BerandaInspirasi Indonesia
Sabtu, 14 Jun 2019 13:32

Dari Boja Sigit Susanto Bawa Sastra Susuri Dunia

Sigit Susanto membaca puisi di acara Syawalan Jemuran Puisi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Meski karyanyanya memang nggak sebeken penulis-penulis lain, tapi dedikasi Sigit Susanto terhadap literasi patut diacungi jempol.

Inibaru.id- Pria itu membuat "keributan" di tengah-tengah masyarakat. Eits, jangan salah paham dulu, Millens. Bukan berbuat onar atau kerusuhan ya. Namun dengan enerjik dan vokal yang komunikatif, dia membaca sekaligus mempromosikan puisi di acara Syawalan Jemuran Puisi yang dilaksanakan di Jalan Raya Bebengan, Boja, Kabupaten Kendal, Selasa (11/6) lalu. Alhasil, masyarakat yang sedang menyemarakkan syawalan di Boja tersebut menyempatkan diri untuk menyaksikan bahkan ikut membaca puisi.

Yups, pria tersebut adalah Sigit Susanto. Dia adalah pegiat sastra Indonesia yang sudah melalang-buana di berbagai negara. Bukan sekadar liburan lo, Millens. Dia juga punya misi khusus untuk menyambangi makam atau jejak-jejak para Sastrawan mancanegara. Wah!

Bagi pria asli Boja kelahiran 1963 tersebut, menemukan makam-makam dan jejak para tokoh merupakan bagian paling mendebarkan. “Selama ini di tanah air, tokoh-tokoh dunia tersebut hanya bisa dibaca di dalam buku, jauh dari realitas apalagi bisa dikunjung,” ujar Sigit sebagaimana yang tercatat dalam Insistpress.com.

Seperti saat menyambangi makam James Joyce. Sigit rela menelusuri jejak-jejaknya sampai menyebrang hingga Irlandia. "Intinya perjalanan meneguhkan kembali pentingnya pemahaman makna silang budaya,” tuturnya.

Dari perjalanannya mengitari berbagai negara-negara di dunia tersebut menghasilkan dua buku yang laris diburu pembaca yakni Menyusuri Lorong-lorong Dunia dan Menyusuri Lorong-lorong Dunia Jilid 2. Buku lain yang dia tulis pun nggak jauh-jauh dari sastra dan berbagai perjalannya. Antara lain seperti Pegadaian dan Kesetrum Cinta yang mengisahkan perkawinannya dengan Claudia Beck, istri Sigit yang berkewarganegaraan Swiss.

Baca juga:
Keseruan Jemuran Puisi di Tengah Momen Perayaan Syawalan
Ihwal 'Jemuran Puisi': Dibawa dari Danau Zug, Dijemur di Lereng Medini

Perkenalannya dengan dunia sastra dimuali dari keikutsertaannya di sebuah grup Facebook yang bernama “Bumi Manusia”. Grup yang juga diisi oleh tiga penulis Indonesia tersohor pada masa kini yakni Linda Christanty, Narudin Ashadi, dan Eka Kurniawan. Kesepiannya sewaktu awal tinggal di Swiss membuatnya harus memiliki kesibukan.

Selepas itu, Sigit giat menggalakkan kelompok sastra yang berbasis di berbagai kota dan negara. Sampai saat ini dia mengikuti kelas baca Ulysses di Reading Groups Yayasan James Joyce, Zürich.

Dia menggunakan honor menulis untuk membangun perpustakaan di tanah kelahirannya. Tempat itu bernama Pondok Maos Guyub. Ruang baca yang meskipun kecil, namun menyimpan banyak buku-buku novel bahasa Inggris yang berkualitas. Buku-buku koleksi di sana merupakan hasil perburuannya dari setiap perjalanannya. Nggak cuma perpustakaan, Millens. Di belakang rumah, Sigit mendirikan taman literasi yang dinamakan Taman Franz Kafka.

Dia menuturkan kalau sastra merupakan cara untuk mengungkapan isi hati dengan cara elegan. “Dengan sastra kita bisa mendapatkan jalan keluar. Melihat suatu masalah dari prespektif berbeda. Itulah sebabnya saya selalu membawa sastra ke manapun saya pergi,” ujar Sigit di sela-sela acara Syawalan Jemuran Puisi.

Kafkanisme Garis Keras

Sigit Susanto dikenal sebagai seseorang yang menggilai Franz Kafka. Dia bahkan mempelajari bahasa Jerman di Bénédict Schule (Luzern), Migros Schule (Zug), OEKOS Schule (Zürich), ditambah pernah jadi mahasiswa pendengar di jurusan Germanistik, Universitas Zürich, di musim dingin 2004-2005.

Baca juga:
Ketika Puisi Menyapa Masyarakat dari Rentangan Tali Jemuran

Semua itu dilakukannya untuk menerjemahkan karya-karya Franz Kafka. Beberapa yang sudah bisa kamu nikmati antara lain Der Prozess dan Brief an den Vater.

“Kafka piawai memainkan bahasa batin dengan semangat orang kalah, lemah, atau depresif,” komentar Sigit mengenai Kafka. “Wajar jika ia pernah bilang menulis ibarat masuk terowongan gelap. Ia menulis bukan dengan bahasa berapi-api, tapi setiap katanya tak pernah absen dari makna,” sambungnya.

Wah, sampai seperti itu ya, Millens, dalam mengidolai seseorang. Apakah kamu juga seperti itu dengan idolamu?(Audrian F/E05)

 

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: