BerandaHits
Minggu, 18 Nov 2023 16:29

Wolbachia Berpotensi Selamatkan Generasi Mendatang dari DBD

Wolbachia dalam tubuh nyamuk akan menghambat pertumbuhan virus dengue. (Canva-CDC/James gathan)

Dengan hasil positif yang telah dicapai di berbagai negara, Kemenkes yakin teknologi wolbachia menjadi sebuah terobosan penting dalam upaya mengatasi demam berdarah dengue (DBD).

Inibaru.id - Kementerian Kesehatan Indonesia telah menerapkan inovasi teknologi wolbachia sebagai strategi untuk menurunkan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di negara kita.

Inovasi ini bukanlah bentuk rekayasa genetika, melainkan pendekatan yang telah melibatkan riset sejak 2011 oleh World Mosquito Program (WMP) dan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Wolbachia, sejenis bakteri yang hanya dapat hidup di dalam tubuh serangga, terutama nyamuk, menjadi faktor utama dalam upaya pengendalian DBD.

Menurut Prof. dr. Adi Utarini MSc, MPH, PhD, seorang peneliti dari Universitas Gadjah Mada, baik wolbachia maupun nyamuk yang menjadi inangnya adalah organisme alami tanpa modifikasi genetik laboratorium. Materi genetiknya pun dijamin sama dengan bakteri di alam.

"Secara materi genetik baik dari nyamuk maupun bakteri wolbachia yang digunakan, identik dengan organisme yang ditemukan di alam,” ungkapnya.

Penerapan teknologi wolbachia di Indonesia dilakukan dengan metode "penggantian", di mana nyamuk jantan dan betina yang mengandung wolbachia dilepaskan ke populasi alami.

Proses ini bertujuan agar nyamuk setempat kawin dengan nyamuk yang membawa wolbachia, menghasilkan keturunan yang juga membawa bakteri ini. Wolbachia berperan penting dalam mencegah replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk.

DBD masih menjadi penyakit serius di Indonesia. (Kompas.id)

Dampak positif dari penerapan wolbachia terbukti signifikan. Uji coba di Yogyakarta pada tahun 2022 menunjukkan penurunan kasus DBD hingga 77% di lokasi yang telah menerapkan wolbachia. Selain itu, kebutuhan rawat inap pasien DBD di rumah sakit menurun hingga 86%.

Direktur Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada, dr. Riris Andono Ahmad MPH, Ph.D. menyebutkan hasil positif ini sebagai bukti efektivitas wolbachia dalam pengendalian DBD.

Pendekatan ini juga diakui oleh dr. Imran Pambudi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), yang menyoroti tingginya angka kejadian DBD di Indonesia, terutama pada kelompok anak-anak. Dr. Imran yakin bahwa teknologi wolbachia dapat menjadi langkah penyelamatan bagi generasi mendatang.

"Angka kejadian DBD di Indonesia masih tinggi dengan angka kematian yang tinggi terutama pada kelompok anak-anak, selain itu masih banyak daerah yang melaporkan kejadian luar biasa akibat DBD. Ini akan menyelamatkan anak anak kita ke depannya” ujar dr Imran Pambudi

Selain Indonesia, efektivitas penggunaan teknologi wolbachia juga telah terbukti di 13 negara lain, seperti Australia, Brazil, Colombia, El Salvador, Sri Lanka, Honduras, Laos, Vietnam, Kiribati, Fiji, Vanuatu, New Caledonia, dan Meksiko.

Dengan hasil positif yang telah dicapai, teknologi wolbachia menjadi sebuah terobosan penting dalam upaya global untuk mengatasi masalah kesehatan yang ditularkan oleh nyamuk, terutama di wilayah perkotaan yang padat penduduk dan memiliki insidensi DBD yang tinggi.

Semoga strategi ini efektif untuk menekan angka DBD di Indonesia ya, Millens. (Siti Zumrokhatun/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Pantai Dasun Lasem, Kabupaten Rembang

3 Mar 2026

Saat Takjil War, Waspada dengan Sejumlah Pembungkus Takjil Nggak Sehat Ini

3 Mar 2026

OTT Edisi Ramadan, KPK Bawa Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Jakarta

3 Mar 2026

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

3 Mar 2026

Tren 'Grading Card', Autentifikasi Kartu Koleksi agar Nilai Jual Lebih Tinggi

3 Mar 2026

Mulai Maret Ini, Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Main Medsos

3 Mar 2026

Kartu Mebel Jepara, 'Tiket Emas' biar UKM Ukir Naik Kelas

3 Mar 2026

Sejuk dan Alami, Begini Keindahan Air Terjun Kyai Buku Jepara

4 Mar 2026

Sepanjang 2025, Uang Hilang Setara Rp355 Miliar di Jepang Kembali ke Pemiliknya

4 Mar 2026

Opsi 'Sekolah Swasta Gratis' Akan Terintegrasi dengan SPMB 2026 di Kota Semarang

4 Mar 2026

Ponpes Raudhatul Qur'an; Cetak Ratusan Hafiz dengan Biaya Bulanan Murah Meriah

4 Mar 2026

Menguliti Asal Usul Nama Kurma

4 Mar 2026

Tragedi Cinta Mangir-Pembayun; Saat Asmara Jadi Senjata Penakluk Mataram

4 Mar 2026

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: