Inibaru.id - Di saat banyak negara masih sibuk membangun sekolah baru, Korea Selatan justru harus menutup ribuan sekolah karena satu alasan besar: jumlah anak usia sekolah terus menyusut. Masalah ini bukan sekadar urusan pendidikan, tapi cerminan krisis demografi yang makin serius.
Hingga Maret 2025, pemerintah Korea Selatan tercatat telah menutup 4.008 sekolah dari berbagai jenjang, mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Data ini disampaikan Kementerian Pendidikan Korea Selatan dan diungkap ke publik oleh anggota parlemen Jin Sun-mee. Angkanya bukan main-main dan menunjukkan bahwa penurunan jumlah pelajar sudah berada di level yang mengkhawatirkan.
Menurut data yang diungkap Koreatimes, Rabu (31/12/2025), mayoritas sekolah yang ditutup adalah sekolah dasar. Dari total ribuan sekolah tersebut, sebanyak 3.674 SD resmi berhenti beroperasi. Sementara itu, 264 sekolah menengah pertama dan 70 sekolah menengah atas juga ikut ditutup.
Dalam lima tahun terakhir saja, ada 158 sekolah yang menghilang dari peta pendidikan Korea Selatan. Bahkan, lima tahun ke depan diperkirakan masih akan ada lebih dari 100 sekolah tambahan yang menyusul tutup.
Penutupan sekolah ini paling terasa di daerah-daerah luar kawasan perkotaan. Wilayah pedesaan dan kota kecil mengalami penurunan jumlah siswa jauh lebih cepat dibandingkan Seoul dan sekitarnya. Banyak keluarga muda memilih pindah ke kota besar untuk mencari pekerjaan, meninggalkan daerah asal yang akhirnya kekurangan anak-anak usia sekolah.
"Dulu pas saya jadi sukarelawan ngajar Bahasa Inggris di Haenam pada 2009 saja, jumlah anak SD per kelasnya nggak sampai 10 orang. Sulit banget melihat anak kecil dan anak-anak muda di kawasan pedesaan di Korea. Apalagi sekarang," ucap salah seorang warga Indonesia yang pernah tinggal di Korea bernama Nora, Rabu (31/12).
Baca Juga:
Kala Otoritas Korea Selatan Semakin Khawatir dengan Meningkatnya Kasus Bunuh Diri di Usia RemajaAkar masalahnya jelas: krisis populasi. Korea Selatan saat ini memiliki tingkat kelahiran yang sangat rendah, bahkan termasuk yang terendah di dunia. Total fertility rate negara tersebut sudah lama berada di bawah angka 1, jauh dari ambang ideal untuk menjaga keseimbangan populasi. Akibatnya, jumlah anak yang lahir setiap tahun semakin sedikit, dan dampaknya baru benar-benar terasa sekarang di sektor pendidikan.
Jika ditarik ke belakang, jumlah pelajar Korea Selatan pernah mencapai hampir 10 juta siswa pada era 1980-an. Namun pada tahun ajaran 2025, angka tersebut turun drastis menjadi sekitar 5 juta siswa. Proyeksi ke depan pun tidak terlalu optimistis. Pada 2029, jumlah siswa diperkirakan menyusut lagi hingga sekitar 4,2 juta.
Dampak penutupan sekolah tidak berhenti di ruang kelas. Guru kehilangan tempat mengajar, anggaran pendidikan harus disesuaikan, dan fasilitas sekolah yang sudah dibangun puluhan tahun lalu kini terbengkalai. Dari ribuan sekolah yang ditutup, ratusan bangunan belum dimanfaatkan kembali. Bahkan, ada sekolah yang kosong lebih dari 10 tahun.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa krisis demografi bukan isu masa depan, tapi masalah nyata yang dampaknya sudah terjadi hari ini. Korea Selatan mungkin dikenal sebagai negara maju dengan teknologi canggih, namun urusan populasi dan regenerasi justru menjadi tantangan terbesarnya saat ini. (Arie Widodo/E07)
