BerandaHits
Kamis, 14 Jan 2026 11:01

Paradoks Memiliki Anak di Korea, Dianggap Berkah Sekaligus Kutukan Finansial

Ilustrasi: Warga Korea menganggap memiliki anak sebagai sesuatu yang mahal. (Japantimes/Reuters)

Sebuah survei menunjukkan kalau generasi muda Korea sebenarnya pengin punya anak, tapi mengaku khawatir jika memiliki anak, bakal bikin ekonominya menjadi semakin sulit. Ini penjelasannya.

Inibaru.id - Cerita Nara, teman saya asal Gyeongju yang baru melahirkan anak pertamanya di usia 36 tahun, rasanya bukan kisah yang berdiri sendiri. Di Korea Selatan, keputusan untuk punya anak sering kali berada di persimpangan antara rasa bahagia yang besar dan kecemasan finansial yang tak kalah besar. Anak dipandang sebagai berkah, sekaligus “kutukan” ekonomi yang nyata.

Perempuan yang pernah beraktivitas di Indonesia itu sudah menikah lebih dari 5 tahun. Tapi, baru sekarang dia benar-benar merasa siap memiliki anak secara finansial. Hal inilah yang dia yakini juga jadi alasan sebagian besar teman-temannya masih belum seberani dia memiliki keturunan.

“Sebagian besar temanku masih single di usia segini. Banyak yang khawatir menikah, apalagi memiliki anak, bakal membuat keuangan jadi lebih sulit. Aku bisa mengerti alasan mereka memilih seperti itu,” ucapnya di pesan Instagram pada Senin (12/1/2026).

Pandangan Nara terkait memiliki anak bisa memberikan dilema tersendiri di Korea ini tercermin dalam sebuah survei terbaru yang dilakukan Korea Institute for Health and Social Affairs dan dirilis oleh Korea JoongAng Daily pada Minggu (11/1).

Survei tersebut melibatkan 2.500 responden berusia 20–49 tahun dari lima negara: Korea Selatan, Jerman, Jepang, Prancis, dan Swedia. Hasilnya cukup menarik. Orang Korea justru paling percaya bahwa memiliki anak akan menambah kebahagiaan hidup, namun di saat yang sama juga bikin kekhawatiran paling besar soal beban biaya.

Biaya kehamilan, persalinan, dan membesarkan anak di Korea cukup mahal. (Asahi/AP)

Sebanyak 74,3 persen responden Korea menyebut kelahiran anak membawa kegembiraan dan kepuasan hidup yang lebih besar. Angka ini tertinggi dibandingkan negara lain dalam survei tersebut. Artinya, secara emosional dan kultural, anak masih ditempatkan sebagai sumber makna hidup yang penting. Ini selaras dengan banyak cerita personal, termasuk Nara, yang mengaku bahagia sekaligus terharu setelah menjadi seorang ibu.

Namun, sisi lain dari cerita ini jauh lebih gelap. Saat ditanya soal dampak negatif memiliki anak, 92,7 persen responden Korea menyebut meningkatnya beban finansial. Lagi-lagi, ini menjadi angka tertinggi di antara negara pembanding. Biaya persalinan, pengasuhan, pendidikan, hingga les dan bimbingan belajar saat anak mulai memasuki usia sekolah menjadi bayangan panjang yang menghantui calon orang tua.

Kontradiksi ini juga terlihat dari niat memiliki anak. Meski Korea Selatan mencatat persentase tertinggi terkait keinginan menikah di kalangan responden yang belum menikah (52,9 persen), niat memiliki anak justru lebih rendah. Hanya 31,2 persen responden Korea yang menyatakan ingin punya anak, kalah dari Swedia, Prancis, dan Jerman. Bahkan, bagi mereka yang ingin punya anak pun, rata-rata jumlah anak yang direncanakan paling sedikit, yakni 1,74 anak saja.

Fenomena ini membantu menjelaskan mengapa Korea Selatan terus bergulat dengan tingkat kelahiran yang sangat rendah. Anak memang dianggap membawa kebahagiaan, tetapi kebahagiaan itu terasa mahal, terlalu mahal untuk banyak generasi muda yang hidup di tengah biaya perumahan tinggi, persaingan kerja ketat, dan tuntutan pendidikan yang nyaris tanpa akhir.

Tim peneliti menyebut bahwa persepsi tentang beban finansial sangat mungkin berkaitan erat dengan rendahnya tingkat fertilitas di Korea. Artinya, masalahnya bukan semata soal keengganan emosional atau perubahan nilai keluarga, melainkan soal rasa aman. Selama memiliki anak identik dengan tekanan ekonomi jangka panjang, banyak pasangan akan terus menunda atau bahkan mengurungkan niat.

Cerita Nara, survei ini, dan realitas sosial Korea Selatan bertemu di satu titik yang sama: anak masih dirayakan dalam hati, tetapi ditimbang ulang dalam hal keuangan. Kesannya jadi mirip dengan lirik lagu Kunto Aji berjudul Saudade yang “biarlah aku dikutuk, dan engkau yang dirayakan” itu, ya, Gez? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengintip Sisi Lain Nusakambangan yang Indah di Pantai Bantar Panjang

11 Jan 2026

Waroeng Sate Pak Dul Tjepiring, Tempat Makan yang Juga Museum Mini

11 Jan 2026

Bahaya yang Mengintai saat Anak Terlalu Cepat Diberi Gawai

11 Jan 2026

Lebih dari Menikmati Kopi, 'Ngopi' adalah tentang Koneksi dan Ekspresi Diri

11 Jan 2026

Sungai Finke Sudah Mengalir Sebelum Dinosaurus Lahir

11 Jan 2026

Musim Hujan Bikin Para Ibu Gampang Capek dan Baperan? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

11 Jan 2026

Menilik Keindahan Curug Merak di Kabupaten Temanggung

12 Jan 2026

Cara Naik Kereta 36+3 di Jepang yang Santai dan Kaya Pemandangan Indah

12 Jan 2026

Belenggu Musim Baratan bagi Nelayan; Gagal Melaut dan Terjerat Lintah Darat

12 Jan 2026

Koperasi hingga Budi Daya Ikan, Upaya Pemkot Bantu Nelayan Semarang hadapi Paceklik

12 Jan 2026

3 Kode dari Tubuh Kalau Kamu Alami Intoleransi Gluten!

12 Jan 2026

Akses Jalan Mulai Terbuka, Desa Tempur Jepara Perlahan Bangkit Pascalongsor

12 Jan 2026

'Project Y', Film Korea Terbaru yang Duetkan Aktris Papan Atas Korea Han So-hee dan Jun Jong-seo

13 Jan 2026

Cerita Legenda Puncak Syarif di Gunung Merbabu

13 Jan 2026

Merti Sendang Curug Sari dan Kampanye 'Nggodog Wedang' Warga Pakintelan Semarang

13 Jan 2026

In This Economy, Mengapa Orang Masih Berburu Emas meski Harga Sudah Tinggi?

13 Jan 2026

Riset Ungkap Kita Sering Merasa Kebal dari Dampak Perubahan Iklim

13 Jan 2026

Bolehkah Makan Malam Cuma Pakai Buah?

13 Jan 2026

Khusus Hadir pada Periode Tahun Baru 2026, Ini 4 Fitur Baru WhatsApp yang Seru!

31 Des 2025

Prakiraan Cuaca Malam Tahun Baru 2026; Hujan di Berbagai Tempat!

31 Des 2025

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: