BerandaKulinary
Senin, 11 Jan 2026 11:01

Waroeng Sate Pak Dul Tjepiring, Tempat Makan yang Juga Museum Mini

Meski bentuknya sederhana, Waroeng Sate Pak Dul Tjepiring punya museum mini di dalamnya. (Google Street View)

Siapa sangka, di balik kesederhanaan bangunan Waroeng Sate Pak Dul Tjepiring, ada banyak artefak bersejarah yang ada di dalamnya. Makan satai di sana serasa sedang makan di museum mini, Gez!

Inibaru.id – Meski hanya sebuah kecamatan kecil di Kabupaten Kendal, bukan berarti Cepiring miskin sejarah. Di sana, bahkan ada sebuah warung satai yang mampu menawarkan banyak cerita sejarah sejak masa penjajahan. Namanya adalah Waroeng Sate Pak Dul Tjepiring.

Warung ini berlokasi di Jalan Sriagung No. 234, tepat di samping Balai Desa Cepiring, Di sana, kamu nggak hanya bisa mengisi perut, tetapi juga menilik perjalanan panjang sebuah kota kecil yang pernah punya peran besar di masa kolonial.

Konon, Waroeng Sate Pak Dul sudah berdiri sejak tahun 1940. Artinya, warung ini lahir di masa akhir kolonial Belanda, bertahan di zaman pendudukan Jepang, hingga tetap berdiri selepas Indonesia merdeka.

Begitu masuk ke dalam warung, suasana lawas langsung terasa. Dinding kayu dipenuhi foto-foto hitam putih Pabrik Gula Cepiring, potret perkebunan tebu era 1930-an, hingga dokumentasi pasukan KNIL yang pernah hadir di wilayah ini.

Bukan cuma foto, sejumlah artefak bersejarah juga dipajang dengan rapi. Ada botol Genever berbahan terakota bertuliskan nama perusahaan minuman Eropa abad ke-18, koran Merdeka dan Sin Min edisi 1956, majalah National Geographic tahun 1975, hingga akta notaris dari tahun 1889. Semua itu menjadikan warung sate ini terasa seperti museum mini yang hidup.

Aryo Widiyanto, pemilik warung sekaligus generasi ketiga keluarga Pak Dul, menjelaskan tentang konsep warung plus museum mini ini.

Foto-foto lawas kaya sejarah yang menempel di dinding warung. (Yozar Firdaus Amrullah)

“Kami memang sengaja merancang warung ini sebagai museum mini untuk mengabadikan sejarah perjalanan Cepiring yang pernah menjadi pusat kekuatan dagang dan politik Belanda dengan pabrik gulanya. Jadi, selain makan, pengunjung bisa belajar sejarah sekalian,” ujarnya sebagaimana dinukil dari Suaramerdeka, Rabu (31/12/2025).

Ia bercerita, beberapa koleksi foto di dinding bahkan didapatkan dari mantan pejabat Pabrik Gula Cepiring yang datang langsung dari Belanda.

“Mereka sengaja datang ke Indonesia untuk mengenang masa ketika masih menjabat di pabrik gula, lalu mampir ke warung kami yang dulu juga jadi langganan mereka,” lanjutnya. Dari pertemuan-pertemuan itulah, foto dan cerita lama kembali ke Cepiring.

Meski sarat sejarah, urusan rasa tetap jadi prioritas di warung ini. Menu andalan di sini adalah satai kambing seharga Rp7.000 per tusuk dan satai sapi Rp6.500 per tusuk. Ada juga satai sosis dengan ukuran besar hingga jumbo. Untuk menu berkuah, tersedia gulai kambing seharga Rp35.000 serta mangut kepala ikan manyung dengan harga mulai Rp15.000 hingga Rp30.000 tergantung porsi.

“Semua diolah dengan bumbu khas perdesaan Jawa yang sederhana tapi kuat rasanya. Cita rasa tradisional ini memang kami pertahankan agar tidak tergerus modernisasi,” jelas Aryo.

Waroeng Sate Pak Dul Tjepiring buka setiap hari pukul 10.00 WIB hingga 19.00 WIB. Di tengah menjamurnya tempat makan modern, warung ini hadir sebagai pengingat bahwa makanan juga bisa menjadi medium untuk menjaga identitas, merawat ingatan, dan membuka kembali percakapan tentang masa lalu. Keren banget ya, Gez? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengintip Sisi Lain Nusakambangan yang Indah di Pantai Bantar Panjang

11 Jan 2026

Waroeng Sate Pak Dul Tjepiring, Tempat Makan yang Juga Museum Mini

11 Jan 2026

Bahaya yang Mengintai saat Anak Terlalu Cepat Diberi Gawai

11 Jan 2026

Lebih dari Menikmati Kopi, 'Ngopi' adalah tentang Koneksi dan Ekspresi Diri

11 Jan 2026

Sungai Finke Sudah Mengalir Sebelum Dinosaurus Lahir

11 Jan 2026

Musim Hujan Bikin Para Ibu Gampang Capek dan Baperan? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

11 Jan 2026

Tenangnya Berwisata di Waduk Greneng Blora

29 Des 2025

Anak Muda Tokyo Hidup di Apartemen Super Kecil Demi Bertahan di Kota Besar

29 Des 2025

UMK Ditetapkan, Gubernur Jateng: Upah Minimum untuk Masa Kerja Kurang dari Satu Tahun

29 Des 2025

Gaya Hidup Ramah Lingkungan; Ide Sederhana untuk Resolusi 2026

29 Des 2025

Antara Banyu Panguripan dan Tempat Sampah Raksasa: Masihkah Orang Jawa Memuliakan Sungai?

29 Des 2025

Deadline 31 Desember, 5 Juta Orang Belum Aktivasi Akun Coretax, Kamu?

29 Des 2025

Pengin Wisata di Solo dengan Cara Berbeda? Naik Bus Werkudara Saja

30 Des 2025

Alasan Berkendara Saat Hujan Bikin Tubuh Lebih Lelah

30 Des 2025

No Drama; Poin Penting saat Menetapkan Batasan 'Screen Time' Anak!

30 Des 2025

Screen Time Terlalu Dini Bisa Pengaruhi Respons Anak terhadap Rangsangan Fisik

30 Des 2025

Nggak Butuh Nikel dan Lithium, Google Kenalkan Baterai Berbasis CO2

30 Des 2025

Gawat! 20 Juta Ton Sampah Serbu Laut Indonesia, Ternyata Ini Jalur Utamanya

30 Des 2025

Khusus Hadir pada Periode Tahun Baru 2026, Ini 4 Fitur Baru WhatsApp yang Seru!

31 Des 2025

Prakiraan Cuaca Malam Tahun Baru 2026; Hujan di Berbagai Tempat!

31 Des 2025

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: