menggunakan minyak kelapa sebelum mengenal minyak kopra dari kelapa yang dikeringkan. Namun, sekitar 1980-an, minyak kelapa dan kopra yang cepat tengik mulai tergusur oleh kemunculan minyak sawit. Kondisi ini juga berimbas pada produksi blondo, yang tentu saja menggerus keberadaan kethek di pasaran.

‘Ampas’ Bercita Rasa Gurih

Kethek merupakan blondo yang dibuat botok dan sering disantap bareng nasi hangat atau getuk. (Tvonenews)

Konon, orang Jawa nggak pernah membuang makanan, termasuk ampas atau residu. Ampas kelapa menjadi campuran botok atau gembrot, ampas kedelai menjadi gembus, pun demikian dengan ampas lengo klentik yang menjadi blondo.

Blondo bertekstur lembut, bercita rasa gurih dengan sedikit rasa manis. Tanpa dimasak lagi pun blondo sudah enak dikonsumsi. Blondo yang sudah dipapatkan biasanya tinggal dipotong persegi lalu dimakan begitu saja. Namun, ada pula yang dilembutkan lagi, lalu diberi gula merah sebelum dimakan.

Lalu, bagaimana dengan kethek? Kethek adalah blondo yang dibuat botok; makanan khas Jawa yang dimasak dengan dibungkus daun pisang, lalu dikukus. Kethek bisa dimakan sebagai sajian tunggal, kadang diberi irisan cabai dan bawang merah; tapi bisa juga menjadi lauk untuk nasi hangat atau getuk.

Kethek bertekstur lembut dengan cita rasa gurih. Aromanya? Hm, perpaduan aroma daun pisang dengan kelapa yang wangi dijamin akan membuat perutmu keroncongan dan selera makanmu lebih bergeliat! Ha-ha.

Sayangnya, saat ini sudah nggak banyak orang yang membuat kethek di Kebumen. Eits, tapi bukan berarti nggak ada ya! Kethek kadang masih bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional di kabupaten yang berada di pantai selatan Jawa Tengah tersebut.

Jadi, kalau kebetulan kamu lagi main ke pasar tradisional di Kebumen dan menemukan kethek blondo, jangan disia-siakan ya! Segeralah beli kudapan langka itu dan nikmati sensasi rasanya, Millens. (Ter/IB20/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: