Inibaru.id - Bagi manusia modern, api mungkin cuma alat buat masak atau pemantik rokok. Tapi bagi otak kita, api adalah "obat penenang" alami yang sudah diwariskan sejak zaman nenek moyang.
Christopher D. Lynn, pakar antropologi dari University of Alabama, pernah melakukan riset unik pada 2014. Hasilnya? Orang yang menonton api unggun sambil mendengarkan suara letupannya mengalami penurunan tekanan darah yang signifikan. Tubuh mereka masuk ke mode istirahat total.
Uniknya, efek ini nggak bakal maksimal kalau kamu cuma melihat gambarnya tanpa suara. Suara letupan kayu terbakar itu ternyata kunci utama yang bikin saraf kita merasa aman dan nyaman.
Api Ibarat Bahan Bakar Otak Manusia
Tahu nggak, Gez? Nenek moyang kita, Homo erectus, diperkirakan sudah mulai mengendalikan api sejak sejuta tahun yang lalu! Menguasai api bukan cuma soal teknologi, tapi soal kecerdasan. Butuh kerja sama tim, ingatan yang kuat, sampai kemampuan berpikir taktis buat menjaga api tetap menyala.
Nah, dari sinilah evolusi otak manusia melesat. Berkat api, manusia mulai bisa memasak makanan. Makanan matang lebih mudah dicerna dan kaya energi, yang akhirnya jadi "bensin" buat perkembangan otak kita yang makin kompleks.
Perekat Sosial Paling Legendaris
Zaman dulu, nggak ada smartphone atau Netflix. Begitu matahari terbenam, api unggun jadi satu-satunya pusat hiburan. Di sinilah manusia purba mulai berkumpul, berbagi cerita, membangun kepercayaan, sampai menciptakan bahasa.
Cahaya api yang remang-remang bikin orang fokus pada satu lingkaran yang sama. Kondisi rileks ini bahkan disebut-sebut sebagai awal mula munculnya ritual spiritual dan kepercayaan. Intinya, api adalah media sosial pertama di dunia sebelum ada Instagram!
Dari Api Unggun ke Layar Televisi
Pernah kepikiran nggak kenapa kita suka kumpul bareng keluarga sambil nonton TV? Lynn bilang, TV itu sebenarnya "api unggun modern". Cahaya berkelip dan cerita yang disajikan bikin kita merasa dalam satu ruang bersama.
Tapi beda cerita kalau kamu malah sibuk doomscrolling sendirian di ponsel. Meski layarnya bercahaya, aktivitas ini seringnya malah bikin kita merasa kesepian dan hampa. Ibaratnya, menatap layar ponsel sendirian itu cuma kayak menatap korek api plastik: ada cahayanya, tapi nggak ada kehangatan dan kedekatan sosialnya.
Menatap api adalah cara kita berkomunikasi dengan akar terdalam kemanusiaan kita: kebersamaan.
Jadi, kalau nanti kamu ikut acara camping dan ada sesi api unggun, coba deh simpan ponselmu sebentar. Rasakan kehangatannya, dengerin suara deraknya, dan ngobrol santai bareng teman-teman. Rasanya pasti beda banget sama cuma nonton lewat layar! (Siti Zumrokhatun/E05)
