BerandaHits
Selasa, 12 Jan 2026 12:44

Belenggu Musim Baratan bagi Nelayan; Gagal Melaut dan Terjerat Lintah Darat

Suasana di dermaga Tambak Mulyo Semarang. Saat terpaksa nggak melaut karena musim baratan, sejumlah nelayan akan mengisi waktu dengan memperbaiki alat tangkap. (Inibaru.id/ Sundara)

Musim baratan yang membuat gelombang laut mengganas membuat aktivitas melaut berhenti, nggak terkecuali di Semarang. Para nelayan yang gagal melaut menghadapi masalah finansial, yang sebagian di antaranya nggak jarang terjerat lintah darat.

Inibaru.id - Musim baratan (angin muson barat) yang menghantam pesisir Kota Semarang setiap tahun nggak hanya membawa gelombang tinggi dan angin kencang, tapi juga membelit para nelayan dalam belenggu ekonomi. Untuk menyambung hidup, nggak jarang mereka berhutang dari rentenir atau bank titil.

Para nelayan memang nggak bisa memaksakan diri untuk berlayar saat laut sedang nggak bersahabat. Jangankan menangkap ikan, perahu bahkan terpaksa mereka tarik jauh-jauh dari bibir pantai. Bingung, tapi nggak ada yang bisa mereka lakukan.

Suwardi, warga Kelurahan Tambak Mulyo, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, yang sehari berprofesi sebagai nelayan mengaku sudah hampir sepekan ini nggak melaut. Hari-harinya dihabiskan menata dan menjahit jaring yang sobek dengan duduk di emperan dermaga.

Gelombang tinggi menjadi alasan Suwardi memilih menjauh dari laut. Beristirahat, daripada nekat menerjang badai untuk menangkap ikan, sembari harap-harap cemas menunggu kapan cuaca membaik dan laut lebih tenang untuk diarungi.

Tanpa Pekerjaan Sampingan

Sedikit informasi, datangnya angin muson barat atau masyarakat setempat biasa menyebutnya "periode baratan" di pesisir utara Jawa membuat angin dari arah utara berembus kencang. Periode yang biasanya terjadi dari Desember hingga akhir Januari ini turut membawa gelombang yang tinggi.

Kondisi tersebut membuat laut menjadi berbahaya bagi perahu nelayan, sehingga sebagian besar memilih nggak melaut demi keselamatan, nggak terkecuali para nelayan di pesisir Kota Lunpia yang menggantungkan hidupnya di laut.

Bagi mereka yang nggak memiliki tabungan atau pekerjaan sampingan, situasi tersebut tentu saja semakin berat. Tanpa penghasilan, sebagian nelayan pun terpaksa menelan pil pahit dengan meminjam uang ke lintah darat demi memastikan dapur tetap mengepul.

"Sejak akhir Desember sudah masuk musim barat. Selama itu saya libur. Tidak melaut," ujar Suwardi saat ditemui Inibaru.id, belum lama ini. "Karena tidak ada pekerjaan sampingan, aktivitas selama baratan paling memperbaiki jaring."

Terjerat Utang demi Makan

Banyak perahu yang bersandar di dermaga Tambak Mulyo Kota Semarang ketika sedang musim baratan. (Inibaru.id/ Sundara)

Untuk makan sehari-hari selama nggak melaut, Suwardi mengaku terpaksa meminjam uang ke bank titil. Hal itu sudah dilakukannya sejak awal-awal menjadi nelayan. Dia melakukannya karena menurutnya keputusan itu merupakan pilihan yang paling realistis, meski nantinya harus membayar utang dengan bunga yang tinggi.

"Yang biasa pinjam ke bank titil itu istri, saya hanya mengizinkan. Tidak apa-apa, saya maklumi karena tidak ada penghasilan. Tunggu kiriman dari anak juga sebulan sekali," curhatnya.

Sembari menatap ombak yang menggoyang dermaga, laki-laki yang telah melaut sejak 1980 itu berharap akan segera datang solusi. Solusi, lanjutnya, nggak harus berwujud bantuan, tapi bisa misalnya, kebijakan untuk memperkuat tanggul gelombang agar perahu tetap aman dari badai.

"Dengan memperkuat tanggul gelombang, setidaknya perahu nelayan akan tetap aman meski gelombang tinggi menghantam sampai dermaga," sebutnya.

Saat laut mengganas, kerusakan perahu memang menjadi ancaman serius bagi nelayan. Padahal, bagi mereka, kehilangan perahu bukanlah semata tentang rugi materi, tapi terenggutnya mata pencaharian yang menjadi tumpuan hidup satu-satunya sebagian nelayan.

Tetap Nekat Melaut

Di antara para nelayan yang memilih berdamai dengan alam yang sedang nggak bersahabat, Mujiono justru melakukan hal sebaliknya. Nelayan berusia 60 tahun itu memilih untuk tetap melaut. nekat menerjang gelombang di tengah musim baratan demi menghidupi keluarganya.

Menurutnya, laut adalah satu-satunya jalan untuk membawa pulang penghasilan. Namun begitu, dia mengatakan nggak melakukannya dengan sembrono. Menjadi nelayan untuk waktu yang lama membuatnya punya kemampuan membaca gerak awan dan tanda cuaca dengan melihat langit.

Jika ada kans untuk melaut, barulah dia akan melakukannya. Namun, saat cuaca hari itu terlihat kurang mendukung, Mujiono akan tetap mengurungkan niat. Dia sadar betul bahwa ombak besar bisa mengancam nyawa dan perahunya.

"Patokan saya bukan musim, karena musim baratan saya juga tetap melaut. Namun, lihat cuaca dulu; kalau di sana ada awan mendung, saya libur karena pasti akan ada gelombang besar," ungkap Mujiono sembari menunjuk ke arah utara.

Musim Tangkap Udang

Potret nelayan di pesisir Semarang banyak menghabiskan waktu memperbaiki alat tangkap semasa periode musim baratan. (Inibaru.id/ Sundara)

Mujiono berani mengambil risiko lantaran menurutnya, musim gelombang tinggi justru merupakan momentum yang tepat untuk menangkap udang. Sekali berlayar, dia mengaku bisa memperoleh 10-30 kilogram udang, sedangkan tangkapan lain seperti ikan grabah dan cumi-cumi justru hanya sebagai tambahan.

"Kalau Maret, barulah tangkapan untuk ikan grabah dan cumi-cumi berlimpah; sekali melaut bisa bawa pulang 30 sampai 40 kilogram. Melautnya bisa sampai perairan Mangkang (ke barat) atau Demak (ke timur)," terangnya.

Kalau pada akhirnya nggak bisa melaut, mau nggak mau Mujiono akan rehat. Namun, untuk mencukupi kebutuhan ekonomi, dia mengaku enggan bergantung pada utang dari bank titil. Dia lebih memilih menggunakan tabungan yang telah disiapkannya sejak awal sebagai cadangan pada masa sulit.

"Kalau saya berutang, nanti jadi kebiasaan. Saya lebih suka menyimpan penghasilan dari hasil tangkapan untuk ditabung. Kalau lagi masa sulit seperti baratan, (tabungannya) bisa dipakai kebutuhan sehari-hari," kata dia.

Bantuan dari Pemkot Semarang

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti saat berdialog dengan nelayan Tambak Mulyo, Semarang Utara. (Sundara/ Inibaru.id)

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyatakan prihatin atas masa paceklik yang melanda nelayan akibat angin barat. Sebagai bentuk kepedulian, Pemkot menyalurkan paket sembako untuk 400 keluarga.

"Kami tahu, di masa angin barat ini nelayan bisa tidak melaut selama dua minggu hingga berbulan-bulan. Dalam masa-masa sulit seperti ini, pemerintah harus hadir untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi," ujar Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.

Nggak hanya memberikan bantuan pangan, Agustina juga menyiapkan langkah lanjutan agar nelayan tetap produktif selama masa paceklik. Salah satu upayanya ialah dengan mencoba pengembangan budi daya ikan air tawar berbasis teknologi bioflok yang masih sejalan dengan keterampilan para nelayan.

Untuk nelayan yang kapalnya rusak akibat hantaman gelombang, Pemkot juga punya komitmen untuk memastikan akan menanggung pembiayaan perbaikan, sehingga nelayan dapat kembali melaut saat kondisi laut membaik.

"Kami ingin nelayan tetap aktif, karena laut adalah bagian dari kehidupan mereka. Selain budi daya ikan air tawar, kami juga mendorong pengolahan hasil laut seperti kerajinan kulit kerang bagi perempuan di sini," tutur Agustina. "Tujuannya, agar ekonomi keluarga tetap bergerak meski mereka tidak melaut."

Musim baratan memang terasa berat bagi nelayan. Bantuan dan kepedulian dari pemerintah setempat, semoga bisa meringankan beban para nelayan pesisir Semarang, ya Gez! (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Rahasia Matematika di Balik Motif Batik, dari Simetri hingga Pola Fibonacci

16 Mei 2026

ARTOTEL Gajahmada Semarang Hadirkan Pameran Seni Kontemporer “Episentrum”

16 Mei 2026

Nyandhang Tradisi untuk Menjaga Ingatan Batik Kudus

18 Mei 2026

9 WNI dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza Dicegat Israel, Ada Wartawan Media Nasional

19 Mei 2026

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

20 Mei 2026

SMA Negeri 1 Kemalang Resmi Berdiri, Anak Lereng Merapi Tak Perlu Sekolah Jauh Lagi

20 Mei 2026

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Congklak, Permainan Tradisional Tertua yang Kini Mulai Dilupakan

29 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: