BerandaKulinary
Rabu, 3 Apr 2018 09:12

Gurih Pedas Si Lontong Dekem Pemalang

Lontong dekem (detik.com)

Pernah mendangar lontong dekem? Kuliner ini mungkin agak asing di telinga, namun rasanya nggak perlu kamu ragukan. Cicipi saja....

Inibaru.id - Menjadi salah satu sajian berkuah hangat, lontong dekem menjadi kuliner khas Pemalang, Jawa Tengah yang wajib Sobat Millens coba. Biasanya, sajian lontong ini disantap saat sore atau malam hari. Ini lantaran kuah lontong dekem yang diracik dari berbagai macam rempah penghangat badan.

Di Pemalang, biasanya lontong dekem dijual di warung tenda. Kali pertama melihatnya, lontong dekem mirip dengan soto. Sama-sama berkuah gurih, lontong dekem nggak dicampur dengan tauge.

Memang apa saja isinya? Mengutip ksmtour.com, di dalam seporsi lontong dekem ada potongan lontong, kuah santan berwarna kuning seperti gulai, dan taburan serundeng kelapa. Selain itu kamu juga akan menemukan kerupuk mi dan bawang goreng di atasnya. Sekilas mirip juga dengan lontong sayur, keunikan campurannya berupa daging bebek dengan potongan lontong yang dibuat lebih besar.

Rasa lontong dekem cenderung pedas. Rasa pedas inilah yang menjadi ciri khas kuliner dari daerah pesisir seperti Pemalang. Eits, tapi rasa pedasnya bukan karena cabai, lo, melainkan karena sereh yang dipakai sebagai bumbu dalam kuah lontong dekem. Sereh inilah yang memberikan rasa pedas dan efek kehangatan buat tubuh. Selain itu, lontongnya juga bercitarasa khas, teksturnya lembut dan beraroma daun pisang. Warnanya yang agak hijau juga mempercantik penampilan lontong dekem.

Hmm, tapi kenapa dinamakan lontong dekem? Lontong, kamu sudah tahu. Dekem dalam bahasa Jawa berarti duduk dalam posisi kaki tertekuk. Jadi lontong dekem dapat diartikan menikmati lontong sambil duduk ndekem. Ada juga yang berpendapat karena penjualnya menjual duduk ndekem.

Selain itu, ada juga yang bilang bahwa nama lontong dekem diambil dari cara pembuatannya. Pasalnya, sebelum disajikan lontong yang sudah diiris-iris akan dimasukkan ke dalam mangkuk dan disiram dengan kuah. Namun setelah itu kuah dalam mangkuknya akan dikembalikan lagi ke dalam kuali, lalu disiramkan lagi ke lontong. Proses tersebut dilakukan berulang kali sebanyak 3-4 kali siraman. Ini membuat lontong menjadi terendam. Barulah kemudian lontong dicampur dengan beberapa bumbu, sambal, remukan kerupuk, dan potongan daun bawang

Nah, di Pemalang istilah terendam adalah dekem. Karena itu makanan yang sudah dikenal mulai 1990-an ini lantas dinamakan lontong dekem. Tapi meskipun namanya lontong dekem, sekarang banyak penjualnya yang menyediakan nasi sebagai pengganti lontong. Ya, hal ini lantaran selera pembeli kadang berbeda. Ada yang lebih suka nasi dengan kuah daripada lontong.

Oya, lontong dekem ini akan lebih nikmat disajikan bersama sate ayam. Biasanya sate ayam yang disediakan ada dua jenis, yaitu sate goreng dan berkuah. Sate goreng bersifat kering dan ditusuk dengan tusuk sate. Sedangkan sate berkuah adalah sate goreng yang disajikan bersama kuah santan dan ditaburi serundeng kelapa. Wah, makin makyus deh.

Kalau kamu ingin mencicipinya, para penjual lontong dekem biasanya berjualan mulai sore hingga malam. Di Pemalang, kamu bisa dengan mudah menemukan penjual lontong dekem di Jalan Piere Tendean, Alun-alun Pemalang, dan Jalan RE Mardinata.

Soal harga, kamu nggak perlu khawatir. Cukup merogoh kocek sekitar Rp 10 ribu, kamu sudah bisa menikmati seporsi lontong dekem.  Sedangkan sate biasanya dihargai Rp 4 ribu/tusuk. Bagaimana, cukup terjangkau, bukan? (ALE/SA)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Viral Buku 'Broken Strings, Begini Tanggapan Orang Tua yang Memiliki Anak Remaja

17 Jan 2026

Lebih dari Merajut Kerukunan, Tradisi Nyadran Perdamaian di Temanggung Digelar Demi Menjaga Alam

17 Jan 2026

Perselingkuhan dan Judol, Pemicu Ribuan Istri Gugat Cerai Suami di Semarang

17 Jan 2026

Perbarui Eksonim, Indonesia Revisi Penulisan Nama Sejumlah Negara Asing

17 Jan 2026

Begini Pola Pelaku Child Grooming di DIY Menguasai Korbannya

17 Jan 2026

Menyisir Jejak Pangeran Samudra, Bangsawan Majapahit yang Abadi di Puncak Kemukus

17 Jan 2026

Trik Menyimpan Pisang Biar Nggak Cepat Membusuk

18 Jan 2026

Enak dan Mengenyangkan, Begini Cerita Warung Pecel dan Brongkos Mbok Teguh Pakis, Magelang

18 Jan 2026

Ratusan Ribu Keluarga Belum Punya Rumah, Apa Rencana Pemkot Semarang?

18 Jan 2026

Ketika Wayang Klithik Menolak jadi 'Artefak' Budaya

18 Jan 2026

Gawat! Dijajah Spesies Asing, Jumlah Serangga Lokal Anjlok

18 Jan 2026

Parenting Tipe C, Gaya Asuh Fleksibel yang Bikin Anak dan Orang Tua Lebih Bahagia

18 Jan 2026

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Terdampak Banjir, Warga Wonorejo Mulai Mengeluh Gatal dan Demam

19 Jan 2026

Antisipasi Doomscrolling, Atur Batas Waktu Youtube Shorts Anak dengan Fitur Ini!

19 Jan 2026

Opsi Layanan Kesehatan 'Jemput Bola' untuk Warga Terdampak Banjir Wonorejo

19 Jan 2026

Bijak Kenalkan Gawai dan Media Sosial pada Anak

19 Jan 2026

Bupati Pati Sudewo Kena OTT KPK! Terkait Kasus Apa?

19 Jan 2026

Jalur Pekalongan-Sragi Tergenang, Sebagian Perjalanan KA Daop 4 Semarang Masih Dibatalkan

19 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: