BerandaInspirasi Indonesia
Minggu, 4 Apr 2020 15:29

Kisah Inspiratif di Balik Terus Eksisnya Warung Makan Bu Sujud

Tuminem atau yang kerap dipanggil Bu Sujud sedang menunjukkan berbagai macam bahan-bahan makanan di warungnya seperti beras, gula, dan minyak. (Inibaru.id/Isma Swastiningrum)

Menjaga konsistensi rasa dan tepat memilih bahan masakan menjadi kunci terus eksisnya Warung Makan Bu Sujud. Dimulai sejak tahun 1979, usaha ini berkembang dan sampai sekarang masih menjadi rujukan para pelanggan setianya.

Inibaru.id – Bangunan Warung Makan Bu Sujud didominasi warna kuning. Warung yang bangunannya tampak sederhana ini berlokasi hanya beberapa meter saja dari Kantor Kelurahan Krapyak, Semarang Barat. Warung ini menyediakan menu olahan ikan seperti mangut, belanak, dorang, hingga pecel.

Di warung inilah saya bertemu dengan Tuminem atau yang lebih dikenal sebagai Bu Sujud, si pendiri warung makan. Awalnya, Tuminem agak keberatan ketika saya ajak wawancara. Dia meminta Mbak Mi, anak pertamanya untuk menceritakan kisah warung.

Mbak Mi bercerita jika ibunya berasal dari Karangjati, Ungaran. Sedangkan ayahnya, Pak Sujud berasal dari Sekayu, Pati yang terkenal dengan masakan mangutnya.

“Mbah Kung namanya Pak Sujud, kenapa terus dinamai Mbah Sujud itu mengikuti Mbah Kung,” kata perempuan bernama lengkap Surahmi ini.

Dinamai Bu Sujud karena pendiri dari warung ini bernama Sujud, suami Tuminem. (Inibaru.id/Isma Swastiningrum)

Masih penasaran dengan sosok Tuminem, saya pun kembali berusaha mewawancarainya. Akhirnya, dia mau untuk berbicara sedikit mengenai warung yang usianya lebih dari 40 tahun itu. Tuminem menyebut semua masakan dan minuman yang dijual di warung adalah hasil masakannya sendiri. Dia nggak mau memakai jasa orang lain atau mencari pekerja untuk membantunya memasak.

“Aku godok kolak dewe, godok setrup dewe, ngolak dewe. Manciku akeh Mbak, gunane dewe-dewe. Ngumbah iwak yo dewe, sotel yo dewe-dewe. Nek gak diumbah ndak amis, diomongke wong. Wong dodolan mateng ki risikone akeh Mbak,” katanya menggunakan bahasa Jawa Semarangan.

Dalam bahasa Indonesia berarti, “Saya membuat kolak sendiri, membuat sirup sendiri. Manci saya banyak, gunanya [per panci] beda-beda. Untuk membersihkan ikan sendiri, spatula juga sendiri-sendiri. Kalau nggak dicuci amis, dibicarakan orang. Orang jualan makanan matang itu risikonya banyak.”

Rahasia bisnis Warung Bu Sujud ada dua. Pertama, bahan yang digunakan dipilih sendiri oleh Tuminem di pasar dan kualitasnya nomor satu, seperti beras putih merek tertentu atau ikan belanak dengan ukuran tertentu. Kedua, Tuminem nggak pelit menggunakan bumbu dan nggak pernah mengurangi bumbu.

“Bahannya pillihan. Mangut pun nomor satu, kalau ongko nomor satu. Nggak mau Mbah Uti [Tuminem] dipilihke, milih sendiri. Iwak pun besar-besar, kulaknya di Pasar Karangayu jam setengah dua pagi. Kalau nggak pagi nggak kumanan [kebagian] yang bagus-bagus nanti,” kata Mbak Mi.

Pembuatan minuman di Warung Makan Bu Sujud seperti sirup pun memakai bahan dasar yang alami, nggak buatan. (Inibaru.id/Isma Swastiningrum)

Perempuan penerus usaha Tuminem itu melanjutkan, ketika porsi bumbu dan rasa yang enak nggak berubah, orang akan tetap mau berkunjung lagi. Hal ini berbeda dengan konsep warung masa kini yang ketika laris kadang bumbunya dikurangi sehingga rasanya berubah.

“Kita jajan sekarang enak, pas kembali lagi lha kok rasane beda. Tempatku nggak, pertama enak balik lagi. Biarpun bumbu mahal, bawang sampai harga 80 ribu, aku yo tetap pakai. Rasanya gitu, nggak pernah aku kurang-kurangi. Dari dulu sampai sekarang. Pecel pun dari harga 5 ribu sampai 10 ribu bumbu ya tetap banyak,” ujarnya.

Wuih, jadi pelajaran berharga banget nih buat saya. Saya mendapat satu kata kunci kesuksesan Warung Makan Bu Sujud, konsisten! Yap, kalau kamu ke Semarang dan nggak sempat berkunjung ke warung satu ini, tentu sayang banget, Millens. Layak untuk jadi tujuan wisata kuliner! (Isma Swastiningrum/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Pemerintah Tutup Permanen Ekspor Benih Lobster, Penyelundup Bakal Diburu

14 Okt 2026

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: