BerandaHits
Senin, 18 Jan 2026 13:01

Ratusan Ribu Keluarga Belum Punya Rumah, Apa Rencana Pemkot Semarang?

Kondisi rumah susun (rusun) Pekunden yang berlokasi di Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang. (Inibaru.id/ Sundara)

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang membuka berbagai opsi pengembangan hunian, dari rusun sewa hingga skema kepemilikan, untuk menekan backlog perumahan dan memperluas akses rumah layak bagi MBR.

Inibaru.id - Persoalan penyedian hunian masih menjadi pekerjaan besar bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Data terbaru menyebutkan, sebanyak kurang lebih 127.000 warga Kota Lunpia tercatat belum memiliki rumah sendiri hingga kini.

Angka tersebut masuk dalam kategori "backlog perumahan", yakni kesenjangan antara kebutuhan akan rumah layak huni dengan jumlah rumah yang tersedia dan terbangun, terutama untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), mencakup kekurangan rumah kepemilikan, rumah layak huni, dan rumah terjangkau.

Sekretaris Disperkim Kota Semarang Murni Ediati mengatakan, kesenjangan penyediaan hunian masih menjadi pekerjaan rumah. Saat ini, Pemkot Semarang tercatat telah membangun 18 unit rumah susun (rusun) untuk memenuhi kebutuhan hunian layak bagi MBR.

Ke depannya, perempuan yang akrab disapa Pipie itu membuka opsi agar rusun nggak hanya dipandang sebagai hunian sewa, tetapi juga dapat dikembangkan menyerupai apartemen hak milik untuk menekan angka backlog perumahan di Kota Semarang.

"Jadi, ke depan itu nanti ada semacam apartemen untuk menanggulangi backlog. Ada wacana seperti itu, makanya sekarang masih kami kaji apakah itu dimungkinkan atau tidak," ujar Pipie saat dihubungi Inibaru.id, Kamis (15/1/2025).

Terkendala Pembiayaan

Dia menyebutkan, salah satu tantangan utama untuk mewujudkan rencana tersebut adalah persoalan pembiayaan. Selama ini, pembangunan rusun di Kota Semarang nggak dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pada dasarnya, rusun diperuntukkan bagi MBR. Sementara itu, wacana pengembangan hunian yang dapat dimiliki memerlukan skema berbeda, baik dari sisi regulasi maupun pembiayaan.

Meski demikian, Pipie mengakui opsi tersebut tetap menjadi salah satu alternatif untuk menanggulangi masalah backlog perumahan yang jumlahnya masih cukup besar. Warga Kota Semarang yang belum memiliki rumah juga jumlahnya mencapai ratusan ribu.

"Kemungkinan itu sedang kita kaji karena ini salah satu bentuk penanggulangan backlog di Kota Semarang. Jumlahnya masih 127.000 orang yang belum punya rumah," paparnya.

Bukan Hanya Tanggung Jawab Pemkot

Lebih lanjut, Pipie menegaskan penanggulangan backlog perumahan tak hanya menjadi kewajiban Pemkot Semarang. Menurutnya, tanggung jawab tersebut juga melekat pada pengembang perumahan, khususnya yang tergabung dalam Real Estate Indonesia (REI).

"Secara aturan, kewajiban penyediaan hunian itu ada di pengembang. Mereka wajib menyediakan tiga klasifikasi tipe perumahan, yakni rumah mewah, sedang dan MBR," paparnya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang Agus Riyanto Slamet juga turut menyoroti urgensi penyediaan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah tersebut, terutama untuk kalangan buruh. Dia melontarkan gagasan agar buruh bisa menempati hunian yang lokasinya dekat dengan tempat kerja.

Salah satu opsi yang didorong yakni membuka peluang perubahan status rusun menjadi hak milik (HM) atau hak guna bangunan (HGB), serta pengembangan konsep Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami).

"Dengan status hak milik, mereka memiliki rasa aman dan kepemilikan; tidak lagi khawatir diusir atau terbebani sewa bulanan. Ini bentuk keberpihakan kepada wong cilik," katanya.

Selain itu, dia menyoroti penghuni rusun dari kategori sangat miskin atau lanjut usia (lansia) yang sudah tidak produktif dan kesulitan membayar sewa. Agus meminta Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang untuk turun tangan memfasilitasi kelompok rentan tersebut.

Dengan berbagai wacana yang tengah dipikirkan, semoga semakin banyak opsi hunian layak yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah ya, Gez! (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Pantai Dasun Lasem, Kabupaten Rembang

3 Mar 2026

Saat Takjil War, Waspada dengan Sejumlah Pembungkus Takjil Nggak Sehat Ini

3 Mar 2026

OTT Edisi Ramadan, KPK Bawa Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Jakarta

3 Mar 2026

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

3 Mar 2026

Tren 'Grading Card', Autentifikasi Kartu Koleksi agar Nilai Jual Lebih Tinggi

3 Mar 2026

Mulai Maret Ini, Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Main Medsos

3 Mar 2026

Kartu Mebel Jepara, 'Tiket Emas' biar UKM Ukir Naik Kelas

3 Mar 2026

Sejuk dan Alami, Begini Keindahan Air Terjun Kyai Buku Jepara

4 Mar 2026

Sepanjang 2025, Uang Hilang Setara Rp355 Miliar di Jepang Kembali ke Pemiliknya

4 Mar 2026

Opsi 'Sekolah Swasta Gratis' Akan Terintegrasi dengan SPMB 2026 di Kota Semarang

4 Mar 2026

Ponpes Raudhatul Qur'an; Cetak Ratusan Hafiz dengan Biaya Bulanan Murah Meriah

4 Mar 2026

Menguliti Asal Usul Nama Kurma

4 Mar 2026

Tragedi Cinta Mangir-Pembayun; Saat Asmara Jadi Senjata Penakluk Mataram

4 Mar 2026

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: