Inibaru.id - Pernah kepikiran nggak sih, Millens, kalau di dunia ini ada sesuatu yang jauh lebih tua daripada T-Rex atau Triceratops? Ternyata, jawabannya bukan cuma fosil, tapi sebuah sungai yang masih eksis sampai sekarang!
Namanya Sungai Finke (atau sering disebut Larapinta oleh masyarakat Adat Arrernte). Sungai yang ada di Australia ini dinobatkan sebagai salah satu kandidat kuat sungai tertua di dunia. Umurnya nggak main-main, yaitu sekitar 300 hingga 400 juta tahun. Sebagai perbandingan, dinosaurus saja baru muncul sekitar 230-an juta tahun yang lalu. Jadi, pas nenek moyang dinosaurus belum lahir, air di Sungai Finke ini sudah asyik mengalir!
Mungkin kamu bertanya-tanya, kok bisa sungai bertahan selama itu tanpa mengering atau berubah arah? Rahasianya ada pada sifat "keras kepala" si sungai ini.
Para ahli geologi menemukan fenomena unik yang disebut cross-axial drainage. Biasanya, air bakal mengalir lewat jalur yang paling gampang dan menghindari batu keras. Tapi Sungai Finke beda! Dia justru memotong langsung pegunungan batu kuarsit di Pegunungan MacDonnell.
Ini membuktikan teori antecedence: si sungai sudah ada lebih dulu sebelum pegunungan itu muncul. Jadi, pas kerak bumi perlahan naik membentuk gunung, Sungai Finke nggak mau minggir. Dia malah terus mengikis ke bawah dan mempertahankan jalurnya. Ibaratnya, dia bilang ke gunung, "Eh, gue duluan ya yang di sini!"
Penampakan yang Unik
Jangan bayangin Sungai Finke itu kayak Sungai Amazon yang lebar dan arusnya deras sepanjang tahun ya. Karena letaknya di wilayah kering Australia Tengah, Finke lebih sering terlihat seperti deretan lubang air atau kolam-kolam terpisah di tengah gurun.
Sungai ini cuma mengalir deras saat musim hujan saja. Meski sering kelihatan "terputus", secara geologis sistem ini tetap satu kesatuan yang utuh sejak zaman Devonian.
Kok Bisa Awet Banget?
Keberuntungan Sungai Finke juga didukung oleh kondisi benua Australia yang relatif "santai" secara geologis. Australia jarang kena tabrakan lempeng tektonik yang ekstrem atau aktivitas vulkanik yang bisa ngacak-ngacak jalur sungai. Stabilitas inilah yang bikin Sungai Finke awet sampai ratusan juta tahun.
Tapi, gelar "si paling tua" ini bukan berarti Sungai Finke abadi selamanya. Saat ini, ancaman nyata justru datang dari perubahan iklim dan aktivitas manusia. Pemanasan global bikin wilayah Australia makin kering, dan kalau konsumsi air nggak dijaga, sejarah panjang sungai ini bisa saja berakhir di tangan kita.
Kalau suatu saat Sungai Finke benar-benar hilang, posisi sungai tertua bakal diambil alih oleh New River di Amerika Serikat yang umurnya "baru" sekitar 300 juta tahun.
Wah, kebayang nggak sih betapa berharganya tiap tetes air di Sungai Finke ini? Mengingat sejarahnya yang panjang, rasanya sayang banget kalau saksi bisu perjalanan bumi ini harus hilang begitu saja.
Gimana menurutmu, Gez? Tertarik buat mampir ke sungai "sepuh" ini suatu saat nanti? (Siti Zumrokhatun/E05)
