BerandaHits
Senin, 2 Nov 2025 16:38

Mencegah Buku dari Penuaan, Menjaganya Tetap Awet di Perpustakaan

Ilustrasi: Dengan penanganan yang buruk, buku yang terbuat dari material yang rapuh akan lebih mudah rusak. (Unsplash/Christin Hume)

Seperti manusia yang terpengaruh oleh alam, buku yang merupakan benda organik juga perlu dirawat agar nggak mengalami penuaan seperti menguning, berjamur, lembap, atau dimakan rayap. Dari pengaturan suhu, hingga cara menatanya, berikut adalah tips menjaga buku agar tetap awet di perpustakaan!

Inibaru.id - Buku adalah benda yang tampak tahan banting, tapi sesungguhnya sangatlah rapuh dan mudah rusak jika penanganannya kurang tepat. Inilah yang disadari betul oleh Sari Wulandari. Sebagai kolektor buku yang punya perpustakaan kecil di rumah, dia tahu bahwa material buku sangat mudah rusak.

"Buku-buku itu kan terbuat dari bahan organik, mulai dari kertas, lem, dan benang. Ini mudah rusak oleh udara lembap, panas, dan mikroorganisme yang nggak kasat mata. Jadi, nggak bisa sekadar disimpan di rak lalu nggak dirawat sama sekali," tuturnya, Sabtu (1/11/2025).

Berdasarkan pengalamanya, buku sebaiknya nggak terkena matahari langsung karena bisa menguning. Namun begitu, ia juga nggak boleh berada di ruangan tertutup yang sama sekali nggak tertembus cahaya karena berpotensi membuat ruanga tersebut lembap.

"Ruangan yang lembap memunculkan jamur, tapi kalau terlalu kering setahuku juga bikin kertas mudah rapuh. Untuk menyikapinya, aku biasa pakai silica gel di sekitar rak buku untuk menyerap kelembapan itu," terang penggemar seri Harry Potter tersebut.

Musuh Utama Buku: Cahaya dan Kelembapan

Sebagaimana dikatakan Sari, menyimpan buku nggak cukup dilakukan dengan menatanya di rak. Biar nggak cepat rusak, kamu perlu mengetahui bagaimana alam bisa membuat jendela ilmu itu luruh dimakan zaman, dengan dua agen utamanya yakni cahaya dan kelembapan.

Secara kimia, kertas mengandung selulosa, senyawa dari serat kayu yang sangat sensitif terhadap sinar ultraviolet (UV). Ketika terkena cahaya matahari langsung, rantai selulosa akan teroksidasi. Akibatnya, warna kertas berubah menjadi krem kekuningan.

Idealnya, suhu ruangan untuk menyimpan buku adalah 18–22 derajat Celsius, dengan kelembapan relatif 45–55 persen. Seperti kata Sari, kelembapan di atas 60 persen memicu tumbuhnya jamur (fungi), sementara di bawah 40 persen bisa membuat kertas menjadi rapuh dan mudah sobek.

Inilah alasan mengapa perpustakaan besar dunia seperti Library of Congress menggunakan humidifier dan dehumidifier otomatis untuk menjaga keseimbangan udara. Namun, untuk kolektor buku rumahan, kamu bisa meletakkan silika gel di antara rak atau menempatkan pengering udara (dehumidifier portable) di ruangan.

Hindari menaruh buku di dekat jendela, kamar mandi, atau dapur, ya!

Sirkulasi Udara dan Lem

Selain nggak boleh lembap, ruang penyimpanan buku atau perpustakaan mini di rumah juga sebaiknya memiliki sirkulasi udara yang lancar. Perlu kamu tahu, udara yang mengendap membuat debu dan spora jamur menempel di permukaan buku. Karena itulah sirkulasi udara menjadi penting.

Pastikan rak nggak menempel langsung ke dinding. Beri jarak sekitar 5–10 sentimeter agar udara bisa mengalir di belakangnya.

Setiap beberapa minggu, buka rak, bersihkan debu dengan kain microfiber kering, dan angin-anginkan buku selama beberapa jam di tempat teduh. Jangan menjemurnya di bawah sinar matahari langsung karena bisa mempercepat proses oksidasi kertas.

Ilustrasi: Buku di rak sebaiknya disusun dalam posisi berdiri tegak seperti di perpustakaan. (Unsplash/Radu Marcusu)

Oya, untuk kamu yang suka merawat buku dengan menyampulinya, pastikan menggunakan lem dan sampul yang tepat, ya! Lem yang mengandung asam asetat atau poliuretan dapat menulari kertas dengan keasaman tinggi, membuatnya cepat rapuh dan berubah warna.

Maka, gunakan lem bebas asam (acid-free glue) dan sampul berbahan polypropylene (PP) yang stabil terhadap suhu dan nggak mengandung bahan kimia aktif. Hindari selotip bening yang berpotensi meninggalkan noda cokelat permanen setelah beberapa tahun.

Cara Menyimpan Buku

Rayap, kutu buku (booklice), dan kecoa tertarik pada kertas karena kandungan pati (starch) yang digunakan dalam proses pembuatan lem dan pelapisan. Maka, waspadalah! Alih-alih menyemprotkan pestisida, lebih baik kamu menggunakan cara yang lebih aman berikut ini:

  1. Letakkan kamper alami atau daun salam kering di sela rak karena aromanya akan menolak serangga tanpa merusak buku.
  2. Taburkan sedikit kapur barus anti-rayap dalam wadah tertutup yang diberi lubang kecil di bagian ataa di dekat rak.
  3. Jika sudah ada tanda gigitan rayap, segera keluarkan semua buku dan bersihkan rak menggunakan larutan cuka putih dan air (1:1) untuk menetralkan jejak feromon rayap.

Yang Nggak Boleh Kamu Lakukan

Buku sebaiknya disimpan tegak lurus seperti di perpustakaan, nggak ditumpuk secara horizontal hingga sangat tinggi karena akan memperberat buku terbawah dan merusak lem perekatnya. Kamu bisa menggunakan bookend (penahan buku) agar buku nggak miring.

Oya, jangan lupa sisakan sedikit ruang kosong antara satu buku dan lainnya agar udara bisa mengalir. Untuk buku besar seperti album foto atau atlas, baringkan secara horizontal tapi jangan ditumpuk lebih dari tiga buku dalam satu tumpukan.

Terus, jangan gunakan plastik kedap udara. Banyak orang mengira menyegel buku dengan plastik rapat bisa membuatnya awet. Padahal, plastik kedap udara justru menahan uap air di dalamnya, yang ika suhu berubah, uap itu akan mengembun dan menimbulkan jamur di permukaan kertas.

Solusinya, gunakan sampul plastik berpori mikro atau simpan dalam kotak arsip berbahan karton bebas asam (acid-free box). Kotak jenis ini banyak digunakan oleh arsip nasional di berbagai negara untuk menjaga naskah berusia ratusan tahun.

Ada yang mengatakan, buku itu hidup dan "bernapas", karena ia menyerap dan melepaskan udara di sekitarnya. Ia akan lapuk dan menua seiring berjalannya waktu. Maka, satu-satunya cara untuk membuatnya bertahan adalah merawatnya baik-baik atau membacanya berulang hingga terekam dalam ingatan. (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Belajar Langsung dari Mbah Atemo, Belasan Anak Muda Lestarikan Mainan Tradisional Berbahan Kertas Bekas

6 Jul 2026

Mengenal Bunga Edelweiss Jawa, Si "Bunga Abadi" yang Justru Terancam Punah

6 Jul 2026

Dikira Bahasa Gaul, "Anjir" Justru Kosakata Lama Nelayan Pantura

7 Jul 2026

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

8 Jul 2026

Muhammadiyah Resmikan KucingMu, Kampanyekan Kepedulian terhadap Hewan

9 Jul 2026

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan, Ini Dasar Pertimbangannya

10 Jul 2026

BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

13 Jul 2026

Indonesia dan India Berkolaborasi Konservasi Candi Prambanan, Perkuat Pariwisata Budaya Kelas Dunia

14 Jul 2026

Warisan Sejarah Indonesia Kembali, Dua Arca Buddha Kuno Dipulangkan dari AS

14 Jul 2026

4 Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Makanan Berbahan Tepung Tapioka Terbaik 2026 Versi Taste Atlas

15 Jul 2026

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: