BerandaIndie Mania
Rabu, 31 Mar 2020 19:00

Serba-serbi Penerjemahan Karya Sastra yang Harus Kamu Tahu

Karya-karya sastra yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Ternyata menerjemahkan karya sastra bukan urusan sembarangan. Mulai dari mengurus hak cipta hingga menerjemahkan karya dari bahasa aslinya turut menentukan hasil terjemahan.

Inibaru.id – Pada 25 Desember 2017, sastrawan dan kritikus sastra Sunlie Thomas Alexander membuat gaduh media sosial Facebook. Sunlie mengutip status Facebook penyair Ahmad Yulden Erwin yang mempermasalahkan penerjemahan buku Kepada Siapa Genta Berdentangan karya Ernest Hemingway. Baik Sunlie maupun Ahmad menganggap penerjemahan itu serampangan, jauh dari gaya sang penulis.

Ketika saya ngobrol dengan Irman Hidayat dan Gita Nanda dari penerbit Labirin Buku, Jumat (6/3), saya sadar bahwa penerjemahan karya sastra bukan perkara sembarangan. Pembuatan karya terjemahan mengalami proses panjang mulai dari penerjemahan hingga mengurus hak terjemahan sebuah karya sastra.

Dua orang yang barusan saya sebut adalah penerjemah. Irman Hidayat pernah menerjemahkan novel As I Lay Dying karya William Faulkner dan Gita Nada menerjemahkan novela Penampungan Orang-Orang Terbuang karya Guillermo Rosales. Novela Rosales tersebut adalah karya yang diterbitkan Labirin Buku, penerbit besutan mereka. Proses penerbitan buku ini butuh sekitar satu tahun yang kebanyakan dipakai untuk berkorespondensi mengurus hak penerjemahan.

“Penulis pasti punya agensi, seperti model. Kami menghubungi agensinya bilang kami tertarik menerjemahkan karya ini dari penulis ini," kata Irman, "Dikasih spesifikasi terbit kapan, mau dijual harga berapa, berapa eksemplarnya sekalian.”

Novela terbitan Labirin Buku dari pengarang asal Kuba. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Selain itu, Gita dan Irman juga menyatakan bahwa penerjemahan karya melalui bahasa asli karya menjadi penting. Irman dan Gita menganalogikan penerjemahan yang bukan dari bahasa asli seperti ketika saya hendak mendengarkan lagu Bob Dylan, tetapi melalui versi cover. Versi cover pasti telah mengalami pengubahan aransemen.

Dalam penerjemahan novela Penampungan Orang-Orang Terbuang, Gita dan Irman sempat menemukan beberapa kesalahan dari versi terjemahan bahasa Inggris. Hal itu ditemukan setelah mereka membaca novela aslinya yang berbahasa Spanyol. Kesalahan yang ditemukan adalah adanya kalimat yang hilang dan ditambahkan juga struktur kalimat yang diubah-ubah.

Selain menerjemahkan dari bahasa asli, pemahaman atas bahasa tujuan juga menjadi penting. Penerjemahan bukan berarti mengartikan seluruh karya secara harfiah sebab perbedaan bahasa asli dan tujuan secara nggak langsung menuntut perubahan agar pembaca bisa paham. Kesetiaan pada naskah asli, menurut Irman, adalah kesetiaan pada makna.

“Eka Kurniawan pernah memberikan contoh bagus. Di Indonesia kan ada istilah ‘jalan tikus’, kita mengartikannya sebagai jalan pintas. Penerjemah bahasa Inggris yang nggak ngerti bisa mengartikannya secara harfiah, bisa jadi the rat road. Jadi maknanya luput, kan?” tambah Irman.

Bagaimana, kamu tertarik menerjemahkan karya sastra, Millens? (Gregorius Manurung/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: